Arios, Ekosistem UMKM yang Terbangun Selaras Serat Syariah

  • 30 Mar 2026 15:27 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Tanyakan kepada Ati Sulastri Aritonang berapa banyak orang yang hidup dari rantai produksinya dan ia akan terdiam sejenak. Bukan karena pertanyaannya menyinggung. Tapi karena jawabannya memang tidak pernah dihitung oleh siapa pun.

Di rak-rak galerinya di Plamo Garden, Baloi Permai, berjejer kebaya, outer, vest, dan kemeja bermotif jembatan Barelang, gonggong, dan ikan marlin. Ikon-ikon Batam yang ia terjemahkan ke atas kain, helai demi helai, sejak 2014. Usahanya bernama Rumah Tenun dan Batik Arios, nama yang belakangan mulai dikenal lebih luas, tidak hanya di kota ini, tapi sampai ke panggung-panggung pameran ekonomi syariah Kepulauan Riau bahkan keluar kota.

Maret 2026, di tengah kemeriahan Kepulauan Riau Ramadan Fair (KURMA) 2026 di One Batam Mall, Arios hadir sebagai salah satu tenant. Kehadiran Ati di sana tidak sekedar berjualan, melainkan pengakuan bahwa apa yang ia bangun selama lebih dari satu dekade lebih, merupakan bagian sah dari ekosistem ekonomi syariah yang sedang dibesarkan provinsi ini.

Namun di balik nama yang mulai bersinar itu, ada kisah yang jauh lebih dalam, tentang sebuah ekosistem yang menghidupi belasan orang, yang berjalan di atas kepercayaan, dan yang nilai sesungguhnya belum pernah benar-benar dihitung.

Musyarakah Tanpa Nama

Dalam fikih muamalah, ada konsep musyarakah yakni kemitraan usaha yang dibangun atas dasar saling berbagi manfaat, tanpa satu pihak mengeksploitasi yang lain. Yang ada adalah kesepakatan, kepercayaan, dan komitmen untuk saling menopang.

Ati tidak menyebut istilah itu. Tapi ia menjalaninya.

"Sejak saya konsisten menggeluti bidang ini, saya tidak sendirian. Saya punya teman-teman pengrajin yang membantu saya. Saya rancang, nanti mereka yang garap. Awal-awal merintis memang saya semua dulu, tapi sekarang ekosistemnya sudah terbentuk," katanya.

Ada struktur kerja yang jauh lebih luas dari yang terlihat, tiga kelompok pengrajin batik satu di kawasan Nongsa dan dua kelompik di Piayu, masing-masing terdiri dari tiga hingga empat orang. Ati yang mendatangkan kainnya, mencoret kasar gambarannya dan motif dikerjakan oleh tangan-tangan di lapangan. Ada kelompok penjahit dengan spesialisasi masing-masing, satu khusus kebaya, satu untuk pakaian perempuan, satu untuk produk kriya seperti tote bag dan cover koper dari sisa kain. Ditambah kolaborator tenun dari kota lain yang mengerjakan pesanan tenun sesuai permintaan.

Jika dijumlahkan kasar, ada belasan hingga dua puluhan orang yang perputaran ekonominya bergantung pada ada tidaknya pesanan yang masuk ke Ati. Tidak ada yang mengontrak mereka bahkan jaminan volume minimum. Yang ada hanya hubungan yang teruji waktu dan dalam tradisi Islam, itulah yang disebut amanah.

Tidak ada satu pun kain yang terbuang percuma. Dalam ekonomi Islam, ini bukan sekadar efisiensi, ini ekspresi dari prinsip israf (larangan pemborosan). Setiap bahan baku diperlakukan sebagai titipan yang harus dioptimalkan. Ati memang tidak menyebutnya dengan istilah itu. Ia hanya bilang,

"Peluang lain dari bisnis yang saya dapatkan, saya tidak mau ada yang sia-sia. Kita tidak buat dalam jumlah besar ya, tapi kalau ada yang pesan kami pasti bisa memenuhi, itulah yang membuat saya dan pengerajin nyaman bekerjasama, mereka juga tidak pernah mengeluh, sebanyak apa orderan tetap bersyukur," tegasnya saat diwawancai di One Batam Mall.

Ketika Bank Indonesia Masuk

Titik balik paling signifikan dalam perjalanan Ati datang pada 2018, ketika ia bergabung dengan program UMKM Binaan Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kepri. Arios tercatat sebagai UMKM binaan yang tergabung dalam program Karya Kreatif Indonesia di bawah pembinaan BI, serta kerap berkolaborasi dengan Dekranasda. Usaha ini juga tercatat sebagai nasabah aktif BRK Syariah, yang memanfaatkan QRIS untuk mendukung transaksi non-tunai.

Pelatihan manajemen keuangan dari BI mengubah cara Ati membaca usahanya dari sekadar menghitung untung-rugi harian menjadi memahami arus kas, margin per produk, dan proyeksi produksi. Kewajiban menyetor laporan penjualan bulanan yang awalnya terasa memberatkan justru membangun disiplin pencatatan yang sebelumnya tidak pernah ada.

"Manfaatnya banyak, meskipun saya harus memilih jalan sendiri pasca inkubasi. Saat itu gencar sekali memang BI membina," katanya.

Langkah pembinaan BI itu bukan berdiri sendiri. Ia bagian dari strategi yang lebih besar. KURMA 2026 yang berlangsung 2–8 Maret di Batam dan Tanjungpinang, memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya adalah wujud sinergi antara Pemprov Kepri, KDEKS, Bank Indonesia, dan OJK. Dari business matching UMKM syariah, sertifikasi halal, edukasi literasi keuangan syariah, hingga digitalisasi ZISWAF, semua terangkum dalam satu agenda yang kian ambisius.

Hasilnya terukur, transaksi penjualan produk UMKM selama KURMA 2026 mencapai Rp2,54 miliar, naik 9 persen dibanding Rp2,3 miliar pada tahun sebelumnya. Pembiayaan dari business matching dengan BRK Syariah juga meningkat 3,34 persen, mencapai Rp2,24 miliar. Dan di tengah ketidakpastian ekonomi global, Kepulauan Riau pada 2025 mencatatkan pertumbuhan ekonomi 7,89 persen secara tahunan tertinggi ketiga di Indonesia, sebagian ditopang oleh perputaran ekonomi akar rumput seperti yang dibangun Ati.

Kepala Perwakilan BI Kepri Rony Widijarto menegaskan arah yang ingin dituju,

"Prinsip ekonomi syariah menekankan pemerataan dan keberlanjutan. Karena itu, penguatan sektor UMKM menjadi sangat penting," katanya saat memberikan sambutan pada kegiatan.

Menanam Kepercayaan di Kota Industri

Yang paling mencolok dari ekosistem Ati adalah strukturnya yang sepenuhnya berjalan di atas kepercayaan, tidak ada kontrak.

"Tidak ada, semuanya lepas," katanya tentang hubungan dengan para pengrajin dan penjahitnya.

Dalam terminologi fiqih muamalah, ini mendekati konsep ta'awun atau tolong-menolong yang bersifat sukarela, tanpa paksaan, tanpa unsur eksploitasi. Di kota industri yang terbiasa dengan kontrak manufaktur dan kawasan perdagangan bebas, ekosistem ini beroperasi dengan logika yang sepenuhnya berbeda. Logika kampung, bukan korporasi.

Ironisnya, justru logika itulah yang membuat sistem ini mampu bergerak cepat. Ketika event organizer dari Jakarta tiba-tiba butuh dua ratus outer dalam dua minggu, Ati bisa langsung menggerakkan seluruh jaringannya karena semua orang di jaringan itu sudah tahu cara bekerjanya. Bahkan, dengan jaringan kerja seperti ini, Ati bisa mendapatkan bantuan modal dari perbankan syariah dengan mudah.

Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko BRK Syariah, Fajar Restu Febriansyah, yang mengunjungi tenant Arios langsung di KURMA 2026, menyatakan bahwa partisipasi UMKM binaan dalam ajang seperti ini adalah bukti nyata bahwa kolaborasi antara perbankan syariah dan pelaku usaha mampu mendorong UMKM naik kelas secara berkelanjutan.

"Kami bangga melihat nasabah BRK Syariah mampu berkembang dan tampil di event strategis seperti KURMA. Ini menunjukkan bahwa UMKM lokal memiliki potensi besar untuk terus tumbuh dan menjadi penggerak ekonomi daerah,” tambahnya.

Pandemi dan Panen yang Tak Tercatat

Ketika pandemi Covid-19 melumpuhkan ribuan usaha kecil, Ati justru mengalami lonjakan yang ia sebut sendiri sebagai "panen raya". Omzetnya mencapai ratusan juta, bahkan akumulasi dalam setahun pandemi dan pascapandemi menyentuh angka miliaran.

"Waktu itu kan ada acara, tapi orang tidak boleh ketemu muka. Produk saya dikirim. Justru pada saat itu saya lumayan," katanya.

Paradoks itu bukan keberuntungan semata. Ini soal infrastruktur yang ia bangun jauh sebelum krisis, ready stock yang selalu tersedia, jaringan pengrajin yang sudah terlatih, kemampuan memenuhi pesanan besar dalam waktu singkat. Dalam ekonomi Islam, ini disebut i'dad atau kesiapan yang dipersiapkan sebelum dibutuhkan, bukan setelah krisis datang.

Seluruh pengrajin dan penjahit di jaringannya pun merasakan manfaat lonjakan itu. Tidak ada data resminya. Tapi di situlah letak maslahah yang sesungguhnya, pertumbuhan satu pelaku UMKM yang sehat, dalam ekosistem berbasis kepercayaan, selalu mengalir ke banyak tangan.

Bertahan dengan Keyakinan

Memasuki 2026, di tengah tekanan global yang mulai terasa, Ati berbicara dengan nada seseorang yang sudah terlalu sering melewati turbulensi untuk merasa gentar.

"Rezeki itu tidak akan tertukar. Selagi kita fokus, selagi kita ikhlas menjalani usaha kita, setiap jerih payah manusia, Tuhan tidak akan sia-siakan," katanya.

Tutur kata Ati semacam etos kerja yang mengakar, keyakinan bahwa usaha yang dijalankan dengan jujur, yang tidak memboroskan sumber daya, yang membangun kepercayaan sebagai modal utama, adalah usaha yang selaras dengan nilai-nilai tertinggi dalam Islam.

Di Kepulauan Riau yang sedang membangun ekosistem ekonomi syariah lebih formal dan terstruktur, ada pelajaran berharga dari cara kerja Ati, bahwa yang paling dibutuhkan bukan hanya label atau sertifikasi, tapi pengakuan bahwa ekosistem informal berbasis kepercayaan ini adalah bagian yang sah dan vital dari fondasi ekonomi syariah itu sendiri.

Ekosistem itu hidup dan layak untuk dicatat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....