Makna Al-Kariim, Belajar Syukur dan Bergantung kepada Allah

  • 29 Apr 2026 16:53 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin- Akademisi UIN Antasari Banjarmasin, Drs. H. Ahmad Rijali, M.Pd, menjelaskan makna Al-Kariim dalam Tabligh Udara RRI Pro 1 Banjarmasin. Kegiatan berlangsung Selasa malam, 28 April 2026.

Ahmad Rijali menyampaikan melalui Zoom dalam dialog bertema memaknai salah satu Asmaul Husna, yaitu Al-Kariim. Kajian ini bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat

Menurut Ahmad Rijali, Al-Kariim berarti Allah Maha Pemurah, Maha mulia, dan memberi tanpa batas. Sifat ini menunjukkan kasih sayang Allah kepada seluruh makhluk.

“Manusia sering merasa kurang, meski nikmat Allah sangat banyak,” ucapnya. “Hal itu dipengaruhi hawa nafsu yang tidak pernah puas dalam diri manusia.”

Keinginan yang berlebihan, lanjutnya, perlu dikendalikan dengan akal dan sikap qanaah. Jika dipaksakan, keinginan dapat menjerumuskan pada perbuatan yang tidak baik.

Ia juga menjelaskan Allah memaafkan meski mampu menghukum dan memberi waktu untuk bertaubat. Namun, kelapangan ini sering membuat sebagian orang lalai dan merasa tidak akan mendapat balasan.

Ia menambahkan, setiap orang tetap harus berusaha dan merencanakan hidup dengan baik. Namun, harapan tetap hanya kepada Allah, bukan kepada makhluk.

Selain itu, Allah selalu menepati janji, termasuk dalam mengabulkan doa hamba-Nya. Pengabulan doa dapat terjadi di dunia maupun disimpan sebagai balasan di akhirat.

“Sebagian doa disimpan sebagai balasan yang lebih baik di akhirat,” ujarnya. “Sering kali hikmahnya baru dipahami setelah waktu berlalu.”

Ia juga menegaskan Allah memberi melebihi yang diminta tanpa membedakan hamba-Nya. Karena itu, umat diajak meneladani sifat Al-Kariim dalam kehidupan sehari-hari.

“Allah tidak menyia-nyiakan hamba yang bergantung kepada-Nya,” ucapnya. “Sikap memuliakan Allah akan menjaga manusia dari perbuatan yang keliru.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....