Suster DCPB Kembangkan Pendidikan dan Pelayanan Sosial di Kupang
- 23 Apr 2026 17:55 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID,Kupang - Kongregasi Putri-putri Cinta Kasih dari Darah yang Maha Mulia atau Daughters of Charity of the Most Precious Blood (DCPB) terus menunjukkan kiprah nyata dalam pelayanan pendidikan, kesehatan, dan sosial di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Kongregasi ini didirikan oleh Beato Tomaso Maria Fusco, seorang imam diosesan (Projo) asal Nocera Pagani, pada 6 Januari 1873.
Hingga kini, DCPB telah berusia lebih dari satu setengah abad dan memiliki komunitas yang tersebar di delapan negara. Di Indonesia, kehadiran DCPB pertama kali dimulai di Kupang pada tahun 2004.
Seiring perkembangan waktu, karya pelayanan mereka juga telah menjangkau wilayah lain, termasuk di Paroki Rajawawo Ende Flores dan Haukoto Kelurahan Fatukoa Kota Kupang .
Misi utama para suster DCPB meliputi bidang pendidikan, pelayanan kesehatan, pengelolaan panti jompo, serta pengembangan bakat kaum muda.
Di Kota Kupang, para suster terlibat aktif dalam pengelolaan lembaga pendidikan mulai dari TPA (Tempat Penitipan Anak), PAUD, Taman Kanak-Kanak (TKK), hingga Sekolah Dasar (SD), khususnya di wilayah Sikumana dan Haukoto Kelurahan Fatukoa. Saat ini, jumlah suster DCPB yang berkarya di Kupang mencapai sekitar 37 orang.
Salah satu yang aktif melayani adalah Sr. Bernadeta Bunga, DCPB, yang bertugas sebagai pengasuh di TKK Tomaso Maria dan Sr. Wendy Bani, DCPB sebagai kepala sekolah lembaga pendidikan SDK Tomaso Maria Fusco Fatukoa. Ditemui di lingkungan sekolah SDK Tomaso Maria Fusco pada Rabu (22/4/2026), Suster mengungkapkan rasa syukur atas perkembangan yang dialami lembaga pendidikan yang dikelola mereka.
“Puji Tuhan, sampai hari ini perkembangan cukup baik. Dalam empat tahun terakhir, jumlah murid SD yang awalnya hanya empat orang kini sudah bertambah dan pelayanan semakin berkembang,” ujarnya.
Dalam percakapan sehari-hari di lingkungan maupun dalam proses pembelajaran menggunakan dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris (Bilingual). Meski demikian, ia mengakui bahwa tantangan masih cukup besar, terutama dalam hal ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan.
“Fasilitas masih jauh dari cukup. Kami masih sangat membutuhkan bantuan dari berbagai pihak demi pengembangan pendidikan ke depan, khususnya di Fatukoa dan Kota Kupang pada umumnya,. Kami bersyukur karena warga sekitar sangat mendukung. Kehadiran kami diterima dengan baik, dan ini menjadi kekuatan bagi kami untuk terus melayani,” katanya.
Terkait dukungan masyarakat, Suster menyampaikan apresiasi atas keterlibatan warga sekitar yang dinilai cukup positif dalam mendukung keberadaan dan pelayanan para suster.
Melalui karya-karya tersebut, para suster DCPB berharap dapat terus berkontribusi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya bagi anak-anak dan generasi muda di wilayah Nusa Tenggara Timur. (GT/ST)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....