Argentina Terancam Kena Sanksi karena Spanduk 'Las Malvinas Son Argentinas'
- 17 Jul 2026 14:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Argentina menghadapi ancaman sanksi FIFA karena pemain dan suporter menampilkan spanduk 'Las Malvinas Son Argentinas' saat semifinal Piala Dunia 2026 melawan Inggris.
- Spanduk tersebut dianggap melanggar aturan yang melarang pesan, simbol, atau slogan politik, agama, atau kepentingan pribadi selama pertandingan internasional.
- Pemerintah Inggris meminta FIFA lakukan investigasi dan sanksi tegas Argentina.
RRI.CO.ID, Jakarta – Tim nasional Argentina terancam sanksi dari FIFA akibat sebuah spanduk bertuliskan "Las Malvinas Son Argentinas". Spanduk itu dibawa suporter saat semifinal Piala Dunia 2026 kontra Inggris di Stadion Atlanta pada Kamis, 16 Juli.
Pada saat itu, Argentina memenangkan pertandingan sengit melawan Inggris tersebut dengan skor 2-1. Para pemain terlihat ikut membentangkan spanduk tersebut di lapangan saat momen selebrasi.
FIFA sebenarnya sudah memiliki aturan larangan terkait simbol atau pesan yang bernuansa politik selama pertandingan berlangsung. Larangan itu mencakup bendera, selebaran, pakaian, serta atribut lain yang dianggap ofensif atau diskriminatif.
Dalam konteks ini, tulisan "Las Malvinas Son Argentinas" pada spanduk tersebut dianggap mengandung unsur sensitif. Jika diartikan, tulisan tersebut berarti "Kepulauan Malvinas milik Argentina".
Hal ini mengingatkan kembali pada sengketa yang pernah terjadi antara Argentina dan Inggris pada tahun 1982. Kedua negara memperebutkan Kepulauan Malvinas yang terletak sekitar 300 mil (480 km) di lepas pantai timur Argentina tersebut.
Konfliknya cukup serius. Sebanyak 655 personel militer Argentina dan 255 personel militer Inggris menjadi korban dari konflik 74 hari itu.
Melansir Al Jazeera, sejumlah pengamat menilai insiden ini sudah melampaui urusan sepak bola. Mereka melihat isu Kepulauan Malvinas (kini menjadi Kepulauan Falkland milik Inggris secara de facto) sebagai pembahasan politik.
Perkembangan isu ini juga dikaitkan dengan pemerintahan Presiden Javier Milei. Hubungan dekat Milei dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga disebut ikut memengaruhi dinamika politik tersebut.
Pernyataan Wakil Presiden Argentina Victoria Villaruel
Kondisi makin dibuat runyam setelah Wakil Presiden Victoria Villarruel membuat sebuah tulisan melalui media sosial X. "Mereka melarang membawanya ke stadion, tetapi kami membawanya dalam darah dan hati kami," tulis Villarruel dalam unggahan tersebut.
Pernyataan itu langsung menarik perhatian publik dan memicu beragam tanggapan. Isu ini pun menjadi semakin kontroversial.
Bahkan, sebelum pertandingan Argentina menghadapi Inggris, Villarruel juga sempat melontarkan komentar sensitif. Putri veteran Perang Falkland itu menyebut Inggris sebagai "para penjajah yang merampas."
"Melawan Inggris selalu punya arti lebih. Sekarang semua ini tentang Malvinas, Diego, laga terakhir Leo (sapaan Messi), dan menghentikan para penjajah," ujarnya.
Dalam unggahan yang sama, Villarruel juga menyampaikan dukungan penuh kepada tim nasional Argentina. "Sampai napas terakhir, kami akan memperjuangkan apa yang menjadi milik kami," ucap dia, menutup tulisannya.
Argentina Terancam Sanksi
Sikap FIFA terhadap pesan politik di turnamen internasional selama ini dikenal sangat tegas. FIFA bekerja sama dengan International Football Association Board (IFAB) dalam penerapan aturan pertandingan.
Aturan IFAB menyebut perlengkapan pemain tidak boleh memuat slogan, gambar, atau pernyataan politik. Larangan serupa berlaku untuk pesan bernuansa agama, kepentingan pribadi, maupun iklan di luar logo produsen.
IFAB juga menegaskan bahwa setiap pelanggaran dapat berujung pada sanksi bagi pemain maupun tim. Sebelumnya, FIFA pernah mendenda Federasi Sepak Bola Argentina sebesar 20 ribu pound pada 2014 karena spanduk serupa.
Dalam isu ini, Pemerintah Inggris telah meminta FIFA untuk juga memberikan sanksi kepada Argentina. Mereka mendesak FIFA untuk menyelidiki tindakan para pemain Argentina yang membentangkan spanduk soal Malvinas.
"Kami berharap FIFA akan melakukan penyelidikan atas hal ini, dan itu pasti akan terjadi. Karena itu merupakan pelanggaran berat terhadap aturan yang melarang aktivitas politik sebagai bagian dari sepak bola," ucap Sekretaris Negara untuk Bisnis dan Perdagangan Inggris, Peter Kyle, dikutip dari BBC.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....