Mentan Dorong Riset Pertanian Mahasiswa
- 21 Apr 2026 07:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Mentan Andi Amran Sulaiman dorong riset pertanian mahasiswa berbasis kebutuhan lapangan
- Inovasi kampus harus aplikatif dan bisa dimanfaatkan langsung
- Contoh inovasi: traktor listrik ITS yang lebih hemat dan tanpa BBM
- Pengembangan energi alternatif seperti biofuel dan bensin sawit terus didorong
- Kolaborasi kampus dan pemerintah jadi kunci inovasi pertanian
RRI.CO.ID, Surabaya - Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mendorong mahasiswa memperkuat riset dan inovasi di sektor pertanian. Riset diminta menjawab kebutuhan nyata di lapangan.
Ia mengatakan riset kampus tidak boleh berhenti pada kajian akademik. Inovasi harus dapat dimanfaatkan langsung oleh pemerintah dan masyarakat.
“Setiap kami butuh teknologi baru, langsung dibuat. Ini traktor buatan ITS kami uji coba,” ucapnya usai wisuda Institut Teknologi Sepuluh November, Minggu 19 April 2026.
Menurutnya, teknologi yang dikembangkan kampus memiliki keunggulan dari sisi efisiensi. Traktor listrik dinilai lebih hemat dan tidak bergantung pada bahan bakar fosil.
“Harganya separuh dari yang biasa, tidak pakai solar, tetapi listrik,” katanya.
Selain itu, ia menyoroti pengembangan energi alternatif berbasis sawit. Salah satunya pengembangan bensin sawit yang akan dikerjasamakan dengan PTPN IV.
“Kita buat dulu skala kecil. Kalau berhasil kita kembangkan lebih besar,” ucapnya.
Ia menegaskan riset pertanian penting untuk menghadapi krisis global. Dunia saat ini dihadapkan pada krisis pangan, energi, dan air.
“Kondisi global ada tiga krisis. Pangan, energi, dan air,” ucapnya.
Menurutnya, kondisi pangan nasional saat ini dalam keadaan aman. Stok cadangan beras disebut mencapai 4,9 juta ton dan terus meningkat.
“Stok kita tertinggi sepanjang Republik ini. Insyaallah segera 5 juta ton,” katanya.
Di sektor energi, pemerintah mendorong pemanfaatan biofuel dari CPO. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor solar.
“Insyaallah 1 Juli kita stop impor solar. Dialihkan ke biofuel,” ucapnya.
Ia mengajak mahasiswa berperan aktif dalam pembangunan nasional. Kolaborasi dinilai penting untuk mendorong inovasi di sektor pertanian.
Sementara itu, Rektor ITS Bambang Pramujati mengatakan riset mahasiswa harus menghasilkan produk nyata. Inovasi diharapkan tidak berhenti pada penelitian di atas kertas.
“Penelitian tidak boleh berhenti di paper. Harus ada produk yang bisa dimanfaatkan,” ucapnya.
Ia menambahkan kolaborasi dengan pemerintah terus diperkuat. Langkah ini untuk memastikan riset sesuai kebutuhan di lapangan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....