Sidoarjo Percepat Eliminasi TB, Tracing Terus Diperkuat

  • 05 Jun 2026 13:12 WIB
  •  Surabaya

‎RRI.CO.ID, Sidoarjo - Pemerintah Kabupaten Sidoarjo memasang target ambisius dalam penanganan tuberkulosis (TB). Jika pemerintah pusat menargetkan eliminasi TB pada 2030, Sidoarjo berupaya mewujudkannya dua tahun lebih cepat, yakni pada 2028.

‎Wakil Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo, Bangun Winarso, mengatakan percepatan eliminasi TB menjadi penting karena penyakit tersebut masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi akibat penyakit menular. Menurutnya, keberhasilan penanganan TB tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

‎“TB itu termasuk penyakit menular yang peringkat kedua penyebab kematian. Ketika seseorang menderita TB, imunnya juga menurun sehingga risikonya cukup tinggi,” ujar Bangun, Jumat 5 Juni 2026.

‎Berdasarkan hasil pelacakan kasus yang dilakukan Dinas Kesehatan bersama puskesmas, kader kesehatan, dan fasilitas kesehatan lainnya, jumlah penderita TB yang terdeteksi di Sidoarjo saat ini mencapai sekitar 5.800 hingga 6.200 orang. Data tersebut menjadi dasar penguatan strategi penanganan sekaligus upaya pencegahan penyebaran penyakit di masyarakat.

‎Menurut Bangun, salah satu tantangan terbesar dalam pengendalian TB adalah tingginya tingkat penularan. Satu penderita TB aktif berpotensi menularkan penyakit kepada banyak orang, terutama mereka yang berada dalam kontak erat sehari-hari.

‎“Yang paling rentan tertular itu keluarga di dalam rumah. Kalau 15 sampai 20 orang ini juga tertular, maka berpotensi menularkan ke orang lain. Ini tantangan,” katanya.

‎Karena itu, Pemkab Sidoarjo terus memperkuat layanan kesehatan sekaligus memperluas kegiatan tracing atau pelacakan kasus. Seluruh fasilitas kesehatan, baik milik pemerintah maupun swasta, dilibatkan untuk memastikan penderita dapat terdeteksi lebih cepat dan memperoleh pengobatan yang tepat.

‎“Target pemerintah pusat eliminasi TB itu tahun 2030, tetapi Sidoarjo ingin lebih cepat, yakni 2028. Karena itu layanan kesehatan baik milik pemerintah maupun swasta kami kerahkan untuk mempermudah pelayanan penderita TB,” ujarnya.

‎Selain pengobatan, edukasi kepada masyarakat juga terus digencarkan. Penderita TB diingatkan agar menjalani pengobatan secara rutin minimal selama enam bulan, menggunakan masker saat beraktivitas, menjaga kebersihan lingkungan, serta menerapkan etika batuk dan bersin untuk mencegah penularan.

‎“Penderita TB tidak boleh berhenti berobat. Minimal enam bulan harus rutin. Selain itu harus menjaga kesehatan agar tidak menularkan kepada anggota keluarga lainnya,” tegas Bangun.

‎Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma negatif kepada penderita TB. Menurutnya, dukungan keluarga dan lingkungan sekitar sangat berpengaruh terhadap keberhasilan proses penyembuhan pasien.

‎“Jangan mengucilkan penderita TB. Yang penting kita sama-sama menjaga. Kalau mereka tidak dikucilkan, semangat sembuhnya juga lebih tinggi,” katanya.

‎Saat ini, penanganan TB di Sidoarjo didukung sekitar 170 fasilitas kesehatan yang terdiri dari 31 puskesmas dan lebih dari 100 puskesmas pembantu yang tersebar di berbagai wilayah. Dengan dukungan infrastruktur kesehatan yang cukup memadai, pemerintah kini fokus memperkuat tracing dan meningkatkan kesadaran masyarakat agar target eliminasi TB pada 2028 dapat tercapai.

‎Bangun menambahkan, meningkatnya jumlah kasus TB yang ditemukan dalam beberapa tahun terakhir tidak selalu menunjukkan peningkatan penularan. Kondisi tersebut juga dipengaruhi semakin masifnya pelacakan kasus di lapangan sehingga lebih banyak penderita yang berhasil teridentifikasi dan mendapatkan pengobatan.

‎“Karena kinerja tim di lapangan semakin gencar, maka penderita TB yang ditemukan juga semakin banyak. Artinya tracing sudah berjalan,” katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....