Berita Sepekan V : Selangkah Tuk Juara Piala Dunia 2026, Dengan Sederet Kontroversi

  • 17 Jul 2026 20:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Piala Dunia 2026 telah memasuki fase babak final dengan berbagai peristiwa penting yang mengubah arah turnamen sepak bola dunia tersebut.
  • Perjalanan turnamen sepanjang sepekan (11-17 Juli 2026) telah mempersiapkan panggung untuk dua tim terbaik yang akan memperebutkan mahkota juara dunia.
  • Pekan ini menyajikan sejumlah momen dan peristiwa dalam dan luar lapangan, mulai dari petisi usir Argentina, hingga dua raksasa Eropa yang kini telah mengisi kursi partai final.
  • Argentina dan Spanyol akan bertemu dalam pertandingan final pada hari Minggu, 20 Juli 2026, dengan gelar juara sebagai hadiah utama.

RRI.CO.ID, Jakarta - Perjalanan Piala Dunia 2026 sepanjang 11-17 Juli menghadirkan drama kontroversi, serta sejumlah sorotan penting. Selangkah menuju juara Piala Dunia 2026, tinggal menghitung hari, tepatnya Senin, 20 Juli 2026 pukul 02.00 wib.

Argentina dan Spanyol memastikan tempat di final, setelah melewati persaingan ketat menuju laga penentuan gelar. Siapa yang terbaik dan pantas mengangkat tropi juara dunia di musim ini?

Namun, sebelum memasuki fase tangga perebutan tempat ketiga dan penentuan juara akhir pekan nanti. RRI.co.id setidaknya telah memberikan sejumlah catatan menarik selama sepekan belakangan ini.

Perhelatan sepak bola sejagat ini nampaknya juga tak pernah lepas dari badai kontroversi. Salah satunya ketika sebuah petisi daring muncul menuntut Argentina untuk dikeluarkan dari Piala Dunia.

Tak berhenti disana, Argentina kembali menjadi sorotan setelah mengalahkan Inggris pada babak semifinal turnamen tersebut. Para pemain membawa spanduk bertuliskan "Las Malvinas Son Argentinas" atau "Kepulauan Malvinas adalah milik Argentina".

Spanduk bernuansa politik tersebut dibentangkan di pinggir lapangan, sekaligus menjadi kontroversi tersendiri. Sehingga pemerintah Inggris mendesak FIFA melakukan investigasi terkait hal itu.

Drama kontroversi lain turut muncul setelah Michael Olise terancam dipenjara karena membawa barang yang dilarang otoritas Prancis. Peristiwa tersebut menambah daftar persoalan yang mewarnai perjalanan Piala Dunia 2026 sepanjang pekan ini.

Selain kontroversi, perhatian publik juga tertuju kepada kisah 'sang bayi' Lamine Yamal yang pernah dimandikan Lionel Messi kala itu. Kini 19 tahun berlalu, 'si baby' Yamal menjelma dan siap melawan 'sang senior' Messi, di partai final Piala Dunia 2026.

Catatan lain, saat babak perempat final juga mempertemukan Jude Bellingham dan Erling Haaland sebagai lawan di lapangan. Kedua mantan pemain Borussia Dortmund itu harus saling mengalahkan demi membawa negaranya melaju lebih jauh.

Piala Dunia 2026 kini memasuki fase penentuan dengan persaingan yang semakin ketat menjelang partai puncak. Rangkaian peristiwa sepanjang sepekan dengan segala ceritanya mengiringi kehangatan turnamen ini yang sekaligus, patut kita kupas satu persatu.

Dua Raksasa Sepak Bola Spanyol dan Argentina Berebut Takhta Piala Dunia

Argentina berhasil lolos ke babak final setelah mengalahkan Inggris secara dramatis dengan skor tipis 2-1. Kemenangan krusial ini membuka peluang besar bagi Lionel Messi Cs untuk kembali mengangkat trofi juara secara berturut-turut.

Sementara itu, Spanyol melaju ke partai puncak setelah menundukkan tim favorit Prancis dua gol tanpa balas. Skuad La Roja tampil sangat dominan dan berhasil mematikan total seluruh lini serang milik tim Prancis.

Legenda Prancis, Thierry Henry, menilai negaranya kalah akibat gagal merebut penguasaan bola dari kaki pemain Spanyol. "Ketika tim nasional Spanyol membawa bola, mereka tidak memberikannya kembali kepada Anda," ujar Henry kepada Fox Sports.

Ia meminta tim bisa memberi tekanan lebih karena merebut bola dari Spanyol adalah perkara yang sulit. Di sisi lain, Henry juga memuji sistem terstruktur Spanyol yang kini membuat mereka mampu menang di setiap level kompetisi.

Pertandingan final ini dipastikan akan menyajikan dua gaya permainan yang sangat bertolak belakang. Penggemar akan disuguhkan sebuah sajian taktis yang luar biasa.

Spanyol dengan gaya tiki-taka-nya, tak pernah hilang hanya saja,kini berevolusi dibawah kepemimpinan gelandang mereka, Rodri. Di sisi lain, Argentina lebih mengutamakan gaya bermain fisik yang agresif serta mental yang tangguh.

Catatan sejarah mencatat rekor pertemuan kedua negara masih seimbang dengan masing-masing meraih enam kemenangan. Pertemuan terakhir mereka terjadi pada laga persahabatan tahun 2018 yang dimenangkan Spanyol dengan skor telak 6-1.

Meskipun sejarah pertemuan mereka tergolong minim, laga berikutnya dipastikan akan menjadi duel yang paling penting. Kedua tim kini siap membuktikan siapakah yang terbaik dalam partai puncak turnamen sepak bola terakbar ini.

Petisi Daring Minta Argentina Diusir dari Piala Dunia

Gelombang protes terhadap Argentina muncul setelah laga kontroversial melawan Mesir pada babak 16 besar Piala Dunia 2026. Sebuah petisi daring yang meminta Argentina didiskualifikasi telah ditandatangani lebih dari enam juta orang.

Petisi tersebut diunggah melalui situs argentinaout.com dan dengan cepat menjadi perbincangan di berbagai platform media sosial. Penggagas petisi menuding FIFA serta perangkat pertandingan memberikan perlakuan istimewa kepada Argentina dan Lionel Messi.

Kontroversi bermula ketika Argentina bangkit dari ketertinggalan 0-2 untuk mengalahkan Mesir dengan skor 3-2. Albiceleste mencetak tiga gol dalam 13 menit terakhir dan memastikan langkah menuju babak perempat final.

"Usir Argentina dari Piala Dunia dan berikan kesempatan yang adil bagi negara-negara lain," kata isi petisi tersebut, Selasa, 14 Juli 2026. Penggagas petisi juga menilai hasil pertandingan dipengaruhi keputusan wasit yang dinilai menguntungkan Argentina sepanjang laga.

Kubu Mesir merasa dirugikan setelah salah satu gol mereka dianulir melalui tinjauan Video Assistant Referee atau VAR. Di sisi lain, gol penentu kemenangan Argentina tetap disahkan meski Mesir menganggap terjadi pelanggaran terhadap Mohamed Salah.

Mesir menilai insiden sebelum gol kemenangan Argentina seharusnya turut diperiksa menggunakan VAR untuk memastikan keputusannya benar. Jika pelanggaran terbukti terjadi, mereka meyakini gol tersebut harus dianulir dan Mesir.

"Menurut kami, pertandingan itu tidak mencerminkan semangat fair play yang selalu disampaikan FIFA kepada seluruh peserta. Hasil pertandingan bisa saja berbeda apabila setiap keputusan penting ditinjau secara adil menggunakan VAR," ucapnya.

Hingga kini, FIFA belum memberikan tanggapan resmi mengenai petisi maupun tudingan keberpihakan terhadap Argentina. Sementara itu, Argentina tetap melanjutkan perjalanannya di Piala Dunia 2026 setelah berhasil mengamankan tiket ke babak selanjutnya.

Viral! Bertemu Saat Masih Bayi, Kini Yamal 19 tahun Jadi Rival Messi Cs di Final Piala Dunia 2026

Partai final Piala Dunia 2026 akan menghadirkan duel sarat gengsi sekaligus kisah yang unik. Argentina dan Spanyol dipastikan bertemu di laga puncak setelah sama-sama berhasil melewati hadangan lawan mereka di babak semifinal.

Argentina melaju ke final usai menyingkirkan Inggris dengan skor 2-1. Sementara Spanyol memastikan tiket ke partai puncak setelah mengalahkan Prancis 2-0.

Pertemuan kedua tim ini bukan hanya mempertemukan dua raksasa sepak bola dunia. Akan tetapi juga menghadirkan cerita menarik antara Lionel Messi dan Lamine Yamal.

Keduanya pernah menjadi perbincangan publik setelah foto yang diambil pada tahun 2007 kembali viral di media sosial. Messi yang saat itu masih berusia 20 tahun terlihat memandikan bayi Yamal dalam sebuah sesi pemotretan kalender amal dengan UNICEF.

Messi dan Lamine Yamal dalam foto kapanye kalender amal UNICEF tahun 2007. (Foto: UNICEF)

Hampir dua dekade kemudian, takdir mempertemukan keduanya di panggung terbesar sepak bola dunia. Messi, yang kini menjadi salah satu legenda hidup sepak bola, akan berhadapan dengan Yamal, bintang muda Spanyol yang tampil impresif sepanjang Piala Dunia 2026.

Yamal menjadi salah satu pemain kunci dalam keberhasilan La Furia Roja melangkah ke final. Kecepatan, kreativitas, dan kematangannya dalam bermain di usia muda menjadikannya ancaman bagi setiap lawan yang dihadapi Spanyol.

Di kubu Argentina, Messi tetap menjadi sosok sentral. Pengalaman serta kepemimpinannya di lapangan kembali menjadi modal penting La Albiceleste untuk mempertahankan peluang meraih gelar juara dunia.

Dari sebuah foto yang mengabadikan momen sederhana antara seorang pemain muda Barcelona dengan seorang bayi. Hingga keduanya kini berdiri sebagai rival di final Piala Dunia.

Pertemuan Messi kontra Yamal pun dipastikan menjadi salah satu cerita paling ikonik. Kisahnya akan dikenang dalam sejarah sepak bola dunia.

Pemerintah Inggris Minta FIFA Sanksi Tegas Aksi Bernuansa Politik oleh Argentina

Tim nasional Argentina terancam sanksi dari FIFA akibat sebuah spanduk bertuliskan "Las Malvinas Son Argentinas". Spanduk itu dibawa suporter saat semifinal Piala Dunia 2026 kontra Inggris di Stadion Atlanta pada Kamis, 16 Juli.

Pada saat itu, Argentina memenangkan pertandingan sengit melawan Inggris tersebut dengan skor 2-1. Para pemain terlihat ikut membentangkan spanduk tersebut di lapangan saat momen selebrasi.

FIFA sebenarnya sudah memiliki aturan larangan terkait simbol atau pesan yang bernuansa politik selama pertandingan berlangsung. Larangan itu mencakup bendera, selebaran, pakaian, serta atribut lain yang dianggap ofensif atau diskriminatif.

Dalam konteks ini, tulisan "Las Malvinas Son Argentinas" pada spanduk tersebut dianggap mengandung unsur sensitif. Jika diartikan, tulisan tersebut berarti "Kepulauan Malvinas milik Argentina".

Para pemain Argentina membentangkan spanduk bertuliskan "Las Malvinas Son Argentina" seusai pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 kontra Inggris, Kamis, 16 Juli. (Foto: Amanda Parobelli/Reuters)

Hal ini mengingatkan kembali pada sengketa yang pernah terjadi antara Argentina dan Inggris pada tahun 1982. Kedua negara memperebutkan Kepulauan Malvinas yang terletak sekitar 300 mil (480 km) di lepas pantai timur Argentina tersebut.

Konfliknya cukup serius. Sebanyak 655 personel militer Argentina dan 255 personel militer Inggris menjadi korban dari konflik 74 hari itu.

Melansir Al Jazeera, sejumlah pengamat menilai insiden ini sudah melampaui urusan sepak bola. Mereka melihat isu Kepulauan Malvinas (kini menjadi Kepulauan Falkland milik Inggris secara de facto) sebagai pembahasan politik.

Perkembangan isu ini juga dikaitkan dengan pemerintahan Presiden Javier Milei. Hubungan dekat Milei dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga disebut ikut memengaruhi dinamika politik tersebut.

Pernyataan Wakil Presiden Argentina Victoria Villaruel

Kondisi makin dibuat runyam setelah Wakil Presiden Victoria Villarruel membuat sebuah tulisan melalui media sosial X. "Mereka melarang membawanya ke stadion, tetapi kami membawanya dalam darah dan hati kami," tulis Villarruel dalam unggahan tersebut.

Pernyataan itu langsung menarik perhatian publik dan memicu beragam tanggapan. Isu ini pun menjadi semakin kontroversial.

Bahkan, sebelum pertandingan Argentina menghadapi Inggris, Villarruel juga sempat melontarkan komentar sensitif. Putri veteran Perang Falkland itu menyebut Inggris sebagai "para penjajah yang merampas."

"Melawan Inggris selalu punya arti lebih. Sekarang semua ini tentang Malvinas, Diego, laga terakhir Leo (sapaan Messi), dan menghentikan para penjajah," ujarnya.

Dalam unggahan yang sama, Villarruel juga menyampaikan dukungan penuh kepada tim nasional Argentina. "Sampai napas terakhir, kami akan memperjuangkan apa yang menjadi milik kami," ucap dia, menutup tulisannya.

Argentina Terancam Sanksi

Sikap FIFA terhadap pesan politik di turnamen internasional selama ini dikenal sangat tegas. FIFA bekerja sama dengan International Football Association Board (IFAB) dalam penerapan aturan pertandingan.

Aturan IFAB menyebut perlengkapan pemain tidak boleh memuat slogan, gambar, atau pernyataan politik. Larangan serupa berlaku untuk pesan bernuansa agama, kepentingan pribadi, maupun iklan di luar logo produsen.

IFAB juga menegaskan bahwa setiap pelanggaran dapat berujung pada sanksi bagi pemain maupun tim. Sebelumnya, FIFA pernah mendenda Federasi Sepak Bola Argentina sebesar 20 ribu pound pada 2014 karena spanduk serupa.

Dalam isu ini, Pemerintah Inggris telah meminta FIFA untuk juga memberikan sanksi kepada Argentina. Mereka mendesak FIFA untuk menyelidiki tindakan para pemain Argentina yang membentangkan spanduk soal Malvinas.

"Kami berharap FIFA akan melakukan penyelidikan atas hal ini, dan itu pasti akan terjadi. Karena itu merupakan pelanggaran berat terhadap aturan yang melarang aktivitas politik sebagai bagian dari sepak bola," ucap Sekretaris Negara untuk Bisnis dan Perdagangan Inggris, Peter Kyle, dikutip dari BBC.

Michael Olise Terancam di Penjara Seusai Turnamen

Michael Olise kedapatan membawa barang yang dilarang oleh otoritas Prancis di loker Piala Dunia-nya. Menurut peraturan, siapa pun yang tertangkap menyelundupkannya melalui bea cukai Prancis terancam hukuman penjara hingga tiga tahun.

Saat itu, Olise tertangkap kamera sedang membawa sebungkus kantong nikotin. Dalam foto yang dibagikan di Instagram menjelang pertandingan babak 16 besar melawan Paraguay, barang tersebut terlihat berada dalam loker Olise.

Bungkusan bundar berwarna biru muda itu diletakkan di samping tasnya. Adapun yang di bawah kaos biru bernomor 11 miliknya.

Benda bundar terlihat di sebelah pouch biru di dalam loker ruang ganti Michael Olise, diduga merupakan kantong nikotin. (Foto: Instagram via The Sun)

Namun, produk tersebut tidak boleh dibawa kembali ke Prancis. Entah harus dihabiskan atau dimusnahkan selama dirinya masih ada di Amerika Serikat.

Hal ini dikarnekan produk tersebut baru-baru ini ditetapkan sebagai barang terlarang. Sejak 1 April, kantong nikotin oral telah dilarang sepenuhnya oleh otoritas Prancis.

Di satu sisi, berbagai laporan mengatakan kantong-kantong tersebut berfungsi untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama untuk keperluan bertanding. Kantong nikotin ini juga dikabarkan merupakan alternatif lebih aman dari nikotin yang didapat dari rokok.

Kawan Lama Jude Bellingham dan Erling Haaland Berhadapan di Perempat Final

Perhatian laga perempat final Piala Dunia 2026 Norwegia vs Inggris sebagian tertuju pada Jude Bellingham dan Erling Haaland. Keduanya akan bertemu pertama kali sebagai perwakilan tim nasional dari negara masing-masing.

Pertemuan pertama mereka di level internasional ini menjadi berita utama di koran tabloid. Hello! merilis artikel "Inside Jude Bellingham and Erling Haaland’s unlikely friendship before fierce FIFA showdown" menjelang laga nanti.

Meski berasal dari negara berbeda, ternyata mereka sudah berteman lama sejak membela Borussia Dortmund pada 2020. Haaland lebih dulu bergabung sebelum disusul Bellingham beberapa bulan kemudian.

Momen kebersamaan Jude Bellingham dan Erling Haaland dalam salah satu pertandingan Borussia Dortmund tahun 2021. (Foto: Instagram/@judebellingham)

Hubungan akrab mereka juga terlihat di luar lapangan. Bellingham dan Haaland beberapa kali digabungkan dalam berbagai aktivitas klub.

Persahabatan mereka tetap terjalin walaupun berpisah klub. Saat itu, Haaland lebih dulu pindah ke Manchester City tahun 2022, disusul kepindahan Bellingham ke Real Madrid tahun 2023.

Keduanya menjadi lebih sering berhadapan di Liga Champions. Salah satunya pada laga UEFA Champions League, Real Madrid vs Manchester City di Stadion Santiago Bernabeu, Desember 2025.

Kini, mereka kembali bertemu sebagai rival lapangan di babak semifinal Piala Dunia 2026. Bellingham dengan seragam putihnya membela Inggris, dan Haaland dengan seragam merahnya membela Norwegia.

Norwegia sebenarnya tampil meyakinkan pada babak pertama dengan mencuri keunggulan lebih dulu. Andreas Schjelderup mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-36 usai menerima umpan Martin Ødegaard.

Keunggulan itu bertahan hingga injury time babak pertama sebelum Inggris akhirnya menemukan celah di pertahanan Norwegia. Jude Bellingham sukses menyamakan kedudukan lewat sontekan akurat setelah menerima umpan Anthony Gordon pada menit 45+2.

Norwegia sempat membuat pendukungnya bersorak ketika Erling Haaland membobol gawang Inggris pada menit ke-57. Namun, wasit menganulir gol tersebut setelah tayangan VAR menunjukkan adanya pelanggaran dalam proses terjadinya gol.

Laga akhirnya berlanjut ke babak tambahan waktu setelah skor 1-1 bertahan hingga peluit panjang waktu normal berbunyi. Baru tiga menit extra time berjalan, Jude Bellingham kembali muncul sebagai pembeda lewat gol keduanya pada menit ke-93.

Gol itu membawa Inggris berbalik memimpin 2-1 sekaligus menempatkan mereka di atas angin hingga penghujung pertandingan. Norwegia terus menekan, tetapi hanya mampu menambah satu kartu kuning untuk Kristoffer Ajer pada menit ke-117.

Interaksi Bellingham dan Haaland beberapa kali terlihat selama pertandingan. Seusai pertandingan, Haaland juga menghampiri Bellingham dan merangkulnya sebagai bentuk apresiasi atas kemenangan Inggris berkat golnya.

Dengan segala dinamikanya, Bellingham dan Haaland dianggap mewakili generasi baru sepak bola. Kalaupun ada rivalitas, keduanya diproyeksikan melanjutkan era setelah Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo dengan versi yang lebih santai.

Slavko Vinčić Pimpin Final Piala Dunia 2026

FIFA menunjuk wasit asal Slovenia, Slavko Vinčić, untuk memimpin final Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Argentina melawan Spanyol, Minggu waktu setempat. Penugasan tersebut melengkapi persiapan FIFA menjelang partai puncak yang juga akan dihadiri Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Vinčić dipercaya memimpin laga setelah memiliki pengalaman memimpin sejumlah pertandingan penting dalam ajang FIFA maupun UEFA. Penunjukan tersebut menjadi bentuk kepercayaan FIFA terhadap kapasitas Vinčić memimpin pertandingan terbesar sepak bola dunia tahun ini.

Berdasarkan situs resmi FIFA, tim pengadil final Piala Dunia 2026 terdiri tiga wasit asal Slovenia dan dua wasit asal Yordania. "Pertama-tama, saya terkejut kemudian saya bahagia. Saya gemetar, jadi ini suatu kehormatan luar biasa untuk memimpin final Piala Dunia," katanya.

Asisten wasit Tomaz Klancnik dan Andraz Kovacic turut berasal dari Slovenia mendampingi Vinčić sepanjang laga final berlangsung nanti. Sementara Adham Makhadmeh asal Yordania dipercaya FIFA menjalankan tugas sebagai ofisial keempat pada pertandingan final tersebut.

FIFA Hadirkan Cincin Juara Piala Dunia 2026

Selain menetapkan perangkat pertandingan, FIFA juga menghadirkan inovasi berupa cincin juara bagi seluruh anggota tim pemenang Piala Dunia 2026. Reuters melaporkan sebanyak 30 cincin akan diproduksi sebagai penghargaan tambahan selain trofi dan medali emas, Jumat, 17 Juli 2026

FIFA menyatakan cincin terinspirasi tradisi olahraga Amerika Serikat yang lazim memberikan penghargaan tambahan kepada tim juara kompetisi profesional. Langkah tersebut menjadi bagian inovasi penyelenggaraan Piala Dunia 2026 bersama pertunjukan jeda babak dan sejumlah pembaruan pertandingan

Kebijakan tersebut menjadi sejarah baru bagi sepak bola sejagat ini. Karena pertama kalinya FIFA memberikan cincin juara dalam penyelenggaraan Piala Dunia sejak 1930.

Presiden Trump Hadiri Final dan Serahkan Trofi Juara

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dipastikan menghadiri final Piala Dunia 2026 mempertemukan Argentina melawan Spanyol,akhir pekan. Presiden FIFA Gianni Infantino menyatakan Trump akan mendampingi prosesi penyerahan trofi kepada tim juara setelah pertandingan selesai berlangsung.

Reuters melaporkan Gedung Putih mengonfirmasi kehadiran Trump pada final setelah sebelumnya mengikuti berbagai agenda resmi turnamen, 16 Juli 2026. Kehadiran Trump menjadi bagian dukungan pemerintah Amerika Serikat sebagai tuan rumah bersama Piala Dunia FIFA 2026 bersama Kanada

"Kami akan bersama Presiden, menikmati pertandingan final, dan menyerahkan trofi kepada pemenang, tentu saja bersama-sama," ujar Presiden FIFA Gianni Infantino dikutip dari Reuters 23 Juni 2026.

Kehadiran Trump melanjutkan tradisi kepala negara mendampingi Presiden FIFA. Hal ini dalam rangka penyerahan trofi kepada tim pemenang setelah pertandingan berakhir.

Kata Pengamat

RRI.CO.ID turut meminta tanggapan pengamat sepak bola, Kesit B. Handoyo mengenai berbagai momen menarik menuju pekan terakhir Piala Dunia 2026. Menurutnya, cerita memang tidak soal persaingan di atas lapangan, tetapi juga dipenuhi berbagai momen menarik yang menjadi warna tersendiri.

Kesit mengatakan duel Spanyol menghadapi Argentina menjadi laga final yang sangat ideal bagi kedua tim saat ini. Pertandingan ini mempertemukan kekuatan terbaik dari benua Eropa dan wilayah Amerika Latin.

"Spanyol hadir dengan status mentereng sebagai pemegang trofi juara Piala Eropa tahun 2024. Sementara, Argentina merupakan sang petahana yang sukses merengkuh gelar juara Copa Amerika," ujar Kesit kepada RRI.CO.ID, Jumat, 17 Juli 2026.

Menurut Kesit, laga ini akan membuktikan. Siapa yang paling kuat dan pantas juara di antara kedua tim raksas Eropa tersebut.

Soal isu petisi pengusiran Argentina dari turnamen, katanya, hanyalah cerita luar lapangan. "Saya rasa, masalah non-teknis tersebut sama sekali tidak memengaruhi performa serta kelayakan Argentina ke final," ucap dia.

Kesit juga menanggapi terkait pertemuan emosional antara bintang muda asal Spanyol Lamine Yamal dengan Lionel Messi. Saat masih bayi, Yamal pernah disatukan dengan Messi dalam kampanye kalender amal Diario kolaborasi dengan UNICEF.

Kini, Yamal telah beranjak dewasa. Dan keduanya dipertemukan kembali sebagai rival di sebuah momen bersejarah, laga final Piala Dunia 2026,

"Pertemuan ini ibarat duel antara sosok ayah dengan putranya yang kini sudah tumbuh besar. Yamal sedang berproses menuju kebintangan, menyusul jejak Messi yang sudah meraih segalanya," katanya.

Sementara itu, Kesit mengatakan soal spanduk Malvinas yang dibentangkan Argentina di lapangan dianggap murni sebagai urusan politik. Lagi-lagi hal tersebut adalah masalah luar lapangan yang harus diselesaikan secara terpisah dari urusan sepak bola.

" Masalah luar lapangan itu sepenuhnya menjadi wewenang FIFA. Biarkan mereka memberikan jawaban," ujar Kesit.

Kemudian soal bertemunya kawan lama antara Jude Bellingham dan juga Erling Haaland di perempat final antara Norwegia dan Inggris. Kesit mengatakan pertandingan tersebut menunjukkan bahwa Inggris maasih menjadi tim yang kuat.

"Terbukti dengan kemenangan yang kembali diraih oleh Inggris. Dan kita melihat bagaimana Bellingham dengan kemampuannya, Erling dengan kemampuannya," ujarnya.

"Tapi kali ini Erling Haaland harus mengakui rekannya yang pernah bermain bersama di Borussia Dortmund. Tapi, intinya, mereka sudah sama-sama kenal, mereka sudah sama-sama tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing,"

Lebih lanjut, Argentina lolos ke final setelah menumbangkan Inggris di babak semifinal. Laga puncak ini nantinya akan dipimpin oleh wasit asal Slovenia, Slavko Vincic.

Menanggapi hal tersebut, Kesit mengakui Vincic merupakan wasit yang berpengalaman. Sekiranya keputusan Vincic yang ada pada pertandingan nantinya adalah keputusan yang bijaksana.

"Seperti contoh ketika Slavko mengusir Hincapie ketika melakukan gestur (provokasi) tutup mulut itu. Saya pikir, Slavko Vincic memang wasit berpengalaman, mengingat dia juga pernah memimpin laga-laga penting di Eropa," ucapnya.

Opini Sang Penulis

Perjalanan Piala Dunia 2026 membuktikan bahwa drama di luar lapangan mampu menyita perhatian sebesar persaingan antartim. Petisi lebih dari enam juta tanda tangan, kontroversi spanduk Malvinas, hingga sorotan FIFA memperlihatkan besarnya dampak isu nonteknis terhadap turnamen.

Terlepas dari berbagai kontroversi tersebut, partai final tetap menjadi panggung utama yang menentukan sejarah sepak bola dunia. Kesit B. Handoyo menegaskan persoalan nonteknis tidak memengaruhi kelayakan Argentina ke final sehingga juara tetap ditentukan kualitas permainan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....