Geliat Ekonomi Nasional Dampak Piala Dunia 2026 Menyentuh Angka 5 Triliun Lebih

  • 18 Jul 2026 10:53 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia mengungkapkan, penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2026 telah memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi Indonesia. Berdasarkan kajian yang disusun KADIN Indonesia, rangkaian kegiatan Piala Dunia, baik melalui aktivitas siaran (on air) maupun berbagai kegiatan masyarakat (off air), diperkirakan menghasilkan perputaran ekonomi langsung dan tidak langsung lebih dari Rp5,03 triliun.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bidang Pemberdayaan Ekonomi Daerah, Kukrit Suryo Wicaksono, menyebutkan, Piala Dunia 2026 menjadi contoh bagaimana sebuah ajang olahraga internasional mampu menggerakkan aktivitas ekonomi lintas sektor.

"Piala Dunia 2026 tidak hanya memberikan manfaat bagi perusahaan besar dan pemilik merek nasional, tetapi juga menghadirkan peluang ekonomi bagi hotel, restoran, kafe, pedagang makanan, pelaku industri kreatif, penyedia jasa, hingga UMKM di berbagai daerah," katanya, Jumat, 17 Juli 2026.

Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia memperkirakan event Piala Dunia FIFA 2026 akan mendorong perputaran ekonomi nasional lebih dari Rp5 triliun. Nilai tersebut berasal dari berbagai aktivitas ekonomi yang berlangsung sejak masa persiapan hingga pelaksanaan turnamen, termasuk penyiaran, belanja iklan, sponsorship, promosi produk, serta peningkatan penjualan perangkat elektronik dan merchandise.

Selain itu, dampak ekonomi juga diproyeksikan dirasakan oleh sektor hotel, restoran, dan kafe (HOREKA), kegiatan nonton bareng, hingga pelaku UMKM yang berpartisipasi dalam berbagai kegiatan, termasuk Festival Rakyat 2026. KADIN menilai manfaat ekonomi Piala Dunia FIFA 2026 tidak hanya berpusat pada pertandingan, tetapi juga menggerakkan berbagai sektor usaha dan aktivitas ekonomi masyarakat di berbagai daerah.

Efek pengganda

Di Yogyakarta, salah satu lokasi penyelenggaraan nobar akan digelar di Teras Malioboro, kawasan strategis yang mampu menampung ratusan penonton. Kehadiran masyarakat di lokasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan aktivitas ekonomi dan mendorong penjualan para pelaku UMKM yang berjualan di kawasan Teras Malioboro, sehingga manfaat ekonomi Piala Dunia FIFA 2026 dapat dirasakan lebih luas.

Berdasarkan perhitungan KADIN Indonesia, nilai ekonomi tersebut berasal dari sekitar Rp1,76 triliun dari aktivitas promosi berbagai produk melalui iklan on air, Rp850 miliar dari kegiatan komersial off air, sekitar Rp2,4 triliun dari sektor HOREKA, serta kontribusi ekonomi yang dihasilkan melalui beragam event termasuk Festival Rakyat 2026.

KADIN Indonesia memperkirakan, selain perputaran ekonomi langsung sebesar Rp5,03 triliun, kegiatan Piala Dunia 2026 juga memiliki potensi untuk menciptakan efek pengganda ekonomi lanjutan (multiplier effect). Hal ini karena, selain meningkatkan konsumsi, rangkaian Piala Dunia 2026 juga mendorong investasi pelaku usaha dalam perangkat televisi, proyektor, set top box, sistem audio, kapasitas tempat duduk, serta fasilitas layanan makanan dan minuman.

Dampak tersebut sejalan dengan pertumbuhan sektor penyediaan akomodasi, makanan, dan minuman yang dalam laporan tercatat tumbuh 13,14 persen secara tahunan pada Triwulan I 2026, menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan tertinggi.

Partisipasi publik penggerak ekonomi

Besarnya dampak ekonomi dari penyiaran Piala Dunia FIFA 2026 didukung tingginya partisipasi masyarakat selama turnamen. Berdasarkan survei Lokadata terhadap 1.176 responden di 10 wilayah Indonesia pada 7–13 Juli 2026, sebanyak 78,1 persen responden mengikuti kegiatan nonton bareng (nobar) sedikitnya satu kali. Rata-rata pengeluaran mencapai sekitar Rp51.000 per kegiatan atau sekitar Rp145.000 per orang selama turnamen, yang sebagian besar digunakan untuk membeli makanan, minuman, paket data, dan kebutuhan pendukung lainnya sehingga turut menggerakkan UMKM.

Survei yang sama juga menunjukkan tingginya apresiasi masyarakat terhadap penyiaran Piala Dunia FIFA 2026 oleh TVRI. Sebanyak 79,9 persen responden memberikan penilaian positif, sementara 73 persen menyatakan bangga TVRI menjadi penyiar resmi turnamen. Menurut Chief Data Officer Lokadata, Suwandi Ahmad, tingginya tingkat kepuasan tersebut mencerminkan keberhasilan penyelenggaraan siaran yang dinilai mudah diakses, gratis, dan minim iklan oleh masyarakat.

"Hasil survei Lokadata menunjukkan sentimen positif yang konsisten di berbagai wilayah Indonesia. Temuan ini mengindikasikan bahwa strategi TVRI menghadirkan siaran gratis yang mudah diakses, dengan jeda iklan yang terbatas, mampu memenuhi harapan masyarakat untuk memperoleh akses terhadap informasi dan hiburan berkualitas," ujar Suwandi.

Manfaat publik

Ia menambahkan, tingginya tingkat kepercayaan publik juga tercermin dari besarnya rasa bangga masyarakat terhadap TVRI sebagai penyiar resmi Piala Dunia FIFA 2026. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa penyiaran publik memiliki peran penting dalam menghadirkan tayangan berkualitas yang dapat diakses secara luas oleh seluruh lapisan masyarakat.

Di sisi lain, Direktur Utama TVRI, Fiki Satari, mengatakan bahwa keberhasilan penyelenggaraan Piala Dunia tidak hanya diukur dari kualitas siaran pertandingan, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat.

"Kepercayaan yang diberikan kepada TVRI sebagai penyiar resmi FIFA merupakan amanah yang kami jalankan untuk memastikan seluruh masyarakat Indonesia dapat menikmati Piala Dunia secara gratis. Kami bersyukur penyelenggaraan ini tidak hanya menghadirkan tontonan berkualitas, tetapi juga mampu menciptakan ruang kebersamaan serta memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat di berbagai daerah," ujar Fiki.

Menurut Fiki, penyelenggaraan Piala Dunia membuktikan bahwa penyiaran publik dapat menjadi penghubung antara masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha dalam menghadirkan manfaat yang melampaui aspek hiburan.

"Saya menyampaikan apresiasi kepada pengurus KADIN yang menunjukkan komitmen untuk menyukseskan kegiatan ini pendukung selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026 melalui kolaborasi dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah, termasuk dukungannya terhadap TVRI," katanya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, TNI, Polri, komunitas, serta berbagai pihak yang telah berkolaborasi mendukung penyelenggaraan kegiatan on air maupun off air selama Piala Dunia 2026. Piala Dunia FIFA 2026 membuktikan bahwa penyelenggaraan ajang olahraga internasional tidak hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga mampu menjadi instrumen penggerak ekonomi nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....