Blunder Taktik Thomas Tuchel Dinilai jadi Biang Kekalahan Inggris di Semifinal

  • 18 Jul 2026 13:02 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong - Tim Nasional Inggris harus menelan pil pahit setelah ditumbangkan Argentina dengan skor tipis dalam laga sengit babak semi final Piala Dunia yang berlangsung di Stadion Monumental Antonio Vespucio Liberti. Kekalahan ini memicu gelombang kritik keras dari fans dan pandit sepak bola, yang mayoritas menunjuk hidung sang manajer, Thomas Tuchel, sebagai biang keladi utama akibat blunder taktik yang fatal.

Inggris sebenarnya memulai laga dengan sangat menjanjikan di hadapan publik stadion yang bergemuruh. Mereka sempat mendominasi lini tengah dan merepotkan barisan pertahanan Tim Tango. Namun, petaka dimulai di pertengahan babak kedua ketika Tuchel mengambil keputusan kontroversial yang mengubah total jalannya pertandingan.

Mengganti Pilar Utama Saat Di Atas Angin

Secara mengejutkan, Thomas Tuchel menarik keluar tiga pemain pilarnya sekaligus—termasuk motor serangan di lini tengah dan bek sayap yang tampil solid sepanjang laga. Keputusan ini diambil dengan dalih menjaga kebugaran pemain dan menyegarkan stamina tim.

Tiga pemain kunci yang ditarik keluar tersebut adalah:

  • Anthony Gordon (pencetak gol Inggris) digantikan oleh Kieran Trippier untuk menambah jumlah bek di lapangan.

  • Declan Rice (jangkar pertahanan) digantikan oleh Conor Gallagher dengan harapan menyegarkan stamina lini tengah.

  • Bukayo Saka (motor serangan sayap) digantikan oleh Jarrod Bowen untuk memperkuat pertahanan di area flank.

Namun yang terjadi justru sebaliknya:

  • Kehilangan Kreativitas: Tanpa sang playmaker utama, aliran bola Inggris macet total.

  • Kehilangan Jiwa Kepemimpinan: Pergantian ini merusak ritme dan organisasi permainan yang sudah matang sejak menit awal.

  • Memberi Angin Segar bagi Lawan: Argentina, yang sebelumnya kesulitan menembus sepertiga akhir lapangan, langsung mengambil alih kendali permainan.

Strategi "Parkir Bus" yang Berujung Bencana

Setelah mengganti para pemain kunci, Tuchel menginstruksikan timnya untuk bermain ultra-defensif alias "parkir bus". Berharap bisa mengamankan hasil, lini pertahanan Inggris justru terus-menerus digempur oleh barisan penyerang Argentina.

"Bermain bertahan melawan Argentina di semifinal Piala Dunia sama saja dengan bunuh diri. Anda tidak bisa membiarkan tim dengan kreativitas setinggi mereka menguasai bola selama 20 menit akhir di area penalti Anda. Keputusan Tuchel malam tersebut sangat sulit dipahami." Ujar Putra Purba Reporter Senior Olah Raga RRI Sorong.

Benar saja, terus ditekan membuat lini belakang Inggris kehilangan konsentrasi. Memanfaatkan celah di menit-menit akhir, penyerang Argentina berhasil melepaskan tembakan melengkung yang tak mampu dihalau kiper Inggris. Skor berubah, dan seisi stadion bergemuruh merayakan tiket menuju partai final.

Statistik Pertandingan (25 Menit Terakhir)

Aspek Permainan

Inggris

Argentina

Penguasaan Bola

28%

72%

Tembakan (Tepat Sasaran)

0 (0)

9 (4)

Pelanggaran di Area Sendiri

7

1

Dengan kekalahan ini, langkah Inggris harus terhenti di babak empat besar. Thomas Tuchel kini menghadapi tekanan hebat dan tuntutan pertanggungjawaban atas strategi pergantian pemain serta taktik bertahan yang dinilai terlalu pengecut untuk tim sekelas The Three Lions. dengan kekalahan ini, maka Inggris hanya bisa merebut juara ke-3 piala dunia 2026, dengan catatan mampu mengalahkan Tim Nasional Perancis yang di semi final kalah dramatis 2-0 ketika berjumpa Timnas Spanyol

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....