Kemarau Landa NTB Pengaruhi Kondisi Embung Pola Tanam

  • 07 Mei 2026 15:15 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Tengah – Musim kemarau yang melanda Nusa Tenggara Barat (NTB) berpotensi mempengaruhi kondisi air di embung dan pola tanam petani. Pengaruh itu baru sangat terasa di Masa Tanam (MT) ke-3 tahun 2026.

MT ke-3 2026 diprediksi mengarah ke tanaman palawija dan benih yang adaptif. Teknologi pertanian berpotensi memegang peranan selain praktik asuransi. Subsidi benih dan pupuk pun diperlukan agar petani mampu menanam lebih awal. Sedangkan praktik gotong-royong memperbaki saluran irigasi mutlak diperlukan.

“Saluran sekunder, tersier, dan primer di petak sawah sering terganggu oleh sedimen. Kelompok tani harus bergotong-royong membersihkan,” kata Sabri M. Amin, pembina organisasi KTNA Nasional di Dialog Kentongan, 28 April 2026, bertopik Antisipasi Dampak Panas Ekstrem El Nino Bagi Pertanian dan Keswan.

Sabri mengatakan, petani masih ada yang boros menggunakan air karena mengisi kolam lele. Praktik ini harus diwaspadai karena bisa menimbulkan konflik. Ditambah praktik MT ke-3 2026 diprediksi terganggu El Nino. Jangan sampai, konflik mengalihkan perhatian keselamatan tanaman pangan yang juga sudah harus mulai dibiasakan menggunakan asuransi.

Drh. Febrina Dian Permatasari, M,Si., mengatakan, Indonesia beriklim tropis dan rentan perubahan iklim. Walapun belum memiliki data yang komprehensif, perubahan itu dapat menimbulkan stres pada ternak peliharaan. Secara fisilogis suhu 38 derajat bisa membuat ternak mengalami stres. Konsumsi air minum ternak pun bakal menurun.

“Perlu teknik permentase, membuat silase dan mengeringkan rumput. Tidak hanya rumput, tapi olahan bungkil pisang bisa menjadi pakan sapi,” kata Febrina, yang juga narasumber di Dialog Kentongan, 28 April 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....