Menyampaikan Kebenaran Walau Satu Ayat
- 13 Feb 2026 08:37 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Cahaya Pagi, Jumat, 13 Februari 2026, menghadirkan narasumber Ustaz Nur Chamsjah, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Simokerto Kemenag Kota Surabaya, dengan tema Menyampaikan Kebenaran Walau Satu Ayat. Nur Chamsjah menegaskan bahwa setiap muslim memiliki kewajiban moral dan spiritual untuk menyuarakan kebenaran di tengah kehidupan bermasyarakat. “Kebenaran tidak boleh dicampuradukkan dengan kebatilan, apalagi disembunyikan saat kita mengetahuinya,” tuturnya mengawali kajian.
Beliau mengutip firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 42, “Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.” Ayat ini menjadi peringatan keras agar umat Islam menjaga integritas dan kejujuran. Menurutnya, menyembunyikan kebenaran sama halnya dengan mendukung kebatilan, walaupun secara tidak langsung.
Selanjutnya, Nur Chamsjah membacakan QS. Ali ‘Imran ayat 104 yang menyeru agar ada segolongan umat yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. “Umat Islam harus menjadi pelopor dalam amar makruf nahi mungkar. Inilah ciri orang-orang yang beruntung,” ujarnya. Tugas dakwah bukan hanya milik para ulama, melainkan tanggung jawab bersama sesuai kapasitas masing-masing.
Dalam penjelasannya, Nur Chamsjah juga mengutip QS. Al-Anfal ayat 8, “agar Allah memperkuat yang hak (Islam) dan menghilangkan yang batil walaupun orang-orang yang berdosa itu tidak menyukainya.” Ia menekankan bahwa memperjuangkan kebenaran sering kali menghadapi tantangan. “Kadang kebenaran itu pahit, tetapi tetap harus disampaikan,” katanya, seraya mengingatkan ungkapan, “Qulil haqqo walau kana murro” yang artinya katakanlah yang benar meskipun pahit.
Nur Chamsjah juga membawakan hadis Nabi SAW, “Ballighu ‘anni walau ayah” yang artinya sampaikan dariku walau satu ayat. Hadis ini, menurutnya, menjadi motivasi bagi setiap muslim untuk tidak merasa kecil dalam berdakwah. “Jangan menunggu jadi ustadz besar untuk menyampaikan kebenaran. Satu ayat pun, jika diamalkan dan disampaikan, sudah bernilai dakwah,” ujarnya.
Menguatkan optimisme umat, Nur Chamsjah mengutip QS. Al-Isra’ ayat 81, “Dan katakanlah, ‘Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.’ Sungguh, yang batil itu pasti lenyap.” Ia menegaskan bahwa kebatilan pada hakikatnya rapuh dan tidak akan bertahan lama. “Tugas kita hanya istiqamah di jalan yang benar,” katanya.
Dalam kajian tersebut, beliau menjelaskan beberapa kategori menyampaikan kebenaran. Pertama, menjadi saksi yang jujur. Seorang muslim dituntut untuk tidak memutarbalikkan fakta. “Kejujuran adalah fondasi utama dalam bersaksi, baik di pengadilan maupun dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Kedua, memberi nasihat dengan hikmah sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nahl ayat 125, yang memerintahkan berdakwah dengan kebijaksanaan dan pengajaran yang baik. Beliau menekankan pentingnya pendekatan yang santun. “Nasihat yang benar harus disampaikan dengan cara yang benar pula,” ungkapnya, seraya mengingatkan bahwa pengalaman hidup dapat menjadi pelajaran berharga dalam memberi mauizah hasanah.
Ketiga, menyampaikan kebenaran melalui perilaku yang baik. Ia mengutip hadis, “Khoirukum man ta’allamal Qur’an wa ‘allamah” — sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya. Keteladanan, menurutnya, adalah dakwah paling efektif. “Perilaku yang baik adalah bukti nyata dari kebenaran yang kita yakini,” katanya.
Pada bagian akhir, Ustadz Nur Chamsjah menegaskan bahwa kebenaran hakiki adalah ajaran Islam, sebagaimana firman Allah, “Innad dina ‘indallahil Islam” yang artinya sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam. Ia mengingatkan bahwa Rasul memiliki empat sifat wajib, yakni shiddiq, amanah, tabligh, dan fathonah, yang harus diteladani dalam menyampaikan kebenaran. “Semoga Allah meneguhkan kita di atas kebenaran dan memberi taufik untuk berkata benar walau itu pahit,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....