"Perjalanan yang Mengubah Hati" oleh H.Romi Saroji Putra

  • 13 Jul 2026 10:33 WIB
  •  Mataram

Setelah Wapemred RRI Mataram menulis perjalanan haji dalam empat tulisan. Ketua Rombongan IV Kloter 10 Embarkasi Lombok, H.Romi Saroji Putra sangat tertarik dengan tulisan yang sudah dimuat dan Ia menyusun tulisan dalam bentuk essay. Bagi Redaksi, tulisan tersebut mempunyai manfaat bagi calon jemaah haji. yang akan menunaikan ibadah haji dimasa yang akan datang. Berikut adalah tulisan yang disusun setelah menunaikan ibadah Haji :

Haji Nasrudin adalah seorang jurnaris senior yang bekerja di RRI NTB (Sebagai Contoh) . Selama lebih dari Empat belas tahun, ia menyisihkan sebagian penghasilannya sedikit demi sedikit untuk mewujudkan impian menjadi tamu Allah di Tanah Suci. Setiap kali menerima gaji, ia selalu berkata kepada istrinya, "Ini bukan sekadar tabungan, tetapi undangan menuju Baitullah." Kesabaran dan keikhlasannya akhirnya berbuah ketika namanya masuk dalam daftar keberangkatan haji.

Tahap Pertama: Niat yang Tulus

Sebelum berangkat, Pak Haji Nasrudin meminta maaf kepada kedua orang tuanya, keluarga, tetangga, dan murid-muridnya. Ia menyadari bahwa perjalanan haji bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan hati. Ia ingin menghadap Allah dengan hati yang bersih dari dendam, iri, dan kesalahan kepada sesama.

Saat mengenakan pakaian ihram, ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dua lembar kain putih tanpa jahitan mengingatkannya bahwa semua manusia sama di hadapan Allah. Tidak ada lagi perbedaan antara kaya dan miskin, pejabat maupun rakyat biasa. Yang membedakan hanyalah ketakwaan.

Tahap Kedua: Talbiyah yang Menggetarkan Jiwa

Di dalam pesawat dan sepanjang perjalanan menuju Makkah, gema talbiyah terus berkumandang:

"Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaika Laa Syariika Laka Labbaik. Innal Hamda Wan Ni'mata Laka Wal Mulk, Laa Syariika Lak."

Pak Haji Nasridun menitikkan air mata. Ia merasa sedang memenuhi panggilan Allah yang selama ini hanya ia dengar dari cerita para jamaah haji. Kini, ia sendiri menjadi bagian dari jutaan manusia yang menjawab panggilan tersebut.

Dalam hatinya ia berkata, "Ya Allah, Engkau benar-benar memanggilku. Aku datang bukan karena kekayaanku, tetapi karena rahmat-Mu."

Tahap Ketiga: Pertemuan Pertama dengan Ka'bah

Sesampainya di Masjidil Haram, Pak Haji Nasrudin melihat Ka'bah untuk pertama kalinya. Kakinya seakan berhenti melangkah, air matanya mengalir tanpa mampu dibendung. Semua doa yang pernah ia panjatkan seolah kembali teringat.

Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk mengejar dunia, padahal kebahagiaan sejati adalah ketika hati dekat dengan Allah.

Di depan Ka'bah, ia berdoa:

"Ya Allah, jangan biarkan aku pulang dengan hati yang sama seperti saat aku datang."

Tahap Keempat: Tawaf Mengelilingi Ka'bah

Saat mengelilingi Ka'bah tujuh kali, Pak Haji Nasrudin merenungkan bahwa hidup manusia juga berputar mengelilingi pusat penghambaan kepada Allah. Semua aktivitas, pekerjaan, keluarga, dan cita-cita seharusnya bermuara kepada ibadah.

Ia melihat jutaan manusia dengan warna kulit dan bahasa yang berbeda, namun semuanya bergerak dalam satu arah. Ia memahami bahwa Islam mengajarkan persaudaraan universal tanpa membedakan bangsa, ras, maupun status sosial.

Tahap Kelima: Sa'i antara Shafa dan Marwah

Ketika berjalan dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah, Pak Nasrudin mengingat perjuangan Siti Hajar yang berlari mencari air untuk putranya, Ismail.

Ia menyadari bahwa pertolongan Allah sering kali datang setelah manusia berusaha dengan sungguh-sungguh. Air Zamzam tidak muncul sebelum Hajar berikhtiar.

Pelajaran yang ia ambil adalah:

  • jangan pernah putus asa,
  • teruslah berusaha,
  • kemudian bertawakallah kepada Allah.

Tahap Keenam: Wukuf di Arafah

Hari Arafah menjadi puncak perjalanan spiritualnya.

Di Padang Arafah, jutaan manusia berdiri dengan pakaian yang sama, memohon ampunan kepada Allah. Tidak ada kebanggaan terhadap jabatan, harta, maupun keturunan.

Pak Haji Nasrudin merasa seolah sedang berada di Padang Mahsyar.

Ia mengingat semua dosa yang pernah dilakukan, baik yang disengaja maupun tidak. Dengan air mata yang terus mengalir, ia beristighfar dan memohon agar Allah mengampuni seluruh kesalahannya.

Saat itulah ia benar-benar merasakan makna firman Allah bahwa rahmat-Nya lebih luas daripada dosa hamba-Nya yang bertobat.

Tahap Ketujuh: Melontar Jumrah

Ketika melempar jumrah di Mina, Pak Haji Nasrudin menyadari bahwa setan bukan hanya berada di luar dirinya, tetapi juga ada dalam hawa nafsu yang sering mengajak kepada kesombongan, kemalasan, dan kemaksiatan.

Setiap lemparan batu menjadi simbol tekadnya untuk meninggalkan sifat-sifat buruk:

  • kesombongan,
  • iri hati,
  • kebencian,
  • kemarahan,
  • cinta dunia yang berlebihan.

Ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik setelah kembali ke tanah air.

Tahap Kedelapan: Hikmah Kurban

Pada hari Iduladha, Pak Haji Nasrudin kembali mengingat kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Ia memahami bahwa kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi tentang menyembelih ego, keserakahan, dan kecintaan yang berlebihan kepada dunia.

Ia bertanya kepada dirinya sendiri:

"Apa yang harus aku kurbankan agar lebih dekat kepada Allah?"

Jawabannya adalah kesombongan, kemalasan, dan sifat egois yang masih ada dalam dirinya.

Kepulangan yang Berbeda

Setelah seluruh rangkaian ibadah selesai, Pak Ahmad Haji Nasrudin ke Indonesia. Secara fisik ia memang sama, tetapi hatinya telah berubah.

Ia menjadi lebih sabar, lebih ringan membantu sesama, lebih tekun beribadah, dan lebih bersyukur atas nikmat Allah.

Suatu hari, seorang murid bertanya:

"Pak haji, apa oleh-oleh terbaik dari haji?"

Pak Nasrudin tersenyum sambil menjawab,

"Oleh-oleh terbaik dari haji bukanlah air Zamzam, kurma, atau sajadah. Oleh-oleh terbaik adalah hati yang lebih dekat kepada Allah, akhlak yang lebih baik, serta tekad untuk terus menjadi hamba yang bertakwa."

Hikmah Spiritual Perjalanan Haji

  1. Haji adalah perjalanan menuju penyucian hati, bukan sekadar perjalanan fisik.
  2. Ihram mengajarkan kesederhanaan, kesetaraan, dan kerendahan hati.
  3. Tawaf mengingatkan bahwa Allah harus menjadi pusat kehidupan.
  4. Sa'i mengajarkan pentingnya ikhtiar yang disertai tawakal.
  5. Wukuf di Arafah menjadi momentum muhasabah dan taubat yang mendalam.
  6. Melontar jumrah melambangkan perjuangan melawan hawa nafsu dan godaan setan.
  7. Kurban mengajarkan keikhlasan dalam berkorban demi ketaatan kepada Allah.
  8. Haji yang mabrur tercermin dari perubahan akhlak, kepedulian sosial, dan peningkatan ketakwaan setelah kembali ke tanah air.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

"Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga."

(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Cerita ini mengajarkan bahwa perjalanan haji bukan sekadar memenuhi rukun Islam kelima, melainkan sebuah perjalanan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbaiki hubungan dengan sesama manusia, dan kembali dengan hati yang lebih bersih, ikhlas, serta penuh ketakwaan

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....