Teladani Nabi Ibrahim Mendidik Anak di Era Digital
- 09 Jun 2026 06:33 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Keteladanan Nabi Ibrahim AS dalam menjaga fokus mendidik anak di tengah berbagai tantangan kehidupan menjadi pelajaran penting bagi orang tua masa kini. Di era digital yang penuh distraksi, pendidikan anak tetap harus menjadi prioritas utama dalam keluarga agar lahir generasi yang kuat iman, berakhlak mulia, dan dekat dengan Allah SWT.
Pesan tersebut disampaikan Dai Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF) Surabaya, Ustaz Adhan Sanusi dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Surabaya bertema "Mendidik Anak di Era Digital: Menjaga Iman di Tengah Tantangan Zaman", Selasa 9 Juni 2026. Menurut Ustaz Adhan, salah satu harapan terbesar setiap orang tua adalah memiliki anak yang saleh dan salehah.
Sebab, anak yang tumbuh dalam keimanan tidak hanya menjadi kebahagiaan di dunia, tetapi juga menjadi amal yang terus mengalir bagi orang tuanya setelah meninggal dunia. "Harapan terbesar setelah kita meninggal dunia adalah memiliki anak yang saleh yang terus mendoakan orang tuanya. Anak saleh tidak lahir begitu saja, tetapi harus dipersiapkan dan dididik sejak sekarang," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Al-Qur'an memberikan teladan melalui kisah Nabi Ibrahim AS. Ketika menempatkan istrinya, Siti Hajar, dan putranya, Ismail AS, di lembah tandus di sekitar Baitullah, fokus utama Nabi Ibrahim bukanlah urusan duniawi, melainkan keselamatan iman dan masa depan keturunannya.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 37: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati agar mereka melaksanakan salat." (QS. Ibrahim: 37).
Menurut Ustaz Adhan, ayat tersebut menunjukkan bahwa perhatian terbesar Nabi Ibrahim adalah memastikan anak dan keturunannya tetap berada dalam jalan ketaatan kepada Allah SWT. "Ini menjadi isyarat penting bahwa fokus seorang ayah adalah mendidik anaknya agar dekat dengan Allah. Nabi Ibrahim tidak pertama kali berbicara tentang kekayaan atau kesuksesan dunia, tetapi tentang bagaimana keturunannya tetap menjaga salat dan keimanannya," katanya.
Keteladanan serupa juga ditunjukkan oleh Siti Hajar. Saat Ismail membutuhkan air, Siti Hajar berlari bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah untuk mencari pertolongan. Peristiwa tersebut menjadi gambaran tentang besarnya perhatian dan pengorbanan orang tua dalam memenuhi kebutuhan anak-anaknya.
Namun, menurut Ustad Adhan, tantangan yang dihadapi orang tua saat ini berbeda dengan generasi sebelumnya. Kehadiran gadget, media sosial, dan berbagai kesibukan sering kali mengalihkan fokus orang tua dari tugas utamanya sebagai pendidik.
| Baca juga: Peran Ayah dan Ibu Tuju Generasi Emas |
"Kadang kita duduk bersama dalam satu ruangan, tetapi tidak saling berbicara. Masing-masing sibuk dengan gawainya. Secara fisik dekat, tetapi secara komunikasi dan perhatian justru jauh," ucapnya.
Ia menilai banyak orang tua yang tanpa disadari kehilangan waktu berharga untuk mendampingi tumbuh kembang anak karena perhatian mereka terbagi oleh berbagai aktivitas dan teknologi digital. "Fokus kita hari ini banyak dicuri oleh gadget, media sosial, pekerjaan, dan berbagai kesibukan lainnya. Jika orang tua tidak meniatkan dirinya untuk benar-benar mendidik anak, maka fokus itu akan semakin hilang," katanya.
Ustaz Adhan menegaskan bahwa setiap zaman memiliki tantangannya masing-masing. Namun, tolok ukur keberhasilan orang tua tetap sama, yakni sejauh mana mereka mampu membentuk generasi yang beriman, berakhlak baik, dan memiliki hubungan yang kuat dengan Allah SWT.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kesalehan anak tidak dapat dibangun hanya melalui nasihat dan kata-kata. Anak-anak justru lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari.
"Kesalehan tidak diajarkan melalui kata-kata semata, tetapi melalui sikap, keteladanan, dan doa orang tua. Anak melihat bagaimana orang tuanya menjaga salat, berdoa, bersikap jujur, menjaga amanah, dan menjaga hubungan dengan Allah. Itulah pendidikan yang paling kuat," ujarnya.
Ia menambahkan, Nabi Ibrahim AS tidak hanya mendoakan anak-anaknya, tetapi juga memohon kepada Allah agar dirinya terlebih dahulu menjadi pribadi yang taat. Allah SWT berfirman: "Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat." (QS. Ibrahim: 40).
Menurut Ustaz Adhan, ayat tersebut mengajarkan bahwa sebelum berharap memiliki anak yang saleh, orang tua harus terlebih dahulu berupaya memperbaiki kualitas dirinya dan hubungannya dengan Allah SWT. "Kadang kita terlalu sibuk memperbaiki anak, tetapi lupa memperbaiki diri sendiri. Padahal selama orang tua menjaga kesalehannya, menjaga salatnya, dan menjaga hubungannya dengan Allah, maka insya Allah anak-anak juga akan mendapatkan penjagaan dari Allah SWT," tuturnya.
Pesan tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah SAW: "Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR Muslim No. 1631). Di akhir tausiyahnya, Ustaz Adhan mengajak para orang tua untuk kembali menempatkan pendidikan anak sebagai prioritas utama di tengah berbagai tantangan era digital.
Menurutnya, kesuksesan dan kebahagiaan orang tua sejatinya tidak hanya diukur dari pencapaian materi, tetapi juga dari keberhasilan menghadirkan generasi yang saleh dan berakhlak mulia. "Jangan sampai fokus kita dicuri oleh gadget, media sosial, atau kesibukan dunia. Anak-anak membutuhkan kehadiran orang tuanya. Ketika orang tua menjaga kesalehan dirinya, memberikan teladan yang baik, dan tidak pernah lelah mendoakan anak-anaknya, maka itulah ikhtiar terbaik untuk melahirkan generasi saleh yang menjadi kebahagiaan di dunia dan penyelamat bagi orang tuanya di akhirat," tuturnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....