Kemenko PM Lepas 41 PMI Terampil ke Korea Selatan, Perkuat Program SMK Go Global
- 06 Jul 2026 20:13 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Bekasi – Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) menegaskan komitmennya memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang prosedural, aman, dan terlindungi melalui Program SMK Go Global. Komitmen tersebut ditandai dengan pelepasan 41 PMI terampil sektor pengelasan (welder) ke Republik Korea di Grand Caman Hotel, Jatibening, Bekasi, Senin 6 Juli 2026.
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, melalui Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu sekaligus Wakil Ketua III Satuan Tugas Percepatan SMK Go Global, Prof. Dr. rer. nat. Abdul Haris, menegaskan bahwa penempatan PMI ke luar negeri merupakan bagian dari strategi nasional untuk mengurangi pengangguran sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Penempatan pekerja migran Indonesia harus berlangsung secara prosedural, aman, dan terlindungi, sekaligus menjadi bagian dari strategi nasional pengentasan pengangguran dan penguatan kesejahteraan masyarakat," ujar Abdul Haris saat membacakan sambutan Menko PM.
Sebanyak 41 PMI yang diberangkatkan merupakan hasil pembinaan dan pelatihan melalui kolaborasi Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Serang, LPKS Shankara, serta PT Della Fadhil Anugrah sebagai Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI). Mereka akan bekerja di HD Hyundai Samho Co., Ltd. di Republik Korea.
Menurut Kemenko PM, program tersebut menjadi contoh keberhasilan sinergi pemerintah, lembaga pelatihan, dan dunia industri dalam membangun jalur yang terintegrasi, mulai dari pelatihan hingga penempatan kerja internasional bagi tenaga kerja Indonesia.
Pemerintah menilai langkah ini semakin penting di tengah tantangan ketenagakerjaan nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2026, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional mencapai 4,68 persen atau sekitar 7,24 juta orang dari total angkatan kerja sebanyak 154,91 juta orang.
Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi, yakni 7,74 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan lulusan SMA sebesar 6,23 persen maupun perguruan tinggi sebesar 6,13 persen. Kondisi ini menunjukkan masih adanya kesenjangan antara kompetensi lulusan pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia industri.
Di sisi lain, peluang kerja di luar negeri masih terbuka lebar. Data Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) per April 2026 mencatat terdapat lebih dari 260 ribu lowongan kerja luar negeri yang telah teridentifikasi. Namun, baru sekitar 64 ribu posisi atau sekitar 20 persen yang berhasil diisi oleh pekerja Indonesia.
Kebutuhan tenaga kerja terampil, khususnya di sektor pengelasan (welder) dan perawatan lansia (caregiver), masih tinggi di sejumlah negara maju yang mengalami keterbatasan tenaga kerja domestik.
Program SMK Go Global merupakan salah satu program prioritas (quick win) yang dijalankan atas arahan Presiden Prabowo Subianto melalui sinergi Kemenko PM bersama KP2MI/BP2MI dan berbagai pemangku kepentingan. Program ini menargetkan penempatan 500 ribu tenaga kerja terampil ke luar negeri, terdiri atas 300 ribu lulusan SMK dan 200 ribu peserta umum.
Pada 2026, pemerintah menargetkan penempatan 40 ribu PMI terampil. Sebelumnya, pada akhir 2025 telah dilakukan uji coba penempatan 200 pekerja terampil ke Jepang.
Kemenko PM berharap keberhasilan pemberangkatan 41 PMI terampil ke Korea Selatan dapat menjadi model kolaborasi yang diperluas di berbagai daerah. Sinergi antara pemerintah, lembaga pelatihan, dan dunia usaha dinilai menjadi kunci dalam memperkuat perlindungan pekerja migran sekaligus memanfaatkan peluang pasar kerja global untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....