Gus Yahya Dorong Transformasi Pesantren Hadapi Era Disrupsi

  • 08 Jun 2026 19:32 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, mendorong pesantren di Indonesia untuk bertransformasi agar mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai pusat pendidikan dan pembinaan umat. Hal itu disampaikan Gus Yahya saat membuka Workshop Pengasuh Pesantren se-Indonesia Angkatan III di Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, Jawa Barat.

Kegiatan yang digagas Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, KH Imam Jazuli, itu diikuti sekitar 150 pengasuh pesantren dari berbagai daerah di Jawa Barat dan merupakan bagian dari program Workshop 5.000 Pengasuh Pesantren Se-Indonesia. Menurut Gus Yahya, pesantren harus mampu merespons perubahan yang terjadi di berbagai bidang kehidupan, sekaligus tetap menjaga kekuatan spiritual yang menjadi ciri khasnya.

"Di tengah perubahan saat ini, para kiai harus tetap menghidupkan quwwah ruhaniyah atau kekuatan spiritual pesantren sebagai pilar untuk melahirkan kader-kader yang menjadi kekuatan peradaban," ujarnya.

Gus Yahya menegaskan, para ulama telah mewariskan nilai-nilai yang menjadikan pesantren tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga pusat pembinaan moral dan penjagaan umat. Sementara itu, KH Imam Jazuli mengatakan workshop tersebut lahir dari kebutuhan untuk memperkuat kapasitas pesantren dalam menghadapi perubahan yang berlangsung semakin cepat.

Menurutnya, disrupsi teknologi, perubahan sosial, hingga pergeseran kebutuhan masyarakat menuntut pesantren untuk lebih adaptif. Ia menilai minat masyarakat terhadap pesantren tidak menurun, melainkan mengalami pergeseran ke model pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman.

"Terjadi migrasi dari pesantren model lama ke pesantren model baru. Banyak pesantren yang usianya belum 10 tahun tetapi jumlah santrinya meningkat pesat. Ini menunjukkan pentingnya kemampuan merespons perubahan," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Imam Jazuli juga menekankan pentingnya membangun semangat kolaborasi di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Menurutnya, tantangan besar pada abad kedua NU tidak dapat diselesaikan oleh individu atau kelompok tertentu, melainkan membutuhkan kerja bersama seluruh elemen organisasi.

Ia mengajak seluruh kader NU mengedepankan semangat "nahnu" atau "kita" untuk memperkuat kolaborasi antar ulama, akademisi, profesional, hingga generasi muda dalam menghadapi tantangan masa depan. "Kita harus menjadi super tim yang solid. Kelemahan satu kader ditutupi oleh kelebihan kader lainnya. Tidak ada lagi ruang untuk berjalan sendiri-sendiri atau saling meniadakan," katanya.

Menurut Imam Jazuli, penguatan kolaborasi, digitalisasi, serta kemandirian ekonomi umat menjadi langkah penting agar pesantren dan NU mampu terus berkontribusi dalam pembangunan peradaban di tengah era disrupsi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....