Petani Tembakau Sumenep Siap Tanam, Biaya Naik Jadi Tantangan

  • 19 Mei 2026 11:41 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep – Memasuki musim tanam tembakau 2026, petani di Kabupaten Sumenep dinilai telah siap melakukan penanaman. Kesiapan tersebut terlihat dari aktivitas pengolahan lahan yang sudah dimulai sejak April lalu, pasca musim tanam padi.

Founder Laskar Tembakau, Syahirul Alim, mengatakan mayoritas petani, khususnya di wilayah Perancak, telah melakukan persiapan secara bertahap. Bahkan, sekitar 30 persen lahan saat ini sudah mulai ditanami tembakau.

“Kesiapan petani sudah sejak April. Setelah musim padi, langsung menyiapkan lahan untuk tanam tembakau. Sekarang sebagian sudah mulai tanam,” ujarnya saat ditemui di lokasi persiapan lahan, Selasa 19 Mei 2026.

Meski demikian, Syahirul mengungkapkan sejumlah tantangan masih dihadapi petani, terutama dari sisi biaya produksi yang mengalami kenaikan signifikan. Ongkos tenaga kerja, misalnya, naik dari sekitar Rp50 ribu menjadi Rp75 ribu per setengah hari kerja.

Selain itu, harga bibit tembakau juga mengalami kenaikan. Jika tahun sebelumnya sekitar Rp50 ribu per 1.000 bibit, kini mencapai Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Untuk menyiasati hal tersebut, sebagian petani memilih menyemai bibit secara mandiri.

Di sisi lain, faktor cuaca menjadi penentu utama keberhasilan dan harga jual tembakau. Syahirul menyebut, kualitas tembakau sangat bergantung pada proses pengeringan yang optimal.

“Harga tembakau itu kadang ditentukan hanya satu hari. Kalau saat panen tidak kering, harga bisa langsung turun,” katanya.

Belajar dari tahun sebelumnya yang mengalami kemarau basah sehingga berdampak pada kualitas dan harga, petani berharap musim kemarau tahun ini lebih panjang dan stabil. Hal tersebut diharapkan mampu mendongkrak kualitas serta nilai jual tembakau.

Melalui komunitas Laskar Tembakau, berbagai upaya juga dilakukan untuk meningkatkan kualitas hasil panen. Di antaranya melalui edukasi petani, khususnya petani milenial, serta eksperimen metode tanam seperti sistem organik dan semi organik.

Selain itu, komunitas juga mulai mendorong akses permodalan meski masih terbatas, serta membuka peluang kerja sama dengan pabrikan lokal agar hasil panen petani dapat terserap dengan harga yang lebih baik.

Syahirul menegaskan, stabilitas harga menjadi harapan utama petani. Ia mendorong adanya kebijakan pemerintah yang lebih berpihak, termasuk dukungan dari berbagai pihak seperti dinas pertanian, perdagangan, hingga BMKG dalam memberikan prediksi cuaca yang akurat.

“Stabilitas harga itu bukan soal keberuntungan, tapi soal sistem yang berpihak kepada petani,” ucapnya tegas.

Ia menambahkan, tembakau masih menjadi komoditas andalan yang menopang perekonomian masyarakat. Ketika hasil tembakau baik, dampaknya akan dirasakan luas, mulai dari sektor perdagangan hingga ekonomi lokal lainnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....