Medsos Edukasi atau Hiburan? Psikolog NTB Minta Orang Tua Lebih Bijak

  • 29 Mei 2026 17:58 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – Penggunaan media sosial pada anak dinilai tidak bisa disamaratakan sebagai sesuatu yang sepenuhnya buruk. Psikolog Klinis BNNP NTB, Wahyu Hasni Ilmi, mengatakan media sosial tetap memiliki manfaat apabila digunakan untuk kebutuhan edukasi dan pengembangan diri.

Di tengah meningkatnya penggunaan gadget pada anak, masyarakat dinilai perlu memahami perbedaan antara media sosial sebagai teknologi dan media sosial sebagai sarana konsumsi hiburan. Kedua bentuk penggunaan tersebut disebut memiliki dampak yang berbeda terhadap perkembangan anak.

“Kalau media sosial sebagai teknologi, anak bisa belajar, mencari informasi, dan mengembangkan dirinya. Tetapi kalau hanya sebagai media konsumsi hiburan, itu yang perlu dibatasi,” ujar Wahyu, Jumat 29 Mei 2026.

Menurutnya, media sosial sebagai sarana edukasi masih dapat memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan berpikir dan kreativitas anak. Anak bahkan bisa memanfaatkan internet untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.

Namun, penggunaan media sosial yang hanya berorientasi pada hiburan dinilai berpotensi memicu ketergantungan. Anak yang terlalu lama mengonsumsi konten hiburan disebut lebih mudah mengalami perubahan emosi.

“Konten hiburan yang dikonsumsi terus-menerus bisa memengaruhi emosi, perilaku, bahkan cara berpikir anak. Itu sebabnya perlu ada batasan dan pengawasan,” katanya.

Wahyu menjelaskan bahwa saat ini masih banyak anak yang menggunakan akun media sosial milik orang dewasa. Kondisi tersebut membuat pembatasan usia di sejumlah platform digital menjadi sulit diterapkan secara maksimal.

Ia menilai kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam mengontrol penggunaan media sosial pada anak-anak. Karena itu, peran orang tua dianggap sangat penting dalam mengawasi aktivitas digital anak.

“Pengawasan dari keluarga harus diperkuat. Jangan sampai anak dibiarkan mengakses media sosial tanpa kontrol dan pendampingan,” jelasnya.

Selain pengawasan, Wahyu juga mendorong adanya edukasi digital bagi orang tua. Menurutnya, banyak orang tua yang masih belum memahami dampak jangka panjang penggunaan media sosial secara berlebihan.

Ia mengatakan pembatasan media sosial seharusnya tidak hanya berfokus pada larangan penggunaan aplikasi. Edukasi tentang cara menggunakan media sosial secara sehat juga perlu diperkuat.

“Yang paling penting sebenarnya bukan sekadar melarang, tetapi bagaimana anak diajarkan menggunakan media sosial dengan bijak dan bertanggung jawab,” ungkapnya.

Wahyu berharap perkembangan teknologi tidak membuat anak kehilangan keseimbangan dalam kehidupan sosial dan emosionalnya. Menurutnya, media sosial tetap harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan kebutuhan utama dalam kehidupan anak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....