Pemkot Bandung Percepat Pengolahan Sampah

  • 11 Mei 2026 14:08 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mempercepat upaya pengolahan sampah di tingkat wilayah menyusul terus berkurangnya kuota pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti.

‎Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, kuota pengiriman sampah Kota Bandung ke TPA Sarimukti kini terus dikurangi secara bertahap setiap dua minggu sekali. Jika sebelumnya volume sampah yang dapat dibuang mencapai sekitar 980 ton per hari, ke depan jumlah tersebut akan ditekan hingga hanya sekitar 600 ton per hari.

‎“Kondisi sampah saat ini masih terkendali, tetapi harus diwaspadai karena kuota terus berkurang. Ini membutuhkan langkah antisipasi yang serius,” ujar Farhan, Senin 11 Mei 2026.


‎Sebagai langkah antisipasi, Pemkot Bandung mendorong penguatan pengelolaan sampah di tingkat RW dan kelurahan, terutama untuk menangani sampah organik yang selama ini menjadi penyumbang terbesar volume sampah harian.

‎Salah satu kebijakan yang akan diterapkan yakni pembatasan operasional Tempat Penampungan Sementara (TPS). Bahkan, TPS direncanakan akan ditutup setiap akhir pekan, mulai Jumat hingga Minggu. Kebijakan ini dilakukan agar masyarakat mulai terbiasa mengelola sampah secara mandiri di lingkungan masing-masing.

‎“Warga harus mulai mencari solusi di wilayah masing-masing, khususnya untuk sampah organik. Tidak bisa lagi sepenuhnya bergantung pada TPS,” katanya.

‎Selain itu, Pemkot Bandung juga akan memperketat pengawasan di wilayah perbatasan guna mencegah masuknya sampah dari luar Kota Bandung. Pembatasan kapasitas TPS pun akan dilakukan agar tidak terjadi penumpukan sampah berlebihan di sejumlah titik.

‎Farhan menegaskan, persoalan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat. Karena itu, ia meminta warga lebih disiplin dalam memilah dan mengelola sampah sejak dari sumbernya.

‎Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Darto mengungkapkan, saat ini Kota Bandung telah memiliki sekitar 1.510 unit kompos pit dengan kapasitas lebih dari 2.800 meter kubik.

‎Namun, jumlah tersebut dinilai masih jauh dari kebutuhan ideal untuk menangani sampah organik yang mencapai lebih dari 600 ton per hari. Karena itu, Pemkot Bandung menargetkan pembangunan hingga 25 ribu unit kompos pit yang akan ditempatkan di seluruh RW.

‎“Setiap RW minimal memiliki empat unit komposter agar sampah organik bisa dikelola di wilayah masing-masing selama kurang lebih tiga bulan sebelum dipanen,” jelas Darto.

‎Selain komposter, berbagai metode pengolahan sampah lain juga terus dikembangkan, seperti budidaya maggot, loseda, hingga pemanfaatan sampah sebagai pakan ternak. Langkah tersebut diharapkan mampu mengurangi beban sampah yang harus dibuang ke TPA secara signifikan.

‎Tak hanya mengandalkan pengelolaan berbasis masyarakat, Pemkot Bandung juga akan mengaktifkan kembali 18 unit alat pengolah sampah dengan kapasitas total sekitar 18 ton per hari. Bahkan, dua unit tambahan dengan teknologi air pollution control (APC) segera dioperasikan untuk meningkatkan kapasitas pengolahan sampah.

‎Di sisi lain, rencana Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mengembangkan fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) di kawasan Sarimukti juga menjadi bagian dari solusi jangka panjang penanganan sampah. Meski demikian, seluruh proses tetap harus memperhatikan aspek hukum dan regulasi yang berlaku.

‎Dengan berbagai langkah tersebut, Pemkot Bandung berharap kondisi pengelolaan sampah tetap terkendali di tengah keterbatasan kuota TPA, sekaligus mendorong perubahan pola pengelolaan sampah menuju sistem yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

‎“Kita harus bergerak bersama. Kalau tidak, kondisi ini bisa semakin berat,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....