Rawat Toleransi, Takjil Jadi Ruang Perjumpaan Lintas Iman
- 09 Mar 2026 03:53 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Ramadan tidak hanya sekadar soal ibadah umat Muslim. Ramadan juga menjadi momen indahnya kebersamaan antarumat beragama.
Seperti halnya realita masyarakat dari berbagai keyakinan yang ramai-ramai berbagi takjil. Begitupun fenomena war takjil yang kini menjadi tradisi tahunan dalam menghangatkan suasana bulan suci Ramadan.
Direktur Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin, Dani, menilai hal ini menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat akan toleransi semakin membaik, khususnya di Kota Banjarmasin. Ramadan memang selalu berhasil menyatukan kepedulian semua orang tanpa perlu memperdebatkan latar belakang keyakinan masing-masing.
"Saya melihat semua orang, semua agama mempunyai kepedulian yang sama terhadap Ramadan," ujar Dani, Sabtu, 7 Maret 2026.
Menurut Dani, rasa saling memiliki ini paling nyata terlihat saat aksi berbagi makanan atau momen buka puasa bersama. Gerakan sederhana tersebut menjadi simbol kuat bahwa masyarakat sangat menghargai warna perbedaan.
"Penting bagi kita untuk terus menyampaikan pemahaman bahwa hidup dalam keberagaman bukanlah sebuah permasalahan," katanya.
Ruang-ruang perjumpaan seperti inilah yang membuat masyarakat bisa saling mengenal satu sama lain secara lebih dalam. Dani berharap semangat kepedulian ini tidak berhenti saat Ramadan usai, namun tetap terbawa dalam keseharian masyarakat di Kota Seribu Sungai.
Kesan mendalam pun turut dirasakan oleh Hans, seorang Pemuda Katolik yang selalu antusias terlibat dalam berbagai kegiatan sosial lintas iman. Baginya, momen berbagi takjil dan buka puasa bersama adalah hal spesial untuk meruntuhkan sekat-sekat perbedaan yang ada.
"Sebagai seorang Katolik, tradisi berbuka bersama atau juga berbagi takjil ini menjadi momen yang sangat spesial. Ini suatu hal yang luar biasa," katanya.
Kesempatan berbincang dengan banyak orang dari berbagai keyakinan memberinya perspektif baru tentang arti persaudaraan yang sesungguhnya. Hans merasa relasi yang terbangun lewat aksi kecil ini jauh lebih bermakna daripada sekadar teori tentang toleransi.
"Karena saya bisa berbincang dan berbagi dengan teman-teman lainnya. Saya bisa membangun relasi yang lebih baik lagi," ucapnya.
Menurutnya, tradisi yang terus dirawat ini kian menegaskan bahwa masyarakat semakin memahami makna dari kehangatan toleransi. Kini toleransi bukan lagi sekadar ucapan manis, melainkan menjadi bagian dari hidup masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....