Kapan Hari Pertama Puasa 2026? Berikut Analisis Ilmiahnya

  • 29 Jan 2026 15:23 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Kepastian awal Ramadhan dan Idul Fitri selalu menjadi perhatian umat Islam setiap tahunnya. Menjelang tahun 2026, analisis ilmiah berbasis astronomi mulai mengerucutkan perkiraan awal Ramadhan 1447 Hijriyah, sekaligus membuka peluang adanya perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri.

Dosen ahli Penginderaan Jauh Jurusan Fisika FMIPA Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Prof. Ir. Jamrud Aminuddin, S.Si., M.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa penentuan awal Ramadhan di Indonesia dilakukan melalui Sidang Isbat Kementerian Agama RI. Sidang tersebut mengombinasikan metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal) dengan melibatkan para pakar terkait.

Terkait 1 Ramadhan 1447 H/2026 M, Prof. Jamrud memaparkan hasil perhitungan astronomi menggunakan perangkat lunak milik Islamic Astronomical Center (IAC). Titik pengamatan ditetapkan di Gedung C FMIPA Unsoed dengan koordinat bujur 109°15’15,0” BT dan lintang 7°24’37,0” LS pada zona waktu WIB (UTC +7).

Berdasarkan perhitungan tersebut, konjungsi atau ijtimak diperkirakan terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 19.01 WIB. Namun, karena Matahari terbenam lebih dahulu pada pukul 18.16 WIB, malam itu belum dapat dinyatakan sebagai awal bulan baru menurut kaidah falak yang disepakati para ahli.

Pada Rabu, 18 Februari 2026, posisi hilal diperkirakan sudah berada pada ketinggian sekitar 9 derajat 31 menit dengan sudut elongasi sekitar 11 derajat 54 menit. Nilai ini telah melampaui kriteria MABIMS, yakni ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi lebih dari 6,4 derajat, sehingga awal Ramadhan 1447 H sangat memungkinkan dimulai pada Rabu malam tersebut.

Prof. Jamrud menambahkan, pada hari pengamatan, Jurusan Fisika FMIPA Unsoed akan turut melakukan rukyat hilal dari rooftop kampus. Pengamatan menggunakan teleskop Sky-Watcher BK909 NEQ2 yang telah dilengkapi sistem penggerak otomatis dan terintegrasi dengan perangkat lunak SkyPlanetarium, sehingga mampu membidik posisi hilal secara presisi tanpa memerlukan keahlian khusus.

Sementara itu, penetapan 1 Syawal 1447 Hijriyah atau Hari Raya Idul Fitri diperkirakan akan lebih menantang. Berdasarkan analisis astronomi, konjungsi diprediksi terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 08.23 WIB, namun saat Matahari terbenam sekitar pukul 18.04 WIB, posisi hilal belum memenuhi kriteria MABIMS.

Ketinggian hilal pada saat itu diperkirakan hanya sekitar 2 derajat 31 menit dengan sudut elongasi sekitar 5 derajat 43 menit. Kondisi tersebut masih berada di bawah ambang batas visibilitas, sehingga terdapat kemungkinan 1 Syawal tidak ditetapkan pada hari tersebut di Indonesia, meskipun di kawasan Timur Tengah hilal berpeluang terlihat beberapa jam kemudian.

Sebagai kesimpulan, Prof. Jamrud menilai penentuan awal Ramadhan 1447 Hijriyah relatif lebih mudah dan berpotensi seragam. Sebaliknya, penetapan awal Syawal diprediksi rawan perbedaan karena selisih kriteria visibilitas hilal yang sangat tipis dibandingkan standar MABIMS.

Meski demikian, Prof. Jamrud menegaskan bahwa seluruh analisis ini bersifat ilmiah dan edukatif. Keputusan resmi mengenai awal Ramadhan dan Idul Fitri tetap menjadi kewenangan Pemerintah Republik Indonesia melalui Sidang Isbat Kementerian Agama, sehingga masyarakat diimbau menunggu pengumuman resmi dari otoritas terkait.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....