Wamendikdasmen Sebut Nilai Rapor Tinggi Tak Jamin Kemampuan Bahasa Siswa

  • 08 Mei 2026 20:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Wamendikdasmen Atip Latipulhayat menyoroti pola pembelajaran bahasa Inggris di sekolah.
  • Wamendikdasmen Atip Latipulhayat mengatakan, nilai tinggi rapor belum menjamin kemampuan komunikasi siswa.

RRI.CO.ID, Bandung - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menyoroti pola pembelajaran bahasa Inggris di sekolah. Menurutnya, nilai tinggi rapor belum menjamin kemampuan komunikasi siswa.

Untuk itu, ia meminta guru mengutamakan praktik percakapan dibanding hafalan teori semata. Menurutnya, bahasa harus dipakai sebagai alat komunikasi sehari-hari.

“Tidak ada gunanya nilai sembilan di rapor bahasa Inggris. Tetapi, murid tidak memahami percakapan ketika diajak berbicara,” kata Atip dalam peluncuran Program Pengembangan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI) di Bandung, Jawa Barat, Jumat, 8 Mei 2026.

Ia mengingatkan, bahasa Inggris tidak cukup diperlakukan sebagai mata pelajaran sekolah. Murid harus dibiasakan berbicara sejak proses belajar berlangsung.

Atip mengaku pernah mengalami kesulitan berbicara bahasa Inggris saat sekolah. Padahal, pelajaran bahasa Inggris dipelajarinya sejak SMP hingga SMA.

Menurutnya, kemampuan membaca lebih berkembang dibanding kemampuan berbicara dan mendengar. Rasa takut salah menjadi hambatan utama saat menggunakan bahasa Inggris.

“Selama sekolah, saya hanya berani membaca saja. Listening dan speaking saya masih sangat lemah ketika itu,” ujarnya.

Keberanian berbicara mulai tumbuh setelah mengikuti persiapan studi ke Australia. Pengalaman berinteraksi dengan pengajar asing membuatnya lebih percaya diri.

Atip menilai kemampuan komunikasi lebih penting dibanding kesempurnaan tata bahasa. Murid seharusnya didorong berani berbicara tanpa takut melakukan kesalahan.

“Yang penting lawan bicara memahami maksud kita. Keberanian berbicara harus dilatih sejak sekolah dasar,” ucap Atip.

Karena itu, guru peserta pelatihan PKGSD-MBI diminta aktif berdialog menggunakan bahasa Inggris. Pembiasaan percakapan dinilai mempercepat kemampuan komunikasi siswa.

Menurut Atip, pembelajaran komunikatif membuat murid lebih terbiasa menggunakan bahasa asing. Perasaan terpaksa perlahan berubah menjadi kebiasaan dalam proses belajar.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sedang menyiapkan peta jalan pelatihan guru bahasa Inggris di Sekolah Dasar (SD). Program itu ditargetkan berjalan penuh hingga 2029.

Direktur Jenderal GTK Kemendikdasmen, Nunuk Suryani mengatakan, pemerintah menginginkan seluruh SD memiliki guru pengajar bahasa Inggris di kelas tiga. Menurutnya, target tersebut disiapkan guna mendukung kebijakan wajib bahasa Inggris mulai 2027.

Meski demikian, ia mengakui kekurangan guru masih menjadi persoalan utama. Hal itu, lantaran mayoritas sekolah dasar belum memiliki tenaga pengajar berlatar belakang bahasa Inggris.

“Lebih dari 90 ribu SD belum memiliki guru bahasa Inggris. Kondisi itu menjadi tantangan implementasi kebijakan nasional,” ujar Nunuk.

Kemendikdasmen mencatat sekitar 150 ribu sekolah dasar tersebar di Indonesia. Sekitar 60 persen di antaranya belum memiliki guru dengan kompetensi bahasa Inggris.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....