Zikir Dinilai Dapat Membantu Mengurangi Overthinking & Kecemasan

  • 15 Jul 2026 11:16 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, Tolitoli - Overthinking merupakan kecenderungan seseorang untuk memikirkan masalah atau pengalaman negatif secara berulang sehingga sulit menemukan solusi yang produktif. Kebiasaan ini dapat memicu stres, kecemasan, serta memengaruhi kesehatan mental apabila berlangsung dalam jangka waktu yang lama.

Dalam pandangan Islam, overthinking kerap dikaitkan dengan munculnya rasa khawatir dan takut yang berlebihan. Karena itu, selain pendekatan psikologis, pendekatan spiritual juga dinilai dapat membantu seseorang mengelola pikiran dan emosinya.

Dikutip dari Jurnal Ilmiah Psikologi dan Kesehatan Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat tahun 2024, salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan memperbanyak zikir. Zikir merupakan ibadah kepada Allah SWT dengan menyebut dan mengagungkan nama-Nya sebagai bentuk mengingat serta mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa zikir membantu mengarahkan fokus pikiran kepada Allah SWT sehingga dapat memberikan dorongan spiritual yang memperkuat daya tahan mental. Selain itu, praktik zikir disebut dapat membantu tubuh menjadi lebih rileks, memberikan rasa tenang, serta mendukung kesehatan saraf dan daya tahan tubuh melalui respons relaksasi yang ditimbulkannya.

Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa zikir dapat menjadi salah satu terapi pendukung melalui pendekatan psikoreligius dalam mengatasi gangguan mental ringan apabila dilakukan dengan khusyuk dan ikhlas. Pendekatan ini dinilai mampu membantu mengurangi kecemasan, menurunkan tingkat stres, serta mendorong seseorang memiliki sikap yang lebih positif dan optimistis dalam menjalani kehidupan.

Meski demikian, zikir bukanlah pengganti penanganan medis atau psikologis bagi gangguan kesehatan mental yang berat. Apabila overthinking, kecemasan, atau gejala lain telah berlangsung lama dan mengganggu aktivitas sehari-hari, masyarakat tetap dianjurkan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan agar memperoleh penanganan yang tepat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....