Etika Bermedia Sosial dalam Islam Harus Dijaga

  • 02 Jun 2026 06:41 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Program Tanjung Perak Pagi, Cahaya Pagi yang disiarkan pada Selasa, 2 Juni 2026 mengangkat topik mengenai etika bermedia sosial dalam perspektif Islam. Dalam dialog tersebut, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Sawahan Kementerian Agama Kota Surabaya, Ustaz Gazali, menjelaskan pentingnya menjaga adab digital agar media sosial menjadi sarana kebaikan, bukan sumber mudarat.

Ustaz Gazali menjelaskan bahwa etika bermedia sosial dalam Islam harus dimulai dengan meluruskan niat. Menurutnya, setiap aktivitas di dunia maya perlu didasari tujuan yang baik, seperti menyebarkan ilmu, mempererat silaturahmi, maupun berdakwah.

“Dalam Islam, niat merupakan hal yang paling utama sehingga perbuatan baik bisa menjadi buruk jika niatnya salah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa media sosial seharusnya dimanfaatkan untuk menyebarkan kebaikan dan mencegah keburukan. Ustaz Gazali mengutip firman Allah dalam Q.S. Ali Imran ayat 110 tentang kewajiban amar ma’ruf nahi munkar.

“Media sosial harus diupayakan sebisa mungkin sebagai sarana pengumpul pahala, baik dengan menjalin silaturahmi maupun sebagai sarana berdakwah untuk mengajak orang pada kebaikan,” jelasnya.

Selain itu, Ustadz Gazali mengingatkan pentingnya menjaga lisan digital dan menghindari penghinaan, ujaran kebencian, maupun komentar negatif di media sosial. Menurutnya, setiap unggahan, komentar, maupun unggahan ulang akan dipertanggungjawabkan.

“Jari di dunia medsos bagaikan lisan di dunia nyata,” katanya seraya mengingatkan agar masyarakat lebih selektif sebelum berkomentar atau membagikan informasi.

Dalam penggunaan media sosial, prinsip tabayyun atau verifikasi informasi juga harus diterapkan. Ustaz Gazali menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh mudah percaya terhadap berita yang belum jelas sumbernya.

Ia merujuk pada Q.S. Al-Hujurat ayat 6 yang mengajarkan umat Islam untuk memeriksa kebenaran berita sebelum menyebarkannya agar tidak menimbulkan fitnah maupun konflik sosial. Lebih lanjut, ia menyoroti bahaya ghibah, fitnah, hingga cyberbullying yang kerap terjadi di dunia maya.

Menurutnya, perilaku menjelekkan orang lain, menyebarkan aib, maupun menghina pihak tertentu bertentangan dengan ajaran Islam. “Jika yang kita tulis tidak menambah manfaat, lebih baik diam,” ucapnya tegas.

Selain menjaga perilaku, Ustaz Gazali juga mengingatkan pentingnya mengatur waktu dalam menggunakan media sosial agar tidak menimbulkan kecanduan. Ia menyarankan masyarakat menerapkan prinsip keseimbangan atau Al-Mizan, salah satunya dengan menjadikan waktu salat sebagai batas jeda dari penggunaan gawai.

“Waktu adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, sehingga media sosial jangan sampai membuat lalai,” ujarnya.

Sebagai penutup, Ustadz Gazali menegaskan bahwa media sosial merupakan alat netral yang bisa bernilai ibadah jika digunakan dengan benar. Ia mengajak masyarakat menjadikan media sosial sebagai sarana dakwah, mempererat ukhuwah, dan menyebarkan manfaat.

“Setiap jejak digital akan dimintai pertanggungjawaban, maka gunakan media sosial untuk memperluas kebaikan dan menjaga akhlak,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....