Presiden Prabowo Ungkap Danantara Hasilkan Devisa USD10,5 Miliar dalam 1,5 Bulan
- 20 Jul 2026 22:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- PT Danantara Sumberdaya Indonesia telah mengelola devisa lebih dari USD 10,5 miliar dalam waktu 1,5 bulan sejak operasionalnya.
- Presiden Prabowo menyatakan capaian tersebut membuktikan kebijakan ekspor satu pintu mulai memberikan hasil nyata dan terukur.
- Pengumuman ini disampaikan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara pada Senin, 20 Juli 2026.
RRI.CO.ID, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) telah mengelola devisa lebih dari 10,5 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dalam waktu sekitar satu 1,5 bulan. Presiden menilai capaian tersebut menunjukkan kebijakan ekspor satu pintu mulai memberikan hasil nyata.
"Saya dapat laporan dari saudara Rosan, CEO Danantara. Bahwa baru satu bulan dua minggu bekerja, PT DSI sudah mengelola devisa sebesar lebih dari USD10,5 miliar dalam satu bulan dua minggu," ujar Presiden saat memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin, 20 Juli 2026.
Presiden menjelaskan pemerintah mulai menerapkan kebijakan ekspor satu pintu sejak 1 Juni 2026 melalui DSI. Kebijakan tersebut mencakup ekspor komoditas strategis seperti batu bara, minyak kelapa sawit (CPO), dan mineral kritis.
Kebijakan tersebut dirancang untuk menutup berbagai celah praktik kecurangan ekspor. Di antaranya praktik under invoicing yang selama ini dinilai merugikan penerimaan negara.
Presiden mengatakan masa transisi kebijakan berlangsung hingga 1 September 2026. Selama periode itu, eksportir masih dapat menjalankan kegiatan ekspor, namun wajib melaporkan seluruh transaksi melalui sistem DSI.
Presiden mengungkapkan penerapan DSI mulai memperkecil selisih harga komoditas Indonesia dengan harga internasional. Kondisi itu dinilai berdampak positif terhadap peningkatan penerimaan devisa negara.
"Data yang masuk menunjukkan, sebelum ada PT DSI, perbedaan harga jual di Indonesia dengan harga internasional minimal 30 persen, bahkan mendekati 40-45 persen. Begitu ada PT DSI, harganya sudah hampir menyatu," kata Presiden.
Presiden menegaskan pemerintah akan bertindak tegas terhadap praktik-praktik yang merugikan negara. Pesiden mencontohkan ekspor CPO yang sebelumnya dijual jauh di bawah harga pasar internasional sehingga mengurangi potensi penerimaan Indonesia.
"Siapa yang menikmati selisihnya? Hampir 50 persen, permainan seperti inilah yang menusuk hati kita," ujar Presiden.
Presiden juga menyampaikan kebijakan pembentukan DSI mendapat apresiasi dari lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings. Menurut Presiden, S&P menilai kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan penerimaan negara sekaligus menjaga defisit fiskal tetap terkendali.
"S&P sendiri sudah menyampaikan bahwa pembentukan PT DSI adalah langkah tepat bagi bangsa Indonesia. Mereka mengatakan kebijakan ini bisa meningkatkan penghasilan atau revenue kita," ujar Presiden.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....