DKPP Sumenep Pastikan Dukungan Sarana Tembakau Hadapi Musim Tanam
- 19 Mei 2026 11:46 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep memastikan kesiapan petani tembakau dalam menghadapi musim tanam 2026. Selain kondisi cuaca yang diprediksi lebih mendukung, dukungan sarana produksi juga mulai disiapkan pemerintah.
Kabid Sarana Pertanian DKPP Sumenep, Rina Suryandari, mengatakan petani tahun ini menunjukkan antusiasme tinggi untuk kembali menanam tembakau. Hal itu didorong oleh prediksi musim kemarau yang lebih panjang dibanding tahun sebelumnya.
“Petani sepertinya sudah tidak sabar untuk tanam tembakau. Cuaca insya Allah berpihak, karena kemarau diprediksi lebih panjang dan tidak seperti tahun kemarin yang kemarau basah,” ujarnya 19 Mei 2026.
Berdasarkan pantauan di lapangan, hampir seluruh kecamatan sentra tembakau di Sumenep telah memulai persiapan, bahkan sebagian sudah masuk tahap tanam. Secara umum, waktu tanam saat ini dinilai ideal agar masa panen bisa berlangsung pada Juli hingga Agustus, sesuai preferensi pasar dan pabrikan.
Untuk mendukung produktivitas, DKPP menyiapkan sejumlah program, mulai dari penyediaan bibit gratis, bantuan pupuk NPK, hingga pelaksanaan sekolah lapang bagi petani. Program tersebut difokuskan di wilayah-wilayah sentra tembakau.
“Pembibitan kami siapkan di beberapa kecamatan dan akan dibagikan gratis. Selain itu ada bantuan pupuk dan sekolah lapang untuk meningkatkan pengetahuan petani,” katanya.
Rina menyebutkan, terdapat sekitar 18 kecamatan di Sumenep yang memiliki potensi tembakau, dengan lima wilayah utama yakni Pasongsongan, Guluk-Guluk, Ganding, Lenteng, dan Batuputih. Untuk program sekolah lapang, pelaksanaannya akan disesuaikan dengan kesiapan lahan tanam di kelompok tani sasaran.
Dalam menjaga kualitas hasil, DKPP terus mendorong penerapan Good Agricultural Practices (GAP) melalui pendampingan penyuluh. Petani juga diarahkan untuk lebih bijak dalam penggunaan pupuk kimia dan mulai beralih ke metode yang lebih ramah lingkungan.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Pada 2025 lalu, dua kelompok tani asal Sumenep berhasil meraih juara tingkat Jawa Timur melalui inovasi penggunaan bahan alami seperti kelor dan trichoderma yang mampu menekan penggunaan pupuk kimia tanpa menurunkan kualitas produksi.
Di sisi lain, Founder Laskar Tembakau, Syahirul Alim, mengungkapkan bahwa petani secara teknis telah siap tanam sejak April. Namun, tantangan utama masih pada tingginya biaya produksi dan ketergantungan terhadap cuaca.
“Biaya tenaga kerja dan bibit naik cukup signifikan. Selain itu, kualitas dan harga tembakau sangat bergantung pada cuaca, terutama saat proses pengeringan,” katanya.
Ia menambahkan, sekitar 30 persen lahan di wilayah Perancak telah ditanami tembakau. Komunitasnya juga aktif melakukan edukasi kepada petani, termasuk mendorong petani milenial serta melakukan eksperimen metode tanam organik dan semi organik.
Baik DKPP maupun komunitas petani sepakat bahwa stabilitas harga menjadi kunci keberlanjutan sektor tembakau. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, petani, dan pelaku industri dinilai penting untuk menciptakan sistem yang lebih berpihak kepada petani.
“Stabilitas harga bukan soal keberuntungan, tapi soal sistem yang harus berpihak kepada petani,” ucap Syahirul tegas.
Dengan dukungan cuaca yang diprediksi lebih bersahabat dan berbagai program pendampingan, musim tanam tembakau 2026 diharapkan mampu menghasilkan produksi berkualitas dengan nilai jual yang lebih baik, sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat Sumenep.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....