BMKG Juanda Prediksi El Nino 2026 Tiga Bulan

  • 08 Apr 2026 12:40 WIB
  •  Sampang

RRI.CO.ID, Surabaya – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda Surabaya memprediksi fenomena El Nino tahun 2026 akan berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Meski demikian, intensitasnya masih berada pada level rendah hingga menengah, sehingga tidak masuk kategori ekstrem seperti El Nino Godzilla yang pernah terjadi pada 2015.

Ketua team kerja meteorologi BMKG Juanda Andrie Wijaya dalam dialog interaktif di program Kentongan RRI Sampang menjelaskan, El Nino dapat dikenali dari kondisi cuaca harian yang jelas terlihat. Salah satu tanda utamanya adalah berkurangnya curah hujan secara signifikan.

“Jika dalam kurun waktu lebih dari dua bulan tidak terjadi hujan sama sekali, baik intensitas ringan maupun sedang, maka wilayah tersebut dapat dipastikan sedang mengalami El Nino,” ujarnya.

Selain curah hujan, menurut Andrie faktor angin juga menjadi indikator penting. Pada periode El Nino, angin cenderung lemah dan udara terasa lebih kering. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya kelembapan udara dan meningkatkan risiko kekeringan di berbagai daerah.

“Kami menekankan bahwa dampak El Nino sangat bergantung pada kondisi topografi dan ketersediaan sumber air di masing-masing wilayah. Daerah pegunungan dengan banyak pepohonan biasanya lebih mampu menyimpan air hujan, sementara daerah dengan tanah kering lebih rentan terhadap kekeringan,” ucapnya.

Untuk sektor pertanian, BMKG menyarankan agar masyarakat menanam varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan, seperti semangka atau tanaman lain yang tidak membutuhkan banyak air.

“Selain itu, pengelolaan irigasi secara optimal, pembuatan kolam retensi, dan pemanfaatan air hujan menjadi langkah penting dalam menghadapi musim kemarau Panjang,” imbuhnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, di sektor perikanan, kondisi air harus dijaga agar tetap stabil. Musim kemarau berisiko menimbulkan penyakit pada ikan dan menurunkan kualitas air. Oleh karena itu, pengelolaan kolam dan waduk harus dilakukan lebih intensif.

“Sementara sektor kehutanan menghadapi ancaman kebakaran hutan akibat meningkatnya titik panas atau hotspot. Kami mengingatkan perlunya patroli udara, sistem peringatan dini, serta sosialisasi kepada masyarakat untuk mencegah kebakaran. Daun-daun kering di musim kemarau sangat mudah tersulut api, sehingga kewaspadaan harus ditingkatkan,” kata Andrie dengan mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....