Bayang-bayang Fenomena El Nino, Kekeringan akan melanda Sampang

  • 19 Apr 2026 09:31 WIB
  •  Sampang

RRI.CO.ID, Sampang - Bayang-bayang kekeringan ekstrem kembali menghantui sebagian besar wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan sinyal waspada: fenomena El Niño diprediksi akan bertahan lebih lama tahun ini, menyeret musim kemarau 2026 melampaui durasi normalnya.

Data terbaru menunjukkan bahwa hampir 75 persen wilayah Jawa Timur—termasuk kawasan pesisir seperti Madura—masuk dalam zona merah defisit air. Puncak kemarau diprediksi akan menghantam pada Agustus mendatang, namun dampaknya diperkirakan masih akan terasa hingga pengujung tahun.

Keua FPRB Hasan Jailani mengucapkan secara ilmiah, El Niño terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur mengalami peningkatan. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya curah hujan di sebagian wilayah Indonesia, termasuk Madura. Akibatnya, sumber air seperti sumur dan embung mulai mengering, serta lahan pertanian sulit mendapatkan pasokan air yang cukup.

"Di wilayah utara Sampang, kondisi geografis yang relatif tandus membuat dampak El Niño semakin terasa. Banyak warga yang bergantung pada tadah hujan untuk kebutuhan sehari-hari, baik untuk konsumsi maupun pertanian saat kemarau panjang melanda." ungkapnya

Ia menjelaskan, kondisi ini memicu kekhawatiran di sektor pangan. Para petani di lumbung-lumbung padi kini dipaksa berhitung ulang. Tanpa intervensi manajemen air yang ketat, ancaman gagal panen bukan lagi sekadar prediksi di atas kertas.

Di tengah kegelisahan warga, narasi mengenai "Godzilla El Niño" sempat liar di jagat digital. BMKG bergegas mendinginkan suasana. Meski kemarau tahun ini lebih kering dibanding tahun lalu, otoritas cuaca menegaskan situasinya belum mencapai level krisis seperti tahun 2015.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....