Dinkes PBD Perkuat Layanan Kesehatan Reproduksi lewat Workshop IVA dan Pap Smear

  • 18 Jun 2026 18:56 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong - Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Provinsi Papua Barat Daya memperkuat kapasitas tenaga kesehatan melalui Workshop IVA, Pap Smear, dan Sadanis. Hal ini berguna untuk meningkatkan upaya deteksi dini kanker serviks dan kanker payudara, yang masih menjadi penyebab utama kematian perempuan di Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung di Rylich Panorama Hotel Kota Sorong, Kamis, 18 Juni 2026, diikuti 35 dokter dan bidan dari lima kabupaten dan satu kota di Papua Barat Daya. Workshop dijadwalkan berlangsung selama tiga hari hingga 20 Juni 2026 dengan menghadirkan narasumber dari Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Ikatan Dokter Bedah Indonesia (IKABI), serta Dinkes PPKB Papua Barat Daya.

Pimpinan dan staff Dinkes Papua Barat Daya bersama pemateri.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Papua Barat Daya, dr. Jan Pieter Kambu, Sp.OG, Subsp.FER, mengatakan peningkatan kemampuan tenaga kesehatan menjadi langkah penting untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat kanker serviks maupun kanker payudara.

Menurutnya, kanker serviks merupakan penyakit yang dapat dicegah apabila ditemukan sejak dini melalui pemeriksaan IVA Test maupun Pap Smear. Namun, masih banyak perempuan yang tidak melakukan pemeriksaan karena merasa tidak memiliki keluhan atau merasa malu untuk memeriksakan diri.

“Kanker serviks itu adalah kanker yang harusnya dapat dicegah dengan meningkatkan deteksi dini. Deteksi dini bukan hanya menjadi bagian dokter spesialis kandungan, tetapi harus menjadi bagian kita semua, terutama teman-teman bidan di lapangan,” kata dr. Jan Pieter saat membuka kegiatan.

Ia menilai bidan memiliki peran strategis dalam meningkatkan cakupan pemeriksaan karena menjadi tenaga kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat. Karena itu, kemampuan bidan dalam melakukan edukasi, pemeriksaan IVA, maupun pengambilan sediaan Pap Smear perlu terus diperkuat.

Jan Pieter mengungkapkan, berdasarkan catatan Dinkes Papua Barat Daya, selama 10 bulan pada tahun sebelumnya terdapat 38 pasien kanker yang dirujuk keluar daerah untuk mendapatkan pengobatan lanjutan. Angka tersebut hanya mencakup pasien yang memiliki kemampuan ekonomi untuk menjalani pengobatan di luar Papua Barat Daya.

“Yang sering kami temukan, pasien datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi stadium lanjut. Karena itu deteksi dini harus terus ditingkatkan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan peluang kesembuhan lebih besar,” ujarnya.

Ia menambahkan, Papua Barat Daya kini telah memiliki fasilitas kesehatan dan tenaga medis yang semakin memadai untuk mendukung pelayanan kanker, termasuk dokter spesialis Patologi Anatomi dan dokter spesialis kandungan yang mampu menangani kasus kanker serviks pada stadium awal.

Sementara itu, Ketua Panitia Workshop, Bdn. Martince Sikirit, S.Tr.Keb., M.Keb, mengatakan kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari Program Nasional Pencegahan dan Pengendalian Kanker serta Rencana Kerja Dinkes PPKB Papua Barat Daya Tahun 2026.

Ketua Panitia Workshop, Bdn. Martince Sikirit, S.Tr.Keb., M.Keb, saat membacakan laporan.

Menurutnya, pemeriksaan IVA, Pap Smear, dan Sadanis merupakan metode deteksi dini yang efektif untuk menemukan kelainan sejak awal sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum penyakit berkembang menjadi lebih berat. “Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi tenaga dokter dan bidan dalam pelaksanaan deteksi dini kanker serviks dan kanker payudara di Papua Barat Daya,” katanya.

Martince menjelaskan bahwa pelayanan deteksi dini melalui pemeriksaan IVA dan Sadanis sebenarnya sudah dapat dilakukan oleh tenaga bidan di fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti puskesmas maupun fasilitas pelayanan kesehatan dasar lainnya. “Melalui workshop ini kami ingin memperkuat kemampuan teman-teman bidan agar semakin percaya diri dan kompeten dalam memberikan pelayanan IVA dan Sadanis.

Pelayanan tersebut dapat dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama sehingga masyarakat tidak harus menunggu dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan awal,” ujarnya.

Kepala Dinkes PBD bersama pemateri dan perwakilan peserta workshop foto bersama.

Melalui workshop tersebut, Dinkes Papua Barat Daya berharap tenaga kesehatan di seluruh kabupaten dan kota mampu menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan dan deteksi dini kanker, sekaligus membantu menekan angka kematian perempuan akibat kanker serviks dan kanker payudara di Papua Barat Daya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....