DPR: Keterbatasan Dataran Tinggi Jadi Kendala Produksi Susu

  • 05 Feb 2026 20:07 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Cikarang - Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia Chalim mengatakan keterbatasan lahan dingin menghambat produksi susu. Chusnunia menilai Indonesia memiliki selisih yang sangat besar antara angka permintaan dengan kemampuan produksi nasional.

Sapi perah memerlukan kondisi iklim tertentu agar dapat menghasilkan air susu secara lebih maksimal setiap hari. Pemerintah perlu mencari terobosan baru untuk mengatasi kendala geografis yang saat ini sedang dihadapi para peternak.

“Susu sapi perah saat ini dapat diproduksi secara maksimal pada suhu 15 hingga 16 derajat. Kondisi tersebut umumnya terdapat di wilayah bersuhu dingin,” ujar Chusnunia saat melakukan kunjungan kerja ke PT Frisian Flag Indonesia di Cikarang, Kamis, 5 Februari 2026.

Politisi yang akrab disapa Nunik tersebut menjelaskan bahwa jumlah petani di wilayah dataran tinggi sangat terbatas. Kondisi lingkungan yang sejuk menjadi syarat mutlak bagi keberlangsungan hidup sapi perah jenis tertentu saat ini.

Keterbatasan lahan dingin di tanah air menjadi tantangan besar bagi penyediaan bahan baku industri pengolahan susu. Indonesia harus segera beradaptasi dengan kondisi alam yang cenderung memiliki suhu udara yang cukup panas.

“Di wilayah bersuhu dingin, ketersediaan lahan masih terbatas. Jumlah petani di daerah tersebut juga terbatas,” kata Nunik.

DPR mendorong pemanfaatan teknologi pendingin buatan guna mengoptimalkan produksi di wilayah dataran rendah. Penggunaan sistem kipas besar atau blower menjadi salah satu opsi untuk menyesuaikan suhu lingkungan kandang sapi.

Pemerintah juga berencana mendatangkan jenis sapi khusus yang lebih tahan terhadap cuaca panas di daerah tropis. Langkah ini dipandang sebagai solusi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan pangan sektor susu nasional secara mandiri.

“Salah satu yang jadi usulan kita adalah kita dengar ada susu yang bisa diberdayakan di tempat yang rendah. Kita dengar Presiden Prabowo akan mendatangkannya, kita tunggu itu,” kata Nunik.

Nunik memberikan contoh nyata keberhasilan peternakan sapi di wilayah Lampung Tengah yang berada pada dataran rendah. Perusahaan di daerah tersebut terbukti mampu melakukan penyesuaian teknis guna menjaga produktivitas ternak mereka tetap stabil.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika merespons kebutuhan tersebut. Putu menjelaskan bahwa pemerintah sedang berupaya meningkatkan kualitas hasil perah melalui bantuan teknologi dan investasi.

Kementerian Perindustrian memberikan insentif berupa pengembalian dana sebesar 35 persen bagi penggunaan mesin lokal. Selain itu pemerintah memberikan diskon bunga bank sebanyak 5 persen guna membantu likuiditas usaha peternak.

"Dari sisi pemerintah, langkah pertama adalah menjaga dan meningkatkan kualitas susu yang dihasilkan peternak dan koperasi. Peningkatan tersebut diperlukan agar susu memenuhi spesifikasi untuk diproses lebih lanjut di industri," ujar Putu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....