Menghidupkan Ibadah di 10 Hari Terakhir Ramadhan
- 10 Mar 2026 07:26 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah. Pada periode ini, Rasulullah SAW mencontohkan kesungguhan beribadah lebih besar dibanding hari-hari sebelumnya.
Dai Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF) Surabaya, Ustad Muhaemin Mardi, mengatakan sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan waktu istimewa bagi umat Islam untuk mengerahkan kemampuan fisik dan mental dalam meningkatkan ibadah.
“Ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, kita bisa mengerahkan kekuatan fisik dan mental untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar atau malam kemuliaan, karena pada malam itu Allah mengistijabah doa-doa hamba-Nya,” kata Ustad Muhaemin saat memberikan tausiyahnya dalam program Mutiara Pagi Pro1 RRI Surabaya, Selasa, 10 maret 2026. .
Ia menambahkan, Rasulullah SAW memberi teladan dengan meningkatkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, termasuk melakukan i’tikaf dan memperbanyak ibadah malam.
Ustad Muhaemin juga menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak hanya meningkatkan ibadah pribadi, tetapi juga mengajak keluarga untuk meraih keutamaan malam tersebut.
“Rasulullah bahkan membangunkan keluarganya untuk bangun malam dan beribadah, agar bersama-sama meraih keberkahan Lailatul Qadar,” ujarnya.
Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam hadis dari Aisyah RA, bahwa Rasulullah SAW ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
Selain itu, Rasulullah SAW juga mencontohkan sejumlah amalan lain pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, di antaranya melaksanakan qiyamul lail atau shalat malam, memperbanyak membaca Al-Qur’an, berdzikir, serta memperbanyak doa.
Salah satu doa yang dianjurkan ketika mencari malam Lailatul Qadar adalah doa yang diajarkan Rasulullah kepada Aisyah RA, yakni “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” yang artinya “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai memaafkan, maka maafkanlah aku.” (HR Tirmidzi).
Rasulullah SAW juga melakukan i’tikaf di masjid pada sepuluh malam terakhir Ramadhan untuk lebih fokus beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah.
Ustad Muhaemin menilai sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan hari-hari istimewa dari dua belas bulan dalam setahun, sehingga seharusnya menjadi momentum bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah.
“Ini hari-hari istimewa dari dua belas bulan. Harusnya kita punya energi besar untuk meningkatkan ibadah sebelum Ramadhan berakhir,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....