Sorgum Dinilai Solusi Pangan Lahan Kering NTB
- 28 Jan 2026 20:13 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Lahan kering yang mendominasi wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung ketahanan pangan daerah. Selama ini, pola budidaya yang diterapkan kerap meniru daerah beririgasi, padahal kondisi agroekosistemnya sangat berbeda. Pendekatan yang tidak sesuai justru berisiko menurunkan produktivitas dan kualitas tanah.
Guru Besar Universitas Mataram (Unram), Prof. Ir. Suwardji, M.App.Sc., Ph.D., memandang strategi pertanian di wilayah kering harus berbasis kesesuaian lahan dan ketersediaan air. Ia menilai pemaksaan komoditas tertentu tanpa mempertimbangkan faktor lingkungan hanya akan merugikan petani dalam jangka panjang. Karena itu, diperlukan komoditas yang memang adaptif terhadap kekeringan.
Salah satu tanaman yang dinilai potensial adalah sorgum, yang dikenal tahan terhadap kondisi air terbatas. Selain bijinya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, bagian lain tanaman ini juga memiliki nilai ekonomi. Fleksibilitas inilah yang membuat sorgum dinilai cocok dikembangkan di NTB.
“Kita tidak bisa terus memaksakan padi di lahan yang memang tidak cocok, karena itu hanya akan menurunkan produktivitas dan merusak tanah dalam jangka panjang, sementara ada tanaman seperti sorgum yang secara ekologis jauh lebih sesuai dengan kondisi lahan kering kita,” jelasnya, Rabu 28 Januari 2026.
Menurutnya, hasil uji tanam di beberapa lokasi menunjukkan sorgum mampu tumbuh baik dengan kebutuhan air yang lebih rendah dibanding tanaman pangan konvensional. Tanaman ini juga dinilai membantu menjaga struktur tanah melalui sistem perakarannya. Temuan tersebut memperkuat pentingnya pendekatan ilmiah dalam menentukan komoditas unggulan.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan pengembangan komoditas tidak cukup berhenti di tingkat produksi. Dukungan pasar dan industri pengolahan sangat menentukan minat petani untuk beralih. Tanpa jaminan serapan hasil, komoditas alternatif sulit berkembang luas.
| Baca juga: Realisasi SPAM Ai Ngelar Butuh Rp249 Miliar |
“Petani akan mau menanam kalau ada jaminan pasar yang jelas dan harga yang menguntungkan, sehingga tugas kita bukan hanya memperkenalkan tanamannya, tetapi juga membangun ekosistem usaha di belakangnya,” ujarnya.
Ia juga menilai pengembangan sorgum dapat menjadi bagian dari upaya diversifikasi pangan. Ketergantungan berlebihan pada satu komoditas dinilai berisiko di tengah perubahan iklim. Karena itu, masyarakat perlu mulai mengenal sumber pangan alternatif yang sesuai dengan potensi daerah.
“Kalau sejak kecil masyarakat sudah dikenalkan dengan pangan alternatif yang bergizi dan sesuai dengan potensi daerahnya, maka ketahanan pangan akan jauh lebih kokoh dibanding hanya bergantung pada satu jenis bahan makanan saja,” tuturnya.
Prof. Suwardji berharap pemerintah daerah memberi perhatian lebih pada pengembangan pertanian lahan kering berbasis riset. Kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha dinilai penting untuk membangun sistem dari hulu hingga hilir. Dengan langkah terarah, NTB dinilai berpeluang menjadi contoh pengembangan pangan lahan kering di Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....