Berita Sepekan III : Dari Parade Pride, Cerita Perdukunan - Rekor Mbappé Warnai Pildun

  • 03 Jul 2026 17:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Piala Dunia 2026 pada pekan ketiga menghadirkan beragam cerita menarik, mulai dari fenomena di luar lapangan hingga kejutan besar di dalam pertandingan
  • Tanjung Verde mencuri perhatian sebagai kuda hitam
  • Kylian Mbappé terus mencetak rekor baru
  • Perdukunan Warnai Piala Dunia (Pildun) 2026
  • Dua raksasa Eropa, Jerman dan Belanda, sama-sama tersingkir
  • Tiga tuan rumah kompak lolos ke 16 besar

RRI.CO.ID, Jakarta - Piala Dunia (Pildun) 2026 tak hanya menyuguhkan pertandingan sengit dan hasil mengejutkan sepanjang sepekan terakhir. RRI.co.id, mencatatkan sejak 26 Juni-3 Juli 2026, turnamen sepak bola terbesar sejagat ini juga dipenuhi cerita unik.

Selain persaingan memperebutkan tiket babak 16 besar, sejumlah peristiwa di luar pertandingan turut menjadi sorotan media internasional. Mulai dari parade Pride Month yang berlangsung di Seattle saat laga Iran kontra Mesir.

Kemudian, isu perdukunan yang dikaitkan dengan pertandingan Ghana melawan Inggris. Hingga kiprah mengejutkan Tanjung Verde yang menjelma menjadi kuda hitam baru di turnamen ini.

Tak hanya itu, dua raksasa Eropa, Jerman- Belanda, harus mengakhiri perjalanan lebih cepat, usai gagal melangkah 16 besar. Di sisi lain, tiga negara tuan rumah berhasil menjaga asa di hadapan pendukungnya masing-masing dengan sama-sama lolos dari fase gugur.

Sementara itu, penyerang Prancis Kylian Mbappé kembali menunjukkan kelasnya sebagai salah satu pemain terbaik dunia. Penampilannya sepanjang turnamen membuatnya terus menambah koleksi gol sekaligus memperpanjang daftar rekor yang diukir di panggung Piala Dunia.

Berbagai momen tersebut menjadi bukti bahwa Piala Dunia bukan hanya soal kemenangan dan kekalahan di atas lapangan. Di balik setiap pertandingan, selalu ada cerita yang mengundang perhatian, memicu perdebatan, hingga menghadirkan kisah inspiratif yang membuat turnamen ini semakin menarik.

Parade Pride Month Warnai Laga Iran vs Mesir di Seattle

Laga Grup G, Iran vs Mesir di Seattle, Amerika Serikat, 27 Juni 2026, menjadi salah satu pertandingan yang menyita perhatian. Sorotan bukan hanya tertuju pada hasil imbang. Tetapi juga karena pertandingan tersebut berlangsung bertepatan dengan perayaan Pride Month di kota tersebut.

Melansir dari Reuters, jauh sebelum undian Piala Dunia digelar, panitia lokal Seattle telah menetapkan pertandingan yang berlangsung pada akhir pekan Pride sebagai "Pride Match". Penetapan itu merupakan bagian dari rangkaian perayaan tahunan Pride Seattle yang dikenal sebagai salah satu yang terbesar di Amerika Serikat.

Namun, hasil undian mempertemukan Iran dan Mesir, dua negara yang memiliki aturan ketat terhadap komunitas LGBTQ+. Kondisi itu memicu perdebatan sejak beberapa hari sebelum pertandingan digelar

Bahkan federasi sepak bola kedua negara dikabarkan menyampaikan keberatan kepada FIFA terkait penggunaan atribut dan penyebutan "Pride Match". Namun, FIFA tetap mempertahankan kebijakannya sebagai ajang yang terbuka bagi semua kalangan.

Pride Match yang mewarnai laga Iran vs Mesir di Seattle Stadium, Sabtu, 27 Juni 2026 (Foto:X/@ESPN)

Badan sepak bola dunia itu menegaskan bahwa penonton diperbolehkan membawa bendera pelangi ke dalam stadion sesuai dengan aturan yang berlaku. Sementara penyelenggara di Seattle juga tidak mengubah konsep pertandingan yang telah dirancang sebelumnya.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, juga berupaya keras untuk menjelaskan bahwa perayaan yang direncanakan tersebut diatur oleh panitia penyelenggara Seattle. Ia juga mengatakan bahwa hal itu "tidak ada hubungannya dengan pertandingan itu sendiri".

Di tengah sorotan tersebut, penyerang Iran Mehdi Taremi turut memberikan respons. Taremi menegaskan bahwa timnya datang ke Piala Dunia untuk fokus pada sepak bola.

“Agama kami tidak menerima hal itu, namun kami menghormati semua kaum LGBT. Itu adalah pandangan mereka sendiri, Ini bukan tentang kami, kami di sini untuk bermain sepak bola,” kata Mehdi, dikutip dari Time Magazine.

Senada dengan Taremi, pelatih Iran, Amir Ghalenoei, mengatakan timnya akan tetap bersikap positif dan tidak memikirkan persoalan lain di luar lapangan. Ia menegaskan dirinya tidak ingin membahas hal-hal di luar sepak bola dan hanya berfokus pada tim, taktik, dan jalannya pertandingan.

"Seluruh pikiran kami terfokus pada sepak bola, permainan yang indah, rakyat kami, dan kesuksesan kami. Saat pertandingan dimulai, seluruh fokus kami akan tertuju pada lapangan, hanya pada sepak bola, tidak ada yang lain," ujarnya, mengutip The Guardian.

Pelatih Mesir, Hossam Hassan, juga menyampaikan pandangan serupa. Ia menegaskan seluruh perhatian timnya hanya tertuju pada pertandingan, sementara urusan penyelenggaraan menjadi tanggung jawab FIFA.

"Kami semua fokus pada sepak bola, hanya itu yang kami pikirkan dan FIFA tentu saja mengurus sisi organisasionalnya. Kami menghormati aturan tentang rasa hormat dan permainan yang adil yang harus dipatuhi semua orang, serta pedoman apa pun yang ditetapkan oleh FIFA," ujar Hassan.

Meski sempat dikhawatirkan memicu ketegangan, suasana pertandingan berlangsung relatif kondusif. Ribuan suporter dari kedua negara memenuhi stadion, sementara di luar arena sejumlah warga dan aktivis ikut merayakan Pride Weekend dengan membawa bendera pelangi di pusat kota Seattle.

Perdukunan Warnai Piala Dunia 2026, Dukun Ghana Diklaim Mengutuk Harry Kane

Salah satu cerita paling tidak biasa di Piala Dunia 2026 datang dari luar lapangan saat Inggris menghadapi Ghana pada laga Grup L. Bukan soal taktik maupun strategi, tetapi sebuah klaim dari seorang dukun asal Ghana yang mengaku telah mengutuk kapten Inggris, Harry Kane.

Melansir Reuters, ia adalah seorang spiritualis bernama Nana Kwaku Bonsam. Bonsam menyatakan beberapa hari sebelum pertandingan dirinya akan menghentikan ketajaman Kane.

Ia bahkan mengatakan tidak berniat mencederai sang striker. Melainkan hanya ingin membuatnya gagal mencetak gol saat menghadapi Ghana.

Laga yang berlangsung antara Inggris vs Ghana itu kemudian berakhir tanpa gol. Inggris memang tampil dominan, tetapi Kane gagal mencetak gol ke gawang Ghana yang dijaga oleh Benjamin Asare.

Momen tersebut langsung memicu berbagai reaksi di media sosial. Banyak warganet kemudian yang mengaitkannya secara bercanda dengan klaim sang dukun asal Ghana tersebut.

Dukun asal Ghana bernama Nana Kwaku Bonsam yang mengaku telah mengutuk Harry Kane pada laga Ghana kontra Inggris Piala Dunia 2026 (Foto:Dok/Istimewa)

Setelah laga selesai, Reuters melaporkan Bonsam kemudian mengunggah video di media sosial dan mengklaim telah "melepaskan" kutukannya. Ia mengatakan agar Kane bisa kembali mencetak gol pada pertandingan berikutnya.

"Sekarang saya akan memberi Harry Kane kebebasan agar di pertandingan berikutnya dia bisa mencetak gol. Harry, saya akan datang mengunjungimu, jangan tersinggung ya kita berteman," kata Bonsam dalam sebuah video.

Menariknya, beberapa hari berselang Kane benar-benar kembali menemukan kemampuannya. Saat Inggris mengalahkan Panama 2-0 pada laga terakhir fase grup, dengan mencetak satu gol, sekaligus menjadi gol ke-11 sepanjang kariernya di Piala Dunia.

Tanjung Verde Jadi Kuda Hitam Baru Piala Dunia 2026

Jika ada satu tim yang paling layak disebut sebagai kejutan terbesar pada fase grup Piala Dunia 2026, jawabannya adalah Tanjung Verde. Negara kepulauan kecil di lepas pantai barat Afrika itu sukses mencuri perhatian dunia setelah memastikan tiket ke babak 32 besar.

Tanjung Verde lolos sebagai runner-up Grup H usai bermain imbang tanpa gol melawan Arab Saudi pada 26 Juni 2026. Hasil tersebut, ditambah kemenangan Spanyol atas Uruguay, memastikan mereka mengakhiri fase grup dengan tiga hasil imbang dan berhak melaju ke babak gugur.

Pencapaian itu terasa semakin istimewa karena Tanjung Verde menjadi negara dengan populasi terkecil yang pernah menembus fase gugur Piala Dunia. Negara yang hanya dihuni sekitar 500 ribu penduduk tersebut mampu bersaing dengan tim-tim yang jauh lebih berpengalaman.

Sang kiper veteran Vozinha juga tampil sebagai salah satu sosok penting dalam perjalanan Tanjung Verde di fase grup. Berkat sejumlah penyelamatan krusial yang menjaga timnya tetap kompetitif di laga-laga berat, bahkan menahan imbang Spanyol tanpa gol.

“Kami tahu bagaimana menghargai sesuatu, jadi saya pikir kami menunjukkan kekuatan rakyat Tanjung Verde. Kami menunjukkan semangat yang kami miliki untuk negara kami dan kami di sini untuk mewakili semua warga Tanjung Verde,” ujar Vozinha, dikutip dari US Today.

Momen saat tim nasional Tanjung Verde merayakan kelolosan mereka ke fase gugur babak 32 besar Piala Dunia 2026 (Foto:X/@FIFAWorldCup)

Keberhasilan tersebut membuat Tanjung Verde langsung dijuluki sebagai kuda hitam baru pada Piala Dunia 2026. Beberapa media lokal dan internasional menempatkan mereka sebagai salah satu kejutan terbesar Piala Dunia 2026.

Melihat bagaimana Tanjung Verde datang dengan peringkat FIFA yang jauh di bawah sebagian besar lawan-lawannya. namun mampu melampaui ekspektasi. Menjadi satu-satunya negara debutan pada Piala Dunia 2026 yang lolos ke fase gugur.

Asisten pelatih Humberto Bettencourt menegaskan timnya tidak datang ke Piala Dunia hanya untuk menjadi pelengkap. Menjelang hadapi Argentina di 32 besar, ia mengatakan para pemain tetap percaya diri dan akan bermain dengan identitas mereka sendiri.

"Kami menganggap Messi sebagai pemain yang mampu membuat perbedaan. Namun kami selalu melihat dari segi kolektif, kombinasi yang dapat diciptakan, ruang yang mungkin mereka coba buka untuk Messi,” katanya, melansir dari Reuters.

Perjalanan Tanjung Verde juga menjadi salah satu bukti bahwa format baru Piala Dunia yang diikuti 48 tim memberi ruang lebih besar. Meski akan menghadapi tantangan berat melawan Argentina, kisah mereka sudah lebih dulu mencuri hati banyak pencinta sepak bola.

Jerman dan Belanda Tersingkir Bersamaan, Kejutan Besar Babak Gugur

Babak 32 besar Piala Dunia 2026 langsung menghadirkan kejutan besar yang mengguncang persaingan. Dalam satu hari, dua raksasa Eropa, Jerman dan Belanda, harus mengakhiri perjalanan mereka setelah sama-sama kalah melalui drama adu penalti.

Jerman menjadi tim pertama yang tersingkir usai ditahan Paraguay 1-1 hingga babak tambahan waktu pada 29 Juni 2026, dini hari WIB. Die Mannschaft sebenarnya mampu menyamakan kedudukan setelah tertinggal lebih dulu, tetapi gagal memanfaatkan sejumlah peluang.

Paraguay lebih dulu membuka keunggulan melalui Julio Enciso pada babak pertama pada menit ke-42. Jerman kemudian membalas lewat Kai Havertz di babak kedua di menit ke-54, memaksa pertandingan berlanjut ke perpanjangan waktu namun tanpa hasil.

Pada babak penalti, Paraguay tampil lebih tenang dan menang 4-3. Kekalahan tersebut mengakhiri harapan Jerman untuk kembali bersaing memperebutkan trofi Piala Dunia.

Kepulangan Jerman menjadi hasil paling mengejutkan di fase gugur mengingat status mereka sebagai juara empat kali Piala Dunia. Kekalahan ini juga menjadi catatan baru karena untuk pertama kalinya mereka kalah dalam adu penalti di ajang tersebut.

Momen saat tim nasional Jerman harus kalah pada babak 32 besar pada laga kontra Paraguay lewat adu penalti, Selasa, 30 Juni 2026, waktu WIB (Foto:Instagram/germanfootball_dfb)

Pelatih Paraguay, Gustavo Alfaro memuji para pemainnya karena menampilkan performa luar biasa menghadapi Jerman. “Para pemain memahami sepenuhnya apa yang dibutuhkan dalam pertandingan dan mengerahkan upaya besar untuk mencegah Jerman menemukan ruang,” katanya, dikutip dari Aljazeera.

“Para pemain memahami sepenuhnya apa yang dibutuhkan dalam pertandingan. Mereka mengerahkan upaya besar untuk mencegah Jerman menemukan ruang dan memainkan permainan mereka,” ujarnya.

Beberapa jam kemudian, kejutan lain kembali terjadi. Belanda yang berstatus juara Grup E gagal melanjutkan langkahnya setelah ditahan Maroko 1-1 selama 120 menit hingga babak tambahan.

Belanda sempat berada di atas angin setelah Cody Gakpo membawa timnya unggul pada menit ke-72. Namun kemenangan yang sudah di depan mata buyar pada masa injury time lewat Issa Diop yang mencetak gol penyeimbang pada menit ke-91.

Adu penalti pun terjadi setelah babak tambahan tidak membuahkan hasil. Belanda pun harus menyerah dengan hasil 3-2 melalui adu penalti melawan Maroko.

Kekalahan tersebut menjadi pukulan bagi Belanda yang dalam fase grup selalu tampil apik tanpa kekalahan. Setidaknya tim Orange mampu menembus babak 32 besar Piala Dunia 2026.

Momen saat tim nasional Belanda harus kalah usai adu penalti dengan Maroko, membuat mereka harus gagal melanjutkan ke fase 16 besar Piala Dunia 2026, Selasa, 30 Juni 2026, waktu WIB (Foto:X/@OnsOranje)

Sementara bagi Maroko, kemenangan itu melanjutkan tren positif mereka. Target utama Maroko pada Piala Dunia 2026 adalah mencapai final, setelah sukses membuat sejarah sebagai semifinalis pada edisi 2022.

"Kami ingin tetap tenang, memainkan permainan kami dan percaya bahwa jika pertandingan berlanjut ke adu penalti, kami memiliki kiper yang luar biasa. Kami tidak mengubah pertandingan menjadi pertempuran yang berantakan, kami mengendalikannya," ujar pelatih Maroko, Mohamed Ouahbi, dikutip Reuters.

“Ini adalah penampilan tim, semua orang bermain dengan baik. Kami menjalankan rencana permainan dengan baik dan pada akhirnya kami menang,” kata bek Maroko, Issa Diop.

Tersingkirnya Jerman dan Belanda pada hari yang sama langsung memicu beragam reaksi dari pencinta sepak bola. Banyak pengamat menyebut hasil tersebut sebagai bukti bahwa kesenjangan kualitas antartim di Piala Dunia semakin menipis.

Terutama setelah format turnamen diperluas menjadi 48 peserta. Menghadirkan lebih banyak negara-negara kompetitif yang berlaga dan unjuk kemampuan di fase gugur.

Di sisi lain, keberhasilan Paraguay dan Maroko memperpanjang langkah mereka dan mempertegas bahwa status unggulan bukan lagi jaminan. Dalam sepak bola modern, organisasi permainan yang disiplin, efektivitas memanfaatkan peluang, dan ketenangan saat adu penalti terbukti mampu menjadi pembeda.

Bahkan ketika menghadapi tim-tim dengan tradisi besar seperti Jerman maupun Belanda. Kedua hasil tersebut pun menjadi salah satu kejutan terbesar yang mewarnai perjalanan Piala Dunia sepanjang sepekan terakhir.

Tiga Negara Tuan Rumah Cetak Sejarah, Kompak Melaju ke Babak 16 Besar

Piala Dunia 2026 menghadirkan banyak sekali catatan bersejarah untuk pelaksanaannya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah turnamen besar ini digelar di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko.

Kabar baik juga datang dari tiga tuan rumah yang sama-sama berhasil mengamankan tempat di babak 16 besar. Setelah menyelesaikan masing-masing fase gugur dengan hasil unggul.

Kanada menjadi negara tuan rumah pertama yang memastikan tiket ke babak 16 besar. Stephen Eustaquio tampil sebagai pahlawan lewat gol dramatisnya, membawa Kanada menang 1-0 atas Afrika Selatan.

“Kami telah bekerja keras untuk kemenangan ini. Saya sangat senang sekali, tetapi saya juga tidak boleh berpuas diri dan menyatakan pertandingan ini telah selesai,” ujar Eustaquio, dikutip dari ESPN.

Timnas Kanada usai meraih kemenang atas Afrika Selatan 1-0 di Los Angeles Stadium, Senin, 29 Juni 2026, waktu WIB (Foto:X/@paulonsenra)

Keberhasilan itu juga menjadi pencapaian terbaik Kanada sepanjang sejarah keikutsertaannya di Piala Dunia. Bermain di hadapan dukungan puluhan ribu suporter di Los Angeles, berhasil menjaga mimpi mereka tetap hidup untuk melangkah lebih jauh.

“Walaupun kami kecewa tidak dapat bermain di kandang sendiri tetap para pemain bermain dengan baik. Mereka bermain dengan fokus dan berhasil membalikan keadaan pada menit terakhir, tetapi kami berhasil,” kata pelatih Kanada, Jesse Marsch.

Sehari kemudian, giliran Meksiko yang membuat publik tuan rumah bersorak. El Tri menundukkan Ekuador dengan skor 2-0 di Stadion Azteca melalui gol Julian Quinones dan Raul Jimenez.

Sekaligus mengakhiri penantian selama 40 tahun untuk kembali meraih kemenangan di fase gugur Piala Dunia. “Sudah sekitar 40 tahun terakhir kali saya melihat Stadion Azteca seperti ini,” ujar sang pelatih, Javier Aguirre, mengutip ESPN.

Timnas Meksiko berhasil lolos babak 16 besar setelah mengalahkan Ekuador 2-0 di Azteca Stadium, Rabu, 1 Juni 2026, waktu WIB (Foto:X/@miseleccionmx)

“Kami telah meraih kemenangan-kemenangan besar, tetapi tidak ada yang seperti ini. karena kami bermain di kandang sendiri bersama para penggemar kami yang selalu memberikan yang terbaik dengan seluruh hati mereka,” katanya menambahkan.

Amerika Serikat kemudian melengkapi catatan bersejarah tersebut setelah mengalahkan Bosnia dan Herzegovina 2-0. Gol Folarin Balogun dan Malik Tillman memastikan tim asuhan Mauricio Pochettino melaju ke babak 16 besar.

“Sulit untuk menggambarkan perasaan kami, karena menurut saya mereka luar biasa, dan tidak ada pertandingan mudah di Piala Dunia. Saya rasa kedewasaan tim sangat luar biasa dalam hal perkembangan kami selama lima hingga enam minggu terakhir,” kata pelatih AS, Mauricio Pochettino, dikutip Reuters.

Hasil ini juga mengakhiri penantian mereka selama 24 tahun untuk kembali memenangi pertandingan fase gugur. Meski harus menuntaskan laga dengan 10 pemain usai Balogun menerima kartu merah.

“Tidak pernah ada niat (Balogun) untuk menginjak pemain. Itu adalah tindakan normal dalam sepak bola dan terjadi secara tidak sengaja dan tidak pernah disengaja,” ujarnya menanggapi kartu merah yang diterima Folarian Balogun

Kemenangan timnas Amerika Serikat (16) atas Bosnia-Herzegovina dengan skor 2-0 disambut meriah oleh para suporter yang berada di tribun San Fransisco Bay Stadium, Kamis, 2 Juli 2026, waktu WIB (Foto:X/@USMNT)

Keberhasilan tiga negara tuan rumah melangkah bersama ke babak 16 besar menjadi salah satu cerita paling menarik sepanjang sepekan terakhir. Pencapaian tersebut sebagai awal yang manis bagi penyelenggaraan Piala Dunia pertama yang digelar di tiga negara

Keberhasilan ini juga menambah semarak di masing-masing negara tuan rumah. Serta menjaga antusiasme para suporter di Amerika Utara tetap membara memasuki fase-fase penentuan turnamen.

Kylian Mbappé Terus Ukir Rekor di Panggung Piala Dunia

Kylian Mbappé kembali menjadi salah satu pemain yang paling banyak diperbincangkan sepanjang sepekan terakhir Piala Dunia 2026. Kapten tim nasional Prancis itu tampil gemilang dengan mencetak dua gol saat Les Bleus mengalahkan Swedia 3-0 pada babak 32 besar.

Hasil tersebut dengan instan membawa Prancis lolos ke babak 16 besar. Pertemuan selanjutnya mereka akan menghadapi Paraguay pada laga berikutnya.

Dua gol tersebut membuat Mbappé kembali mencatatkan sejarah di ajang Piala Dunia. Penyerang berusia 27 tahun itu resmi menjadi pemain dengan jumlah gol terbanyak di fase gugur Piala Dunia setelah mengoleksi 10 gol.

Rekor ini berhasil melewati rekor delapan gol yang sebelumnya dipegang legenda Brasil, Ronaldo Nazario dan Leonidas. Serta menjadi top skor sepanjang masa timnas Prancis dengan 62 gol.

Tambahan dua gol ke gawang Swedia juga membuat koleksi golnya di Piala Dunia kini mencapai 18 gol. Hasil tersebut hanya terpaut satu gol dari rekor sepanjang masa yang masih dipegang Lionel Messi.

Catatan tersebut semakin mempertegas status Mbappé sebagai salah satu pemain paling produktif dalam sejarah turnamen empat tahunan itu. Penampilan impresifnya juga membuat persaingan perebutan Sepatu Emas Piala Dunia 2026 semakin sengit.

Kapten timnas Prancis, Kylian Mbappé saat meraih Player of the Match (Foto:Instagram/@fifaworldcup)

Meski kembali menjadi bintang kemenangan Prancis, Mbappé memilih merendah usai pertandingan. Ia menegaskan bahwa target utamanya bukan mengejar rekor individu, melainkan membawa Prancis melangkah sejauh mungkin di Piala Dunia.

“Saya tahu apa yang harus saya lakukan, tetapi ini bukan hanya tentang saya. Saya pikir tim sangat menyadari apa yang harus kami lakukan di pertandingan ini,” ucap Mbappé, dikutip Yahoo Sports.

“Kami bermain bagus, kami sedikit ragu-ragu di awal tetapi kemudian kami mulai menguasai permainan. Kami memiliki peluang yang seharusnya bisa kami manfaatkan lebih awal namun akhirnya kami berhasil mencetak gol,” katanya.

Dengan Prancis masih bertahan di persaingan menuju gelar juara, peluang Mbappé untuk terus menambah koleksi golnya masih terbuka lebar. Jika mampu menjaga konsistensi hingga akhir turnamen, maka Mbappé memiliki peluang untuk mencatatkan sejarah dalam kariernya.

Apa Kata Pengamat?

RRI.CO.ID turut meminta tanggapan pengamat sepak bola, Juprianto Alexander mengenai berbagai momen menarik di pekan ketiga Piala Dunia 2026. Menurutnya, cerita memang tidak soal persaingan di atas lapangan, tetapi juga dipenuhi berbagai momen menarik yang menjadi warna tersendiri.

Juprianto menilai kemunculan berbagai fenomena nonteknis, seperti parade Pride Month saat laga Iran melawan Mesir. Hingga isu perdukunan jelang pertandingan Ghana kontra Inggris, merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari atmosfer Piala Dunia.

"Fenomena seperti ini justru membuat Piala Dunia semakin berwarna. Kita tahu Piala Dunia adalah pesta sepak bola terbesar dan tentunya ada banyak elemen yang terlibat di sana yang ikut mewarnai jalannya turnamen," ujarnya kepada RRI.CO.ID, Jumat, 3 Juli 2026.

Selain cerita di luar lapangan, Juprianto juga menyoroti kiprah Tanjung Verde yang sukses mencuri perhatian pada debutnya di Piala Dunia. Menurutnya, keberhasilan negara dengan jumlah penduduk yang relatif kecil itu melaju ke babak gugur menjadi salah satu kejutan terbesar sepanjang turnamen.

“Saya kira ini tentunya menjadi sebuah kejutan yang luar biasa buat Tanjung Verde yang berstatus debutan tapi mereka mampu bersaing. Bahkan menahan imbang Spanyol dan Uruguay yang merupakan dua tim yang besar di kawasan Eropa dan juga di Amerika Latin,” katanya.

Ia menambahkan, kejutan serupa juga ditunjukkan Paraguay yang berhasil menyingkirkan Jerman melalui adu penalti. “Jadi saya kira memang aspek-aspek kejutan ini yang memang selalu menjadi menarik di setiap gelaran dari Piala Dunia.”

Terkait tersingkirnya Jerman dan Belanda, Juprianto menilai hasil tersebut lebih disebabkan menurunnya kualitas permainan kedua tim. Menurutnya, baik Jerman maupun Belanda belum mampu menampilkan performa terbaiknya sepanjang turnamen.

“Kekalahan Jerman lewat adu penalti ini buktikan bahwa ada penurunan kualitas saya kira dari sepak bola Jerman. Padahal kita lihat bagaimana para pemain mereka sangat-sangat luar biasa, Florian Writz, Jamal Musiala juga Kai Havertz,” ujarnya.

Mengenai Belanda, menurut dia, pelatih meninggalkan identitas permainan yang selama ini menjadi ciri khas mereka. Belanda yang biasanya mengandalkan permainan menyerang justru memilih tampil lebih bertahan saat menghadapi Maroko.

“Belanda kita lihat performanya bisa dikatakan sangat-sangat mengecewakan. Bukan hanya soal bagaimana mereka tersingkir tapi pendekatan taktikal yang dipilih oleh pelatih, Ronald Koeman,” katanya.

Sementara itu, penampilan Kylian Mbappé juga mendapat perhatian khusus dari Juprianto. Ia menilai penyerang Prancis tersebut sedang berada pada periode terbaik dalam kariernya dan memiliki peluang besar untuk memecahkan rekor.

"Dengan usianya yang masih 27 tahun, peluang Mbappé sangat terbuka. Dia masih bisa tampil di beberapa edisi Piala Dunia berikutnya, sehingga sangat mungkin memecahkan rekor gol yang ada saat ini," katanya.

Menutup analisanya, Juprianto meyakini kejutan-kejutan masih akan terus terjadi hingga fase-fase akhir turnamen. Ia menilai tim-tim yang selama ini tidak diunggulkan semakin mampu bersaing berkat organisasi permainan yang disiplin dan strategi yang tepat.

"Tim-tim yang kualitasnya berada di bawah mampu memaksa tim-tim besar bekerja lebih keras. Itulah yang membuat setiap pertandingan di Piala Dunia selalu menarik untuk disaksikan," ucap Juprianto.

RRI.CO.ID juga meminta pandangan dari pegiat komunitas sepak bola, Rubensius Silalahi. Menurutnya, berbagai fenomena yang muncul sepanjang Piala Dunia 2026 menjadi ruang pertemuan berbagai budaya, nilai, dan kepentingan dari berbagai negara.

Ruben menilai parade Pride Month di Seattle maupun isu perdukunan yang muncul merupakan bagian yang hampir tidak bisa dipisahkan. Menurutnya, selama berbagai isu tersebut tidak mengganggu jalannya pertandingan, keberadaannya justru menjadi warna tersendiri yang membuat turnamen ini menarik.

"Terpenting adalah bagaimana FIFA mampu menyeimbangkan perbedaan-perbedaan itu. Selama tidak mengganggu jalannya pertandingan, saya melihat fenomena di luar lapangan menjadi bagian dari daya tarik Piala Dunia," ujar Ruben kepada RRI.CO.ID, Jumat, 3 Juli 2026.

Senada dengan Juprianto, Ruben juga menilai keberhasilan Tanjung Verde melaju ke babak gugur bukan sekadar kejutan sesaat. Menurut dia, kemunculan tim nonunggulan yang mampu bersaing dengan negara-negara besar sudah menjadi tren dalam beberapa edisi Piala Dunia.

Ia mencontohkan kiprah Senegal pada Piala Dunia 2002, Kosta Rika pada 2014, hingga Maroko yang menembus semifinal pada 2022. Perkembangan kualitas pemain hingga banyaknya pemain dari negara kecil yang berkarier di liga-liga elite Eropa membuat jarak kualitas semakin tipis.

"Format Piala Dunia kan sekarang diikuti 48 negara dan memang membuka peluang lebih besar bagi tim nonunggulan tentunya. Namun peluang aja tidak cukup menurut saya, karena tetap membutuhkan kualitas, organisasi permainan, dan konsistensi sepanjang turnamen," katanya.

Ruben juga melihat tersingkirnya Jerman dan Belanda menjadi bukti bahwa dominasi negara-negara besar kini semakin sulit dipertahankan. Menurutnya, kegagalan Jerman dalam tiga edisi Piala Dunia terakhir menunjukkan adanya persoalan yang lebih mendasar dibanding sekadar hasil satu pertandingan.

Sementara itu, ia menilai kekalahan Belanda tidak lepas dari kualitas Maroko yang terus berkembang sejak menembus semifinal Piala Dunia 2022. Baginya, nama besar sebuah negara kini tidak lagi menjadi jaminan untuk melangkah jauh di Piala Dunia.

"Sepak bola dunia semakin kompetitif ya, banyak negara berkembang dari sisi pembinaan pemain, kualitas pelatih, sport science, hingga pengalaman pemain di liga-liga top Eropa. Akibatnya, selisih kualitas antarnegara semakin tipis dan tiap tim yang tampil kini memiliki peluang lebih besar menciptakan kejutan," ucapnya.

Mengenai keberhasilan Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko ke babak 16 besar, Ruben menilai status sebagai tuan rumah memang memberikan keuntungan tersendiri. Namun, ia mengingatkan bahwa AS dan Meksiko memang telah memiliki fondasi yang kuat dalam beberapa dekade terakhir.

Sementara itu, penampilan Kylian Mbappé dinilai semakin mengukuhkan statusnya sebagai salah satu pemain terbaik dalam sejarah Piala Dunia. Ia mengatakan, peluang kapten Prancis tersebut untuk memecahkan rekor masih sangat terbuka.

"Kalau ditanya apakah Mbappé sudah menjadi salah satu pemain terbaik dalam sejarah Piala Dunia, menurut saya jawabannya iya. Yang mungkin tinggal melengkapi warisannya adalah membawa Prancis kembali menjadi juara dunia," ucapnya.

Menutup analisanya, Ruben menilai Piala Dunia 2026 sejauh ini menjadi salah satu edisi yang paling sulit diprediksi. Format baru dengan 48 peserta membuat persaingan semakin terbuka sehingga setiap pertandingan selalu berpotensi menghadirkan kejutan baru.

"Hierarki lama mulai luntur, tim-tim nonunggulan benar-benar mampu bersaing. Sementara tim besar tidak lagi memiliki ruang untuk melakukan banyak kesalahan, Itulah yang membuat Piala Dunia 2026 terasa semakin menarik diikuti," kata Ruben.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....