BMKG Prediksi Fenomena El Nino Akibatkan Kemarau Lebih Kering

  • 20 Jun 2026 20:24 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Stasiun Klimatologi Yogyakarta memprediksi musim kemarau 2026 di DIY berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal. Kondisi ini dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang diperkirakan bertahan hingga akhir tahun dan berpotensi meningkat menjadi kategori kuat.

Kepala Stasiun Klimatologi Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan sejumlah indikator atmosfer dan laut menunjukkan peluang berkurangnya curah hujan di wilayah DIY dalam beberapa bulan mendatang.

Angin di wilayah selatan ekuator Indonesia saat ini didominasi Monsun Australia yang aktif. Sementara, fenomena El Nino berada pada level moderat dan diprediksi bertahan hingga Desember 2026. Bahkan, peluang peningkatan menjadi El Nino kuat mencapai sekitar 86 persen.

Di sisi lain, fenomena Dipole Mode Index (DMI) yang saat ini masih netral diperkirakan berubah menjadi positif mulai Agustus-Desember 2026. Kondisi tersebut berpotensi semakin mengurangi pembentukan awan hujan di Indonesia bagian selatan, termasuk DIY.

Berdasarkan prediksi BMKG, curah hujan pada Juli-September 2026 diperkirakan berada pada kategori rendah, yakni hanya berkisar 0 hingga 20 milimeter per bulan. Selain itu, sifat hujan selama periode tersebut diprediksi berada di bawah normal.

"Kondisi ini menunjukkan musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis," kata Reni melalui keterangan tertulis, Jumat, 20 Juni 2026.

BMKG juga memperkirakan puncak musim kemarau di seluruh zona musim (ZOM) di DIY akan terjadi pada Agustus 2026. Sementara akhir musim kemarau diprediksi berlangsung pada dasarian pertama hingga kedua November 2026.

Secara keseluruhan, sifat hujan pada musim kemarau 2026 diprediksi didominasi kategori bawah normal di sebagian besar wilayah DIY. Adapun total curah hujan selama musim kemarau diperkirakan berkisar antara 250 hingga 400 milimeter.

Reni mengimbau pemerintah daerah, instansi terkait, serta masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi dampak kekeringan meteorologis. Risiko yang perlu diantisipasi antara lain berkurangnya ketersediaan air bersih, meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan, serta gangguan pada sektor pertanian.

BMKG juga meminta petani menyesuaikan pola tanam dan mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air guna mengurangi risiko gagal panen, terutama di wilayah yang selama ini rentan mengalami kekeringan.

“Masyarakat diimbau terus memantau perkembangan informasi cuaca dan iklim melalui kanal resmi BMKG sebagai dasar pengambilan langkah antisipasi selama musim kemarau berlangsung,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....