Guru Peserta Pelatihan Bahasa Inggris Mulai Mengajar di Kelas 3 SD
- 08 Mei 2026 20:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kemendikdasmen akan menerapkan wajib bahasa Inggris di SD bertahap pada tahun ajaran 2027/2028.
- Pelajaran bahasa Inggris akan diajarkan khusus kepada siswa kelas tiga SD terlebih dahulu.
RRI.CO.ID, Bandung - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) akan menerapkan wajib bahasa Inggris di SD. Kebijakan itu dimulai bertahap pada tahun ajaran 2027/2028.
Pelajaran bahasa Inggris akan diajarkan khusus kepada siswa kelas tiga SD terlebih dahulu. Pemerintah menilai tahap awal penting untuk menyesuaikan kesiapan sekolah.
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikdasmen, Nunuk Suryani mengatakan, kesiapan guru menjadi perhatian utama pemerintah. Menurutnya, banyak sekolah belum memiliki tenaga pengajar bahasa Inggris memadai.
“Bahasa Inggris mulai diterapkan dari kelas tiga SD terlebih dahulu. Kesiapan guru sangat menentukan keberhasilan kebijakan tersebut,” kata Nunuk dalam peluncuran Program Pengembangan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI) di Bandung, Jawa Barat, Jumat, 8 Mei 2026.
Kemendikdasmen mencatat sekitar 90 ribu SD belum memiliki guru bahasa Inggris. Jumlah itu mencapai lebih 60 persen sekolah dasar nasional.
Pemerintah menilai penguatan bahasa Inggris penting menghadapi kebutuhan pendidikan dan komunikasi global. Karena itu, pembelajaran dimulai sejak usia sekolah dasar.
Sebanyak 58.896 sekolah ditargetkan menerapkan kebijakan tersebut pada tahap pertama. Jumlah itu sekitar 30 persen dari seluruh SD di Indonesia.
Untuk mendukung kebijakan, pemerintah meluncurkan program pelatihan guru PKGSD-MBI. Pelatihan disiapkan khusus bagi guru pengajar kelas tiga SD.
Sebanyak 5.777 guru dari berbagai daerah mengikuti pelatihan tahap awal nasional. Mereka dipersiapkan mengajar bahasa Inggris mulai dari tingkat dasar.
“Peserta pelatihan nantinya dipetakan mengajar kelas tiga SD. Kami berkoordinasi dengan dinas pendidikan daerah,” ujar Nunuk.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat meminta guru aktif berdialog menggunakan bahasa Inggris. Pembelajaran dinilai tidak cukup hanya berfokus pada teori dan nilai.
Menurutnya, bahasa harus dipakai sebagai alat komunikasi sehari-hari. Guru diminta membiasakan percakapan bahasa Inggris selama proses belajar berlangsung.
“Guru harus berdialog menggunakan bahasa Inggris bersama murid. Dengan begitu, siswa lebih terbiasa memahami percakapan,” kata Atip.
Ia mengatakan, nilai rapor tinggi tidak selalu mencerminkan kemampuan berbahasa murid. Pembelajaran dianggap berhasil ketika siswa mampu memahami dan merespons percakapan bahasa Inggris.
Program pelatihan dirancang praktis dengan pendekatan pembelajaran aplikatif dan bertahap. Guru diharapkan langsung menerapkan materi setelah menyelesaikan pelatihan.
Kemendikdasmen berharap penerapan bertahap mempermudah sekolah beradaptasi dengan kebijakan baru. Pemerintah juga menargetkan pemerataan kemampuan bahasa Inggris siswa SD nasional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....