Pemkab Prihatin Kemiskinan Ekstrim Masih Tinggi

  • 28 Feb 2026 12:19 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Garut - Pemerintah Kabupaten Garut menyatakan keprihatinannya terhadap kondisi sosial-ekonomi di Garut Selatan yang dinilai masih jauh dari harapan. Masalah kemiskinan ekstrem, angka putus sekolah, hingga tingginya angka kematian ibu dan anak menjadi pemicu utama perlunya pembangunan yang lebih signifikan.Hal itu disampaikan Bupati Garut Sakur Amin disela memberikan arahan kepada para Kepala Desa di wilayah Kecamatan Mekarmukti, Caringin, dan Bungbulang. Jumat, 27 Febuari 2026.

Ia mengatakan, perlunya langkah lompatan (akselerasi) untuk mengatasi persoalan mendasar di wilayah selatan Garut seperti halnya masalah sosial dan ekonomi."Untuk mengatasi berbagai persoalan khususnya yang menyangkut sosial dan ekonomi masyarakat diperlukan lompatan atau akselerasi yang lebih cepat,"katanya.

Ia mengatakan, memang untuk sebuah akselerasi yang cepat dalam rangka mengatasi berbagai persoalan krusial, memerlukan dana yanh tidak sedikit, seperti penyerapan tenaga kerja, industri hingga hotel dan restoran. "Tentu saja di otak saya bahwa harus ada akselerasi, dan akselerasi itu selalu membutuhkan dana yang besar. Contohnya kita ingin ada penyerapan tenaga kerja, ada industri, tapi tidak usah selalu industri pabrik, tapi pariwisata juga bisa menyerap tenaga kerja. Restoran hotel itu juga bisa menyerap tenaga kerja," ungkapnya.

Ia menyoroti bahwa selama ini program pertanian dan peternakan di Garut Selatan belum memberikan hasil optimal karena lemahnya proses hilirisasi. Komoditas lokal seringkali dijual mentah tanpa adanya aktivitas yang memberikan nilai tambah (value added).

Secara spesifik, Bupati Garut mengidentifikasi Jagung sebagai komoditas paling strategis untuk saat ini. Ia menambahkan, jagung sendiri merupakan bahan baku utama pakan ternak yang sangat dibutuhkan untuk menyukseskan program Makanan Bergizi Gratis dari pemerintah pusat.

"Tapi dari sekian komoditi itu saya melihat ada yang potensial yaitu jagung. Karena jagung ini sekarang lagi 'seksi', kenapa 'seksi'? Adalah komoditi yang diperlukan untuk mendukung dari bidang yang lain," lanjutnya.

Sebagai solusi, Syakur berencana mengadopsi model ekosistem terintegrasi seperti yang diterapkan di Blitar. Dengan membangun pabrik pakan di lokasi yang dekat dengan lahan pertanian jagung dan sentra peternakan, ongkos produksi dapat ditekan secara drastis.

"Saya lihat di Blitar itu katanya mereka sudah ada ekosistem jadi pakannya disitu, peternakannya disitu sehingga ongkos produksi jadi murah sehingga ketika dijual secara keseluruhan harga telur di Blitar lebih murah dari Garut karena semua tergabung terintergrasi," ujar Abdusy Syakur.

Melalui integrasi sektor pertanian jagung dan peternakan ayam pedaging, Bupati berharap Garut Selatan tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pemain utama dalam rantai pasok pangan nasional, yang pada akhirnya akan menekan angka kemiskinan di wilayah tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....