KURMA: Dakwah dan Kearifan Lokal di TTS
- 26 Feb 2026 20:36 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Dakwah di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) tidak cukup hanya mengandalkan ceramah di mimbar. Pendekatan budaya dan kemampuan beradaptasi menjadi kunci agar pesan keagamaan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat yang hidup dalam keberagaman.
Hal inilah yang mengemuka dalam Program Kurma – Kisah Unik Ramadan di RRI Pro 1 Kupang, Rabu, 25 Februari 2026. Koordinator Dai 3T NTT yang bertugas di Kabupaten TTS, Achmad Zainuri, SE., MM., CDAI, menegaskan bahwa langkah utama yang harus dilakukan seorang dai saat bertugas di daerah seperti Timor Tengah Selatan (TTS) adalah adaptasi.
“Yang utama adalah adaptasi. Kita belajar tentang budaya mereka, mengenal kehidupan mereka, lalu menyisipkan nilai-nilai dakwah di dalamnya,” ujarnya. Menurutnya, dakwah di TTS tidak hanya dilakukan di masjid atau dalam kegiatan formal Ramadan, tetapi lebih banyak melalui pembauran dalam aktivitas sehari-hari masyarakat.
Ia menekankan pentingnya menghargai pluralisme, karena tidak semua masyarakat setempat beragama Islam.
“Kita tidak boleh membatasi diri hanya bergaul dengan yang seagama. Kita harus berdakwah dan berteman dengan siapa pun selama itu dalam kebaikan,” katanya.
Achmad juga membagikan pengalamannya terkait kearifan lokal di TTS, seperti tradisi penyambutan dengan pengalungan selendang adat yang menurutnya menjadi simbol penghormatan luar biasa. Ia mengaku terkesan dengan keramahan warga serta kehidupan sosial yang sederhana namun hangat.
Selain itu, ia turut terlibat dalam kegiatan bakti sosial Ramadan di kampung mualaf seperti Ki'e dan Oinlasi, yang menurutnya menunjukkan antusiasme tinggi masyarakat terhadap kebersamaan dan solidaritas. Untuk Ramadan tahun ini, ia merencanakan sejumlah kegiatan lanjutan, mulai dari pendidikan anak-anak TPA, pengenalan seni Islam seperti kaligrafi dan tilawah, hingga safari dakwah ke wilayah pelosok yang membutuhkan perjalanan hingga dua jam dari pusat kota.
Kolaborasi dengan pemuda masjid juga dilakukan melalui kegiatan tadarus dan rencana pesantren kilat selama satu hingga dua pekan. Di akhir perbincangan, Achmad berpesan kepada generasi muda agar tidak merusak kearifan lokal di mana pun mereka berada.
Ia menekankan pentingnya adab sebelum ilmu dalam berdakwah. “Ada strategi dakwah berbasis budaya yang berfokus pada akhlakul karimah," ujarnya.
"Adab itu lebih tinggi dari ilmu. Dakwah yang damai dan tidak memaksakan akan lebih mudah diterima oleh siapa pun,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....