Peran Orang Tua Menentukan Kebiasaan Anak Menggunakan HP

  • 28 Jun 2026 22:27 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Fenomena anak yang lekat dengan handphone sering dianggap sebagai masalah utama dalam keluarga modern. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, persoalan ini juga mencerminkan perubahan besar dalam pola kehadiran orang tua di rumah.

Banyak anak menghabiskan waktu berjam-jam dengan gawai bukan semata karena kecanduan, tetapi karena tidak adanya alternatif interaksi yang cukup menarik dari lingkungan keluarga. Ketika perhatian orang tua terbagi oleh pekerjaan dan rutinitas, layar menjadi teman yang paling mudah diakses.

Dalam situasi ini, handphone perlahan mengambil peran sebagai sumber hiburan, jawaban, bahkan “teman bicara” bagi anak. Kondisi tersebut tidak terjadi secara instan, melainkan terbentuk dari kebiasaan sehari-hari yang tidak disadari.

Sementara itu, banyak orang tua merasa sudah hadir secara fisik, tetapi belum tentu hadir secara emosional dalam keseharian anak. Interaksi singkat di sela kesibukan sering kali tidak cukup untuk menggantikan kebutuhan komunikasi yang lebih mendalam.

Ketidakhadiran waktu berkualitas ini membuat anak mencari pelarian ke dunia digital yang menawarkan stimulasi cepat dan tanpa batas. Akibatnya, keterikatan pada perangkat tidak hanya soal kebiasaan, tetapi juga soal kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.

Sejalan dengan itu, studi dalam jurnal JAMA Pediatrics menemukan bahwa tingginya paparan screen time pada anak sering berkaitan dengan rendahnya kualitas interaksi orang tua-anak, yang berdampak pada perkembangan emosi dan regulasi perilaku anak (Hinkley et al., 2019). Temuan ini memperkuat bahwa masalah utama bukan hanya pada perangkat, tetapi pada pola interaksi dalam keluarga.

Dalam konteks ini, peran ayah menjadi semakin penting sebagai figur yang tidak hanya hadir sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendamping tumbuh kembang anak. Kehadiran aktif dalam percakapan sederhana atau kegiatan harian dapat menjadi penyeimbang dari dominasi layar.

Pada akhirnya, persoalan utama bukan sekadar membatasi penggunaan handphone pada anak, tetapi bagaimana keluarga membangun kembali ruang waktu bersama yang berkualitas. Ketika orang tua hadir sepenuhnya, kebutuhan anak terhadap layar akan berkurang secara alami. (AS/YPA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....