Piala Dunia 2026, Lompatan Besar Pedro Porro dari Don Benito
- 10 Jul 2026 20:25 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Los Angeles – Tak disangka sebelumnya, Pedro Porro ternyata mampu tampil impresif di posisi bek kanan Spanyol pada Piala Dunia 2026. Ia tidak hanya berkontribusi dalam catatan lima pertandingan beruntun La Roja tanpa kebobolan—rekor yang terakhir kali dicapai di panggung Piala Dunia oleh Italia saat menjadi tuan rumah pada 1990—tetapi juga mencetak gol pertamanya untuk tim nasional melalui sundulan saat menghadapi Austria di babak 32 besar.
Kini, Pedro Porro akan berjibaku bersama skuad La Furia Roja, Sabtu, 11 Juli dini hari WIB, di Los Angeles Stadium, menghadapi timnas Belgia, untuk memperebutkan satu tiket ke babak semifinal. Jika mampu lolos dari jerat timnas Belgia, skuad Spanyol sudah ditunggu Prancis yang telah memastikan satu tiket babak empat besar pasca mengalahkan timnas Maroko, 2-0.
Kilas balik ke belakang pada turnamen Piala Eropaa tau Euro 2024, Porro masih sulit menggeser kapten Real Madrid saat itu Dani Carvajal. Pedro Porro akhirnya mampu membalas kepercayaan pelatih Luis de la Fuente di Piala Dunia yang digelar di 3 negara berbeda, Amerika, Meksiko, dan Kanada.
Dalam prosesnya, pemain Tottenham Hotspur itu kembali melangkah maju dalam perjalanan panjang yang dimulai dari Don Benito, kota kecil berpenduduk sekitar 40.000 jiwa di wilayah Extremadura, tempat ia dibesarkan.
Di sanalah Porro praktis tumbuh bersama bola di kakinya, menurut salah satu pelatih masa kecilnya, Carlos Moreno. "Dia menghabiskan banyak waktu di sini. Dia selalu berada di lapangan, bahkan ketika tidak ada sesi Latihan. Seringkali dia meminta izin kepada pelatih tim lain agar diperbolehkan bermain bersama mereka," ujar Moreno, yang melatih Porro saat masih remaja di Gimnastico Don Benito.
Ibu Porro, Eva, bekerja di sebuah supermarket, sementara ayahnya, Luis, bekerja serabutan. Karena itu, Pedro kecil banyak menghabiskan waktu bersama kakeknya dari pihak ibu, Antonio.
"Kakeknya selalu datang, baik saat latihan maupun pertandingan, kandang ataupun tandang, tidak peduli cuaca panas, dingin, atau hujan. Beliau selalu ada," ucap sang pelatih. Moreno juga mengenang, sang kakek selalu memberinya permen setiap kali Porro mencetak gol.
Selain itu, Moreno mengingat Porro muda sebagai seorang pemain sayap yang memiliki kekuatan, tendangan yang sangat baik, serta kualitas permainan yang menonjol. “Namun, yang benar-benar membedakannya dari pemain lain adalah mentalitas juaranya, naluri kompetitifnya. Kadang muncul keluhan atau perdebatan karena dia menuntut rekan-rekannya memberikan standar yang sama seperti yang ia tuntut dari dirinya sendiri," kata dia.
Sebagai contoh, Moreno mengingat suatu hari ketika Porro mencetak enam gol, tetapi tetap pulang dengan kesal karena timnya kalah 7-6. Di balik sifat kompetitifnya, Porro ternyata juga memiliki sisi lain yang menunjukkan sisi humanisnya.
"Di luar lapangan, Pedro selalu membawa kebahagiaan. Dia anak yang sangat lucu dan spontan, sosok yang mudah disukai banyak orang. Di dalam bus, dia selalu melontarkan lelucon. Bahkan, teman-teman yang dikenalnya pada masa itu masih tetap dekat dengannya dan mereka rutin berkumpul setiap kali Porro pulang ke Don Benito,” ucap Moreno mengenang.
Meski Porro menonjol dibandingkan rekan-rekan sebayanya, Extremadura, yang berbatasan dengan Portugal, merupakan salah satu wilayah Spanyol yang relatif kurang terhubung.
"Wilayah ini sering terlupakan, sehingga sangat jarang seorang pencari bakat datang ke sini. Namun, Pedro berhasil melangkah lebih jauh karena suatu hari dia pergi ke Madrid untuk membela tim perwakilan Extremadura. Kalau bukan karena pertandingan itu, mungkin dia tidak akan berada di posisinya sekarang karena tidak akan ada yang menemukannya," ujarnya, menandaskan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....