Kenali Manfaat dan Risiko Cokelat Bagi Balita sejak Dini
- 30 Jun 2026 05:53 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam -Cokelat menjadi salah satu makanan yang disukai hampir semua kalangan, termasuk anak-anak. Rasanya yang manis dan teksturnya yang lembut sering membuat orang tua tergoda untuk mengenalkan cokelat kepada balita sejak dini. Namun, muncul pertanyaan yang kerap menjadi perhatian, apakah cokelat aman dikonsumsi oleh balita?
Disampaikan dokter ahli gizi, dr.Tika bahwa secara umum, balita boleh mengonsumsi cokelat, tetapi dengan syarat usia anak sudah cukup, jumlahnya terbatas, dan jenis cokelat yang diberikan diperhatikan.
“Pemberian cokelat tidak dilakukan terlalu dini, terutama sebelum usia dua tahun, karena pada masa tersebut anak masih membutuhkan asupan gizi yang lebih difokuskan pada makanan utama yang kaya protein, vitamin, mineral, dan lemak sehat,” Ungakpnya.
Cokelat, khususnya cokelat susu maupun cokelat olahan,dikatakan Tika bahwa umumnya mengandung gula tambahan yang cukup tinggi. Konsumsi gula berlebihan pada balita dapat meningkatkan risiko gigi berlubang, kelebihan berat badan, serta membentuk kebiasaan menyukai makanan manis sejak usia dini.
‘Oleh karena itu, orang tua perlu membatasi porsinya agar tidak menggantikan makanan bergizi yang dibutuhkan anak. Selain gula, cokelat juga mengandung kafein dan teobromin, dua senyawa alami yang berasal dari biji kakao,”tambahnya.
Meski kadarnya relatif rendah ditambahkan Tika dibandingkan kopi, balita lebih sensitif terhadap kedua zat tersebut. Jika dikonsumsi secara berlebihan, anak dapat mengalami gelisah, sulit tidur, atau menjadi lebih aktif dari biasanya.
Pemilihan jenis cokelat juga perlu diperhatikan. Cokelat hitam (dark chocolate) memiliki kandungan kakao lebih tinggi, tetapi juga mengandung lebih banyak kafein dan teobromin dibandingkan cokelat susu. Sebaliknya, cokelat putih tidak mengandung padatan kakao, tetapi umumnya memiliki kadar gula yang lebih tinggi. Karena itu, tidak ada jenis cokelat yang dapat dikatakan paling ideal apabila dikonsumsi secara berlebihan.
Dalam memberikan cokelat kepada balita, ungkap Tika bahwa orang tua sebaiknya menjadikannya sebagai camilan sesekali, bukan makanan yang dikonsumsi setiap hari. Porsi kecil setelah anak mengonsumsi makanan utama lebih disarankan dibandingkan memberikan cokelat saat perut kosong. Setelah makan cokelat, anak juga dianjurkan minum air putih atau menyikat gigi untuk membantu menjaga kesehatan gigi dan mulut.
Orang tua juga perlu memperhatikan kemungkinan alergi terhadap bahan tertentu yang terdapat dalam produk cokelat, seperti susu, kacang, atau kedelai. Jika setelah mengonsumsi cokelat anak mengalami ruam, gatal, muntah, atau sesak napas, segera hentikan konsumsi dan konsultasikan ke dokter.
Secara umum, cokelat bukanlah makanan yang harus dihindari sepenuhnya oleh balita. Dengan memperhatikan usia, frekuensi, porsi, serta memilih produk yang rendah gula dan berkualitas baik, cokelat dapat menjadi bagian dari pola makan yang seimbang. Yang terpenting, orang tua tetap mengutamakan makanan bergizi sebagai sumber nutrisi utama agar pertumbuhan dan perkembangan anak berlangsung secara optimal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....