Retno Wulan: Ramadan Perjalanan Spiritual dan Kiprah Merawat Perbedaan

  • 04 Mar 2026 15:00 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Bulan Ramadan menjadi momentum refleksi mendalam bagi banyak orang, termasuk bagi Retno Wulan Awfa Lestari, Koordinator Pengurus Harian Perkumpulan Indonesia Merayakan Perbedaan (IMP). Bagi Retno, perjalanan spiritual bukan hanya soal ibadah personal, tetapi juga tentang bagaimana nilai-nilai keimanan diterjemahkan dalam kerja-kerja sosial yang merawat kebhinekaan.

Dalam Kisah Unik Ramadhan (KURMA) yang disiarkan di Pro 1 RRI Surabaya, Rabu, 4 Maret 2026, Wulan, sapaan akrabnya, menuturkan, proses spiritualnya tidak terjadi secara instan. Ia mengaku mengalami fase pencarian makna beragama yang lebih substansial, dari sekadar menjalankan kewajiban ritual, menuju kesadaran bahwa agama juga menuntun pada sikap empati, penghormatan, dan keberpihakan pada kemanusiaan.

“Di Bulan Ramadan ini, saya ingin flashback ke masa lalu, di mana agama Islam mengajarkan saya untuk lebih jujur pada diri sendiri, lebih peka pada sesama, dan lebih bertanggung jawab atas peran sosial,” ujarnya.

Menurutnya, nilai puasa seperti menahan diri, mengendalikan emosi, serta memperkuat kepedulian sosial menjadi fondasi penting dalam membangun ruang dialog lintas perbedaan. Hal itulah yang kemudian menguatkan langkahnya untuk aktif di Indonesia Merayakan Perbedaan.

Sementara itu, terkait perannya di Indonesia Merayakan Perbedaan (IMP), Ia berperan mengoordinasikan program-program harian organisasi yang berfokus pada penguatan toleransi dan literasi keberagaman. Ia menilai, kerja-kerja merawat perbedaan sejatinya merupakan bagian dari praktik spiritual yang nyata.

“Keberagaman di Indonesia adalah anugerah. Tapi anugerah itu harus dirawat dengan kesadaran toleransi dan komitmen bersama,” katanya.

IMP selama ini dikenal aktif mendorong ruang dialog antaragama, edukasi inklusivitas di kalangan generasi muda, serta kampanye publik untuk melawan diskriminasi. Dalam perannya sebagai koordinator, Wulan memastikan setiap program berjalan dengan pendekatan kolaboratif dan partisipatif.

“Perbedaan adalah hal yang biasa. Ketika orang saling mengenal, maka prasangka perlahan runtuh. Sebab pada hakekatnya, spiritualitas yang matang akan melahirkan keberanian untuk berdiri di tengah, merangkul, dan menjadi jembatan,” katanya.

Ia menekankan bahwa membangun toleransi tidak cukup hanya dengan slogan, melainkan melalui perjumpaan langsung dan percakapan yang setara. Ia berharap generasi muda tidak hanya memahami agama dari sisi normatif, tetapi juga kontekstual, yakni bagaimana ajaran agama mampu menjawab tantangan sosial, termasuk isu intoleransi dan polarisasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....