Nawasena: Bujangga Manik Hidup Kembali Melalui Seni Berbasis Riset
- 06 Jun 2026 13:01 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Di tengah derasnya arus seni visual yang kerap terjebak dalam estetika permukaan, Pameran Seni Rupa Nawasena yang berlangsung 1–7 Juni 2026 di Galeri Seni SOS Babakan Siliwangi Bandung menghadirkan tawaran berbeda. Pameran ini tidak sekadar memamerkan karya seni, melainkan memperlihatkan bagaimana penelitian akademik dapat menjelma menjadi praktik artistik yang relevan, kritis, dan berdampak bagi masyarakat.
Menariknya, salah satu titik berangkat pameran ini adalah pembacaan ulang terhadap naskah kuno Bujangga Manik, karya sastra Sunda dari masa lalu yang selama ini lebih banyak dibicarakan dalam lingkup filologi dan sejarah. Melalui eksplorasi visual yang dilakukan para peneliti-perupa, Bujangga Manik yang diteliti oleh Ariesa Pandanwangi dan timnya tidak lagi hadir sebagai dokumen masa lalu yang beku, melainkan sebagai sumber pengetahuan budaya yang terus hidup dan memantik tafsir baru.
Di sinilah letak provokasi intelektual Pameran Nawasena. Ketika sebagian masyarakat memandang warisan budaya sebagai artefak yang harus disimpan di museum, para peneliti justru menggunakannya sebagai bahan bakar penciptaan karya kontemporer. Bujangga Manik diposisikan bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai perangkat membaca masa depan.
Pameran ini menghadirkan karya hasil penelitian Prof. Dr. Sri Rustiyanti, M.Sn., Dr. Wanda Listiani, M.Ds., Ariesa Pandanwangi, Supriatna, dan Ika Ismurdiyahwati. Mereka merupakan akademisi dan pendidik seni dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Universitas Kristen Maranatha, dan Universitas Adibuana Surabaya.
Dalam pertemuan di sela pembukaan pameran, Sri Rustiyanti dan Wanda Listiani menjelaskan bahwa pameran ini merupakan ruang dialog antara hasil penelitian dan praktik artistik yang dilakukan sejak 2023 hingga 2026. Tajuk “Nawasena” dimaknai sebagai harapan menuju masa depan yang lebih baik. Makna tersebut terasa penting dalam konteks perkembangan seni rupa Indonesia hari ini.
Ketika banyak karya berupaya mengejar sensasi visual dan popularitas digital, Nawasena justru menawarkan kedalaman proses. Setiap karya lahir dari penelitian, pengumpulan data, pembacaan folklor, kajian kearifan lokal, hingga refleksi terhadap persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.
Eksplorasi medium yang ditampilkan memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi jembatan antara pengetahuan akademik dan pengalaman publik. Karya-karya yang dipamerkan tidak hanya mengundang apresiasi estetis, tetapi juga mengajak pengunjung mempertanyakan hubungan manusia dengan tradisi, identitas budaya, dan perubahan sosial.
Pembukaan pameran pada Senin, 1 Juni 2026, dilakukan oleh Anggota DPR RI Komisi X, Melly Goeslaw. Menurutnya, pameran ini memberikan kontribusi bagi pendidikan budaya sekaligus menawarkan perspektif baru dalam perkembangan seni budaya Indonesia.
“Karya seni tidak hanya memberikan ruang kreatif tetapi juga merupakan pendekatan kritis untuk menyampaikan gagasan tentang persoalan masyarakat kepada pemerintah dengan kacamata yang berbeda,” ujar Melly.
Pandangan serupa disampaikan kurator pameran, Rahmat Jabaril. Ia menilai karya Sri Rustiyanti dan Wanda Listiani memperlihatkan bagaimana penelitian dapat menjadi fondasi penting dalam penciptaan seni rupa kontemporer.
“Karya berbasis penelitian yang didanai Kemendiktisaintek melalui Skema Penelitian Fundamental tidak hanya menawarkan pengalaman visual, tetapi juga menyampaikan temuan reflektif yang relevan dengan berbagai persoalan masyarakat saat ini,” kata Rahmat, Sabtu 6 Juni 2026.
Apresiasi terhadap pameran juga datang dari Ketua LPPM ISBI Bandung, Prof. Dr. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum., serta Anggota DPR RI Komisi I, Nurul Arifin, yang hadir pada 2 Juni 2026. Kehadiran Nurul Arifin dinilai sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan ekosistem seni berbasis penelitian di Indonesia.
“Praktik seni berbasis riset memiliki peran strategis dalam pengembangan pengetahuan sekaligus diplomasi budaya Indonesia di tingkat nasional maupun internasional,” kata Nurul.
Lebih jauh, Nawasena menunjukkan bahwa penelitian tidak harus berhenti pada laporan akademik atau jurnal ilmiah. Hasil riset dapat diterjemahkan menjadi pengalaman visual yang lebih mudah diakses masyarakat luas. Inilah bentuk demokratisasi pengetahuan yang selama ini masih menjadi pekerjaan rumah perguruan tinggi.
Sri Rustiyanti menegaskan bahwa momentum kehadiran Melly Goeslaw dan Nurul Arifin menjadi dorongan bagi akademisi untuk terus menghasilkan luaran penelitian yang berdampak nyata. Salah satu fokus pengembangan tersebut adalah penelitian yang berkaitan dengan atlet pencak silat Indonesia.
Pameran ini juga memperlihatkan komitmen regenerasi pengetahuan melalui pendampingan peneliti muda. Ellysia Alenda dan Priyanka Azura Dilla Riezquita dari SMA Negeri 8 Jakarta tengah melakukan penelitian untuk Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia 2026 bersama tim akademisi lintas perguruan tinggi.
Dengan demikian, Nawasena bukan sekadar pameran seni. Ia adalah pernyataan bahwa masa depan seni Indonesia tidak cukup dibangun oleh kreativitas semata, tetapi juga oleh penelitian yang serius, kolaborasi lintas disiplin, dan keberanian membaca ulang warisan budaya seperti Bujangga Manik sebagai sumber gagasan yang terus relevan bagi zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....