Jenis Partikel Halus Udara Penyebab Gangguan Pernapasan Serius
- 13 Jul 2026 09:07 WIB
- Bukittinggi
Poin Utama
- Partikel Halus Penyebab Masalah Pernafasan
RRI.CO,ID, Bukittinggi - Udara yang tampak bersih belum tentu bebas dari partikel halus yang berbahaya bagi kesehatan. Berbagai jenis partikel mikroskopis dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu gangguan, terutama jika terpapar dalam waktu lama.
Partikel PM2.5 merupakan salah satu polutan udara yang paling berbahaya karena ukurannya sangat kecil, yaitu kurang dari 2,5 mikrometer. Partikel ini mampu menembus hingga ke paru-paru bahkan masuk ke aliran darah sehingga meningkatkan risiko penyakit pernapasan.
Selain PM2.5, terdapat pula partikel PM10 yang memiliki ukuran lebih besar tetapi tetap berbahaya jika terhirup. Paparan PM10 dapat menyebabkan iritasi pada hidung, tenggorokan, serta memperburuk gejala asma dan bronkitis.
Debu jalanan yang berasal dari aktivitas kendaraan, proyek konstruksi, dan tanah kering juga mengandung partikel halus yang mudah beterbangan. Jika terhirup secara terus-menerus, debu ini dapat menimbulkan batuk kronis dan menurunkan fungsi paru-paru.
Asap hasil pembakaran kendaraan bermotor menghasilkan jelaga atau karbon hitam yang berukuran sangat kecil. Partikel tersebut membawa berbagai zat beracun yang dapat memicu peradangan pada saluran pernapasan dan meningkatkan risiko penyakit paru.
Asap kebakaran hutan maupun pembakaran sampah mengandung campuran partikel halus, abu, dan senyawa kimia berbahaya. Kondisi ini sering menyebabkan sesak napas, iritasi mata, serta memperburuk penyakit paru obstruktif kronis pada kelompok rentan.
| Baca juga: Beberapa Manfaat Probiotik untuk Wanita |
Partikel logam berat seperti timbal, nikel, dan kadmium juga dapat ditemukan di udara sekitar kawasan industri. Paparan dalam jangka panjang berpotensi merusak jaringan paru-paru sekaligus meningkatkan risiko gangguan kesehatan lainnya.
Serbuk sari tanaman memang berasal dari alam, tetapi bagi sebagian orang dapat memicu reaksi alergi yang mengganggu pernapasan. Gejala yang muncul meliputi bersin, hidung tersumbat, batuk, hingga sesak napas pada penderita alergi tertentu.
Spora jamur yang beterbangan di udara lembap juga termasuk partikel biologis yang perlu diwaspadai. Menghirup spora dalam jumlah tinggi dapat memicu alergi, infeksi saluran pernapasan, dan memperparah asma pada individu yang sensitif.
Untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan, masyarakat perlu menjaga kualitas udara di lingkungan sekitar serta menggunakan masker saat tingkat polusi tinggi. Selain itu, mengurangi pembakaran terbuka, memperbanyak ruang hijau, dan memantau kualitas udara dapat membantu melindungi kesehatan pernapasan dalam jangka panjang. (MU)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....