Makna Kurban di Era Digital, Refleksi Diri dan Pengendalian Ego
- 26 Mei 2026 18:40 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Di tengah era digital saat ini, kehidupan sering kali tampak sempurna melalui media sosial yang penuh senyum dan kebahagiaan. Namun di balik itu, banyak individu, terutama anak muda, menyimpan kegelisahan, kelelahan mental, hingga perasaan tidak cukup dibandingkan orang lain.
Dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Saniah, M.Ag, menjelaskan bahwa kurban tidak hanya dimaknai sebagai ritual tahunan, tetapi juga sebagai momentum refleksi diri bagi setiap manusia. Hal tersebut disampaikannya dalam dialog siaran keagamaan RRI Pro2 Banjarmasin, Selasa, 26 Mei 2026.
Saniah menilai fenomena tersebut tidak lepas dari budaya perbandingan. Budaya ini semakin meluas di era modern.
“Dulu sebelum adanya sosmed orang membandingkan hidup dengan tetangga,” ujarnya. “Sekarang dengan seluruh dunia yang ada di layar hape kita.”
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan penyakit hati yang tidak terlihat, namun berdampak besar pada kehidupan seseorang. Penyakit hati seperti iri, dengki, sombong, hingga ketergantungan pada penilaian manusia menjadi sumber kegelisahan batin.
Dalam konteks ini, kurban memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar menyembelih hewan pada hari raya. Kurban mengajarkan manusia untuk menundukkan ego, mengendalikan keinginan duniawi, serta mengutamakan Allah Swt dalam setiap aspek kehidupan.
Kisah Nabi Ibrahim as menjadi contoh nyata bagaimana kurban menguji keikhlasan dan ketundukan seorang hamba kepada Tuhan. Dari kisah tersebut, manusia diajarkan bahwa mencintai dunia boleh saja, tetapi tidak boleh sampai diperbudak olehnya.
Saniah menegaskan bahwa kurban sejatinya merupakan membersihkan hati. Proses tersebut dari berbagai penyakit yang mengotori jiwa manusia.
“Pisau kurban itu bukan hanya untuk hewan,” katanya. “Tetapi pelajaran pentingnya adalah bagaimana manusia menundukkan ego dan memperbaiki hati.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....