Islam Tekankan Keseimbangan Ritual Sosial

  • 07 Apr 2026 07:32 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Islam tidak hanya mengajarkan ibadah ritual seperti shalat dan puasa, tetapi juga menekankan pentingnya kebaikan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut disampaikan Dai Yayasan Dana Sosial Al Falah YDSF Surabaya Heri Rifhan Halili dalam tausiyah program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Surabaya, Selasa, 7 April 2026.

Menurutnya, ajaran Islam mencakup hubungan manusia dengan Allah sekaligus hubungan antarsesama. Karena itu, keseimbangan antara ibadah ritual dan sosial menjadi hal yang utama dalam kehidupan seorang Muslim.

“Islam tidak hanya bicara soal shalat dan puasa, tetapi juga hubungan sosial. Ritual harus baik, sosial juga harus baik. Itulah ukuran yang diisyaratkan Allah dan dicontohkan Nabi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam Al-Qur’an terdapat banyak ajaran yang mengatur kehidupan sosial. Bahkan ayat terpanjang dalam Al-Qur’an, yakni Surah Al-Baqarah ayat 282, membahas tentang utang piutang sebagai bagian dari interaksi antarmanusia. Selain itu, Surah Al-Mutaffifin juga mengingatkan tentang larangan berlaku curang dalam timbangan dan transaksi.

Momentum bulan Syawal, lanjutnya, kerap dimanfaatkan umat Muslim untuk memperkuat silaturahim dan saling memaafkan setelah menjalani Ramadan. “Di bulan Syawal, kaum muslimin banyak merajut kebaikan sosial dan silaturahim. Saling memaafkan menjadi bagian dari ajaran Islam sekaligus budaya luhur masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa memaafkan tidak harus menunggu momen tertentu. Secara ideal, hal tersebut dapat dilakukan setiap hari. “Namun secara psikologis, seseorang kadang membutuhkan momentum untuk memulai, apalagi jika ada rasa sungkan atau hambatan lain,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan sabda Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari. Lebih lanjut, Ustaz Rifhan menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama agar tidak termasuk dalam golongan orang yang merugi meski memiliki banyak pahala.

“Cara terbaik adalah menghapus konflik dan permusuhan. Inilah makna silaturahim. Orang yang pemaaf menjadi salah satu ciri penghuni surga,” ujarnya mengakhiri tausiyah.

Melalui pemahaman tersebut, masyarakat diharapkan dapat meneladani ajaran Nabi Muhammad SAW dengan menjaga keseimbangan antara ibadah kepada Allah dan kepedulian sosial terhadap sesama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....