Ngopi: Ruangnya Para Ilmuwan UIN Mataram

  • 29 Jan 2026 11:56 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID., Mataram - Di tengah zaman yang bergerak cepat, penuh distraksi, dan sering kali riuh oleh opini tanpa landasan ilmiah, keberadaan ruang dialog ilmuwan menjadi kebutuhan mendesak. Bukan sekadar kebutuhan akademik, tetapi kebutuhan peradaban.

Dalam konteks inilah Program “Ngopi” (Ngobrol para Ilmuwan) yang digagas LP2M UIN Mataram layak diapresiasi sebagai ikhtiar cerdas, relevan, dan bernilai strategis dalam merawat tradisi keilmuan yang kian tergerus oleh budaya instan.

“Ngopi” menghadirkan format yang sederhana namun bermakna: ilmuwan duduk setara, berbincang santai, tetapi membahas persoalan secara serius dan bernas. Ia mengingatkan kita bahwa ilmu pengetahuan, pada hakikatnya, lahir dan tumbuh dari dialog bukan monolog; dari keberanian bertanya bukan sekadar kepastian yang mapan. Dalam suasana cair dan manusiawi, ilmu kembali ke fitrahnya: dialogis, terbuka, kritis, dan membebaskan.

Kepercayaan publik terutama sivitas akademika bahwa program ini tidak lahir dari ruang hampa tentu beralasan. Ada rekam jejak, integritas, dan visi yang menopangnya. Dalam hal ini, kepemimpinan Prof. Kadri sebagai Ketua LP2M menjadi faktor penting. Ia merepresentasikan tipe kepemimpinan akademik yang memahami bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terkurung di menara gading. Ilmu harus turun ke ruang publik, bersentuhan dengan realitas, berbicara dengan bahasa yang jernih, dan berani menjawab problem nyata masyarakat.

“Ngopi” dengan demikian bukan sekadar program diskusi, melainkan simbol etos akademik: bahwa kampus tidak cukup hanya memproduksi pengetahuan, tetapi juga harus mengomunikasikannya; tidak cukup melahirkan jurnal, tetapi juga membangun makna; tidak cukup mengajar di kelas, tetapi juga hadir dalam denyut kehidupan sosial. Di sinilah “Ngopi” menemukan relevansinya sebagai jembatan antara dunia akademik dan realitas masyarakat.

Namun, apresiasi yang tulus justru menuntut sikap kritis yang konstruktif. Dukungan tanpa kritik berisiko melahirkan kenyamanan yang mematikan daya dobrak. “Ngopi” tidak boleh berhenti sebagai forum diskusi yang hangat tetapi berakhir dingin dalam dampak. Ia mesti melampaui seremoni intelektual dan berkembang menjadi ruang produksi gagasan, inkubator pemikiran, serta simpul keberlanjutan riset yang berorientasi solusi.

Percakapan ilmuwan seharusnya tidak berhenti pada pertukaran wacana, tetapi bermuara pada sesuatu yang bisa ditindaklanjuti: rekomendasi kebijakan, model pemberdayaan masyarakat, peta jalan riset, atau setidaknya kerangka berpikir baru yang memberi arah. Di titik inilah “Ngopi” diuji apakah ia hanya menjadi ruang refleksi intelektual, atau juga ruang transformasi sosial.

Lebih jauh, keberagaman disiplin dan keberanian berdebat secara sehat perlu terus diperluas. “Ngopi” akan kehilangan daya hidupnya jika terlalu nyaman, terlalu homogen, atau terlalu aman. Ilmu pengetahuan tidak tumbuh dari keseragaman, melainkan dari perbedaan argumen yang dikelola secara etis dan bermartabat. Ketegangan nalar adalah keniscayaan dalam dunia akademik dan justru dari sanalah kejernihan berpikir dilahirkan.

LP2M, dalam hal ini, memikul tanggung jawab penting: memastikan bahwa “Ngopi” benar-benar menjadi ruang dialektika, bukan sekadar etalase akademik. Ruang di mana pandangan arus utama boleh diuji, pendapat mayoritas boleh dipertanyakan, dan suara berbeda tidak dianggap sebagai ancaman, melainkan sebagai kontribusi intelektual yang sah dan diperlukan.

Kritik yang disampaikan tentu tidak dimaksudkan sebagai jarak, melainkan sebagai bentuk kesiapan untuk membersamai. Membersamai bukan berarti selalu sepakat. Justru dalam perbedaan yang jujur dan argumentatif, kualitas akademik dijaga. Jika “Ngopi” membutuhkan penguatan konseptual, jejaring lintas disiplin, atau bahkan suara yang berseberangan demi menjaga ketajaman intelektualnya, maka itu adalah tanggung jawab bersama komunitas ilmiah.

Pada akhirnya, “Ngopi” adalah harapan kolektif. Harapan bahwa kampus kembali menjadi mercusuar intelektual, bukan sekadar pabrik ijazah. Bahwa ilmuwan hadir bukan hanya sebagai komentator, tetapi sebagai penunjuk arah zaman. Dan bahwa kepemimpinan akademik seperti yang kini diemban Prof. Kadri terus menjaga keberanian berpikir, kejernihan nurani, serta keberpihakan pada kemaslahatan publik.

Ngopi boleh santai. Dialognya boleh cair. Namun tanggung jawab keilmuannya harus tetap serius, berani, dan berdampak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....