menuju Kota Berkelanjutan: Keseimbangan Ekonomi, Ekologi, Sosial
- 13 Feb 2026 14:56 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya : Konsep kota berkelanjutan bukan sekadar tren pembangunan fisik, melainkan sebuah keharusan untuk menjamin kualitas hidup generasi mendatang. Hal ini menjadi inti pembahasan dalam Program Dialog Sosial yang menghadirkan Galang Geraldy, S.IP., M.IP., Dosen Ilmu Politik Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), sebagai narasumber utama.
Dalam dialog tersebut, Galang membedah tantangan perkotaan modern melalui tiga pilar utama: Ekonomi, Ekologi, dan Sosial. Menurutnya, sebuah kota dianggap berhasil jika mampu mengintegrasikan ketiganya tanpa mengorbankan salah satu aspek.
Galang menjelaskan bahwa ketimpangan yang sering terjadi di kota-kota besar di Indonesia adalah fokus yang terlalu berat pada aspek ekonomi, namun mengabaikan daya dukung lingkungan dan modal sosial.
Aspek Ekonomi: Pembangunan harus inklusif. Kota berkelanjutan wajib menyediakan lapangan kerja dan peluang usaha yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya segelintir kelompok.
Aspek Ekologi: Galang menyoroti pentingnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan pengelolaan limbah yang sistematis. "Kota yang cerdas adalah kota yang mampu berdamai dengan alam, bukan mengeksploitasinya habis-habisan," ujarnya.
Aspek Sosial: Keberlanjutan hanya bisa dicapai jika ada partisipasi publik. Keadilan sosial dan rasa aman bagi warga adalah indikator penting dari kesehatan sebuah ekosistem kota.
Sebagai pakar ilmu politik, Galang menekankan bahwa mewujudkan kota berkelanjutan memerlukan kemauan politik (political will) yang kuat dari pembuat kebijakan.
"Kebijakan pembangunan seringkali terbentur pada kepentingan jangka pendek. Di sinilah peran dialog sosial menjadi krusial; agar suara masyarakat didengar dan kebijakan yang diambil berpihak pada keberlanjutan jangka panjang," tegas Galang.
Ia juga menambahkan bahwa perguruan tinggi seperti UWKS memiliki peran sebagai mitra kritis pemerintah untuk memberikan masukan berbasis riset agar pembangunan kota tidak kehilangan arah.
Dialog ini menutup dengan pesan bahwa transformasi menuju kota berkelanjutan adalah kerja kolektif. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan masyarakat sipil adalah kunci utama untuk menciptakan ruang hidup yang layak, hijau, dan sejahtera.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....