24 Tahun Puasa Gelar, Mengapa Brasil Selalu Gagal di Piala Dunia?

  • 18 Mei 2026 15:39 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong : Setiap kali perhelatan Piala Dunia bergulir, ada satu hukum tidak tertulis di jagat sepak bola: Brasil akan selalu ditempatkan di daftar teratas calon juara. Berstatus sebagai pemilik bintang lima terbanyak, Selecao adalah simbol kemewahan taktik dan talenta magis. Namun, status favorit tersebut kian hari kian terasa seperti beban sejarah yang teramat berat.

Faktanya, tim Samba terakhir kali merengkuh trofi emas Piala Dunia pada tahun 2002 silam di Korea-Jepang. Saat itu, generasi emas yang dimotori oleh trio lini serang mematikan—Ronaldo Nazario, Rivaldo, dan Ronaldinho—berhasil menumbangkan Jerman di partai final.

Sejak kejayaan di Yokohama tersebut, Brasil seolah kehilangan kesaktiannya di panggung tertinggi.

Tembok Tebal Benua Biru

Jika ditelisik lebih dalam, dalam dua dekade terakhir, langkah Brasil selalu kandas oleh keangkuhan tim-tim Eropa di fase gugur. Perjalanan mereka kerap kali terhenti secara tragis:

  • 2006: Disingkirkan Prancis di perempat final.
  • 2010: Dikandaskan Belanda di perempat final.
  • 2014: Tragedi kemanusiaan sepak bola Mineirazo – dibantai Jerman 1-7 di rumah sendiri (Semifinal).
  • 2018: Ditumbangkan Belgia di perempat final.
  • 2022: Kalah drama adu penalti dari Kroasia di perempat final.

Melihat peta kekuatan sepak bola modern, Brasil sebenarnya tidak pernah kekurangan talenta. Dari era Neymar Jr hingga kini tongkat estafet beralih ke Vinicius Jr dan Rodrygo, lini serang Brasil selalu menjadi yang paling ditakuti. Namun, mengapa peluang emas itu selalu menguap?

Romantisme Joga Bonito vs Kolektivitas Modern

Ada beberapa faktor krusial yang dinilai para pengamat menjadi batu sandungan utama Brasil dalam beberapa edisi terakhir:

  1. Ketergantungan pada Figur Sentral: Selama lebih dari satu dekade, permainan Brasil terlalu "Neymar-sentris". Ketika sang megabintang dimatikan atau cedera, organisasi permainan tim sering kali buntu.
  2. Kesenjangan Taktis dengan Eropa: Kompetisi taktis di Eropa berkembang sangat pesat dengan mengandalkan kolektivitas, transisi cepat, dan kedisiplinan ruang. Brasil sering kali terjebak pada romantisasi Joga Bonito (permainan indah) yang terkadang kurang pragmatis di fase gugur yang krusial.
  3. Tekanan Mental King Maker: Menyandang status sebagai "Negara Sepak Bola" membuat tuntutan publik domestik sangat ekstrem. Minimnya ketahanan mental saat menghadapi situasi krusial (seperti adu penalti) sering kali menjadi bumerang bagi pemain muda mereka.

Menanti Kebangkitan Samba

Menuju Piala Dunia 2026 yang akan datang, tantangan Brasil bukan lagi sekadar lolos dari kualifikasi Zona Conmebol, melainkan bagaimana membangun mentalitas juara yang baru. Generasi baru Brasil di bawah asuhan pelatih saat ini dituntut untuk tidak hanya bermain indah, tetapi juga taktis dan berdarah dingin.

Publik sepak bola dunia tentu rindu melihat tarian Samba di podium tertinggi. Namun, jika mereka tidak mampu memecahkan masalah kedalaman taktik dan mentalitas di laga-laga besar, bukan tidak mungkin puasa gelar yang kini sudah berjalan 24 tahun akan melorot semakin lama.

Bagaimanakah menurut Anda, apakah kutukan dua dekade ini akan pecah di Piala Dunia 2026 nanti, ataukah Brasil kembali hanya akan menjadi pelengkap status favorit di atas kertas?

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....