KOHATI Banjarmasin Dorong Kemandirian Perempuan lewat Pendidikan
- 21 Apr 2026 10:03 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Korps HMI-Wati (KOHATI) Cabang Banjarmasin mendorong kemandirian perempuan melalui pendidikan dan penguatan keterampilan dalam program Ngobras di RRI Pro1 Banjarmasin, Senin, 20 April 2026. Upaya ini menyoroti pentingnya peran pendidikan sebagai bekal perempuan dalam menghadapi tantangan ekonomi dan sosial.
Acara ini menghadirkan Ketua Umum KOHATI Cabang Banjarmasin, Anisa Razak Khairina. Tema yang diangkat adalah perempuan dan pendidikan dalam melanjutkan mimpi Kartini.
KOHATI merupakan badan khusus Himpunan Mahasiswa Islam yang bersifat semiotonom dan berfokus pada isu perempuan dan anak. Organisasi ini bertujuan membina perempuan menjadi pendidik sekaligus pembina generasi muda.
| Baca juga: Rahasia Bahagia Berawal dari Tiga Hal |
Di Banjarmasin, KOHATI aktif menggelar diskusi, pelatihan kepemimpinan, dan advokasi perempuan. Kegiatan tersebut juga mencakup pengabdian kepada masyarakat untuk memperkuat peran perempuan di berbagai bidang.
Anisa menyebut akses pendidikan perempuan saat ini semakin terbuka di era digital. Namun, tantangan bergeser pada pemanfaatan pendidikan sebagai modal kemandirian finansial.
“Perempuan hari ini lebih unggul dalam pendidikan, tetapi belum seimbang di dunia kerja,” ujarnya. “Hal ini menjadi tantangan baru yang harus dihadapi bersama.”
Menurutnya, data menunjukkan jumlah lulusan perempuan lebih tinggi, tetapi tingkat partisipasi kerja masih rendah. Pendidikan harus dimanfaatkan sebagai kekuatan ekonomi bagi perempuan.
“Data BPS menunjukkan ketimpangan partisipasi kerja antara laki-laki dan perempuan, dengan perempuan berada pada kisaran 53–55 persen,” ucapnya. “Sementara laki-laki mencapai 84–86 persen, dengan rata-rata lama sekolah perempuan di Kalimantan Selatan sekitar 9,94 tahun.”
Anisa menilai keterampilan menjadi kunci menghadapi hambatan seperti budaya patriarki. Banyak perempuan memilih sektor nonformal karena fleksibilitas waktu dan peran domestik.
“Skill menjadi faktor penting agar perempuan mampu bersaing di dunia kerja,” ujarnya. “Pendidikan formal harus didukung keterampilan yang sesuai.”
Ia juga menyoroti fenomena “glass ceiling” atau batas tak terlihat yang menghambat perempuan di posisi strategis. Saat ini, keterwakilan perempuan di posisi manajerial masih sekitar 32 persen.
Melalui semangat Kartini, KOHATI mengajak perempuan untuk terus belajar dan berdaya. Organisasi ini juga membuka ruang diskusi dan kolaborasi untuk mencari solusi bersama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....