Pengelolaan Lahan Gambut Harus Terpadu
- 02 Feb 2026 14:16 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (Untan), Prof. Gusti Hardiansyah menegaskan pengelolaan lahan gambut harus dilakukan secara terpadu, mengandalkan teknologi semata, pelaku usaha hingga masyarakat. Menurutnya, pengelolaan gambut harus dilakukan dengan berbasis data dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Selain itu Prof. Gusti menekankan pentingnya peran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam memberikan informasi cuaca, terutama terkait curah hujan. Informasi mengenai wilayah yang mengalami hujan maupun kondisi hari sebelumnya dinilai sangat penting sebagai dasar pengambilan keputusan di lapangan.
“Kalau BMKG menginformasikan hari ini hujan di mana, kemarin sudah hujan, itu patut kita syukuri. Data ini sangat membantu pengelolaan gambut,” jelasnya saat menjadi narasumber Pontianak Menyapa Senin, 2 Februari 2026.
Dirinya menambahkan, keberadaan titik panas (hotspot) juga dapat dijadikan indikator kondisi lahan gambut. Jika muncul hotspot, hal tersebut menandakan adanya kelemahan dalam pengelolaan kawasan gambut. Sebaliknya, apabila tidak ditemukan hotspot, berarti tingkat kelembapan gambut masih terjaga dengan baik.
Menurut Prof. Gusti, pengelolaan gambut yang ideal hanya bisa terwujud apabila seluruh pihak bergerak bersama, mulai dari teknologi, kelembagaan, pelaku usaha, hingga masyarakat.
“Semua harus bersama-sama. Tidak bisa jalan sendiri-sendiri,” tegasnya.
Secara nyata, kondisi gambut juga dapat dikenali dari warnanya. Gambut yang kering biasanya tampak berwarna pirang, sementara gambut yang basah cenderung berwarna gelap.
“Kalau sudah pirang-pirang, itu tandanya kering. Kalau masih gelap, berarti basah. Ini yang harus kita perbaiki supaya air bisa masuk kembali,” pungkasnya.
Baca juga: Akademisi Kehutanan Untan Jelaskan Teknologi Pengelolaan Air Gambut
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....