Panen Air Hujan Jadi Solusi Air Bersih di Gemawang
- 23 Jun 2026 17:05 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperkuat akses air bersih berkelanjutan bagi warga Padukuhan Gemawang, Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati, Sleman. Upaya tersebut diwujudkan melalui program HK WASH Infra (Water, Sanitation, and Hygiene Infrastructure) yang menjadi bagian dari gerakan konservasi sumber daya air “Nandur Tuk Banyu”.
Program hasil kolaborasi Yayasan Kinarya Anak Bangsa, PT Hutama Karya (Persero), dan tim teknis UGM ini telah resmi diserahterimakan kepada masyarakat. Prosesi penyerahan dilakukan oleh Kepala Unit Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Hutama Karya (Persero), Dianita Saraswati, serta dihadiri sejumlah pemangku kepentingan dari pemerintah daerah, akademisi, dan komunitas lingkungan.
Dalam pelaksanaannya, Departemen Teknik Sipil Sekolah Vokasi UGM berkontribusi pada aspek teknis, mulai dari tahap perencanaan hingga pendampingan implementasi di lapangan. Teknologi yang diterapkan menggabungkan Instalasi Pemanen Air Hujan (IPAH) Gama Rain Filter dengan sistem Reverse Osmosis (RO), sinar ultraviolet (UV), serta pengelolaan sumber mata air yang selama ini menjadi andalan masyarakat setempat.
Asisten Laboratorium dan Bengkel Kerja Hidrolika dan Lingkungan Departemen Teknik Sipil Sekolah Vokasi UGM, Pratama Tirza Surya Sembada, M.Sc., menjelaskan bahwa program tersebut lahir dari kajian mengenai kondisi sumber daya air di kawasan Gemawang.
“Selama ini masyarakat memanfaatkan sumber mata air yang berada di Sungai Code untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, saat musim kemarau panjang, debit air cenderung menurun sehingga berdampak pada ketersediaan air bagi warga,” kata Tirza, Selasa, 23 Juni 2026.
Hasil kajian juga menunjukkan bahwa sumber air yang selama ini dimanfaatkan warga terindikasi mengandung unsur besi (Fe). Karena itu, tim pengabdian memperkenalkan pemanfaatan air hujan sebagai sumber air alternatif yang memiliki kualitas baik dan tersedia secara berkelanjutan.
“Secara perlahan, masyarakat diberi edukasi sumber air alternatif yang memiliki kualitas baik untuk mencukupi kebutuhan air sehari-hari mereka, yaitu dengan air hujan,” katanya.
Selain menjawab kebutuhan air bersih, pemanenan air hujan juga diharapkan mampu mengurangi limpasan permukaan atau run off yang berpotensi menyebabkan banjir di kawasan padat penduduk. Pemilihan teknologi IPAH Gama Rain Filter didasarkan pada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa air hujan memiliki kualitas baik apabila ditangkap melalui media yang bersih.
Sistem tersebut dilengkapi tiga tahap penyaringan utama, yakni penyaring daun, penyaring debu kasar, dan penyaring debu halus. Untuk meningkatkan kualitas air, sistem kemudian dipadukan dengan teknologi RO dan UV guna menghilangkan bakteri maupun partikel mikroskopis yang masih tersisa.
“Air hujan sudah memiliki kualitas air yang bersih jika media tangkapnya, seperti atap, bersih. Oleh sebab itu, IPAH Gama Rain Filter dilengkapi tiga filtrasi utama, yaitu saringan penghalau daun, saringan debu kasar, dan saringan debu halus yang mampu membersihkan air hujan sehingga masuk dalam baku mutu air bersih hingga air minum,” kata Tirza.
Program HK WASH Infra juga mendukung inisiatif “Nandur Tuk Banyu” yang berfokus pada pelestarian sumber daya air sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin keenam mengenai akses air bersih dan sanitasi yang layak.
Menurut Tirza, pemanfaatan air hujan secara optimal menjadi salah satu solusi penting dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air. Selain itu, gerakan konservasi yang dijalankan mencakup pembangunan sumur resapan, biopori, jogangan air, serta penanaman vegetasi untuk menjaga keseimbangan siklus hidrologi.
“Program nandur tuk banyu selaras dengan program SDGs no 6 yaitu Penyediaan Akses Air Bersih. Mengoptimalkan potensi air hujan dapat menjadi salah satu upaya dalam menciptakan ketersediaan sumber daya air yang berkelanjutan,” kata Tirza.
Sebagai penggagas Gerakan Memanen Hujan Indonesia (GMHI), UGM memandang program ini sebagai bentuk nyata penerapan inovasi berbasis ilmu pengetahuan untuk menjawab tantangan pengelolaan air di tingkat masyarakat.
“Ke depan, tidak ada lagi daerah yang ketika musim penghujan mengalami banjir, tetapi ketika kemarau butuh bantuan air,” ujar Tirza.
Founder Yayasan Kinarya Anak Bangsa, Rosita Yuwanasari Suwardi Wibawa, menyebut program ini mengusung semangat “Nandur Tuk Banyu” yang telah terdaftar sebagai SDGs Action #51577. Selain penyediaan air bersih, program juga menitikberatkan pada konservasi lingkungan melalui perlindungan sumber mata air dan penanaman pohon di kawasan hulu maupun hilir.
Sementara itu, Kepala Unit TJSL PT Hutama Karya (Persero), Dianita Saraswati, menegaskan bahwa HK WASH Infra merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menghadirkan infrastruktur yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus mendukung kelestarian lingkungan.
Bupati Sleman Harda Kiswaya turut mengapresiasi sinergi antara perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat dalam menghadirkan solusi atas kebutuhan dasar warga.
“Program ini sejalan dengan upaya Pemerintah Kabupaten Sleman dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui penyediaan infrastruktur dasar yang memadai,” ujarnya.
Melalui kolaborasi berbagai pihak, program HK WASH Infra di Padukuhan Gemawang menjadi contoh penerapan teknologi dan inovasi berbasis ilmu pengetahuan yang mampu mendukung akses air bersih, menjaga kelestarian lingkungan, serta mendorong pembangunan berkelanjutan yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....